Usaha Tidak Jelas, Davomas Abadi Terancam Delisting

Rugikan Investor

Rabu, 05/09/2012

NERACA

Jakarta – Menyusul force delistingnya PT Katarina Utama Tbk (RINA) yang akan dilakukan awal Oktober mendatang, kini PT Davomas Abadi Tbk (DAVO) juga terancam bakal di-delisting dari pasar modal. Pasalnya, pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mempertanyakan keberlangsungan usaha PT Davomas Abadi Tbk (DAVO) karena dinilai merugikan pemegang saham.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen mengatakan, Davomas tidak menunjukkan 'going concern' di pasar modal dan kondisi itu dapat merugikan para pemegang sahamnya, “Pada 24 September mendatang dikabarkan Davomas Abadi akan melakukan rapat umum pemegang saham (RUPS). Namun, agenda RUPS belum diinformasikan,”katanya di Jakarta kemarin.

Dia mengatakan, jika emiten itu tidak memiliki itikad baik dalam menjalankan usahanya sebagai perusahaan publik, pihak BEI akan melakukan penghapusan paksa (forced delisting). Jika BEI melakukan "forced delisting", lanjutnya, maka sesuai dengan peraturan, BEI akan memberi waktu 20 hari bagi para pemegang saham akan melakukan transaksi di pasar negosiasi. "Ada proses 20 hari ditransaksikan di pasar negosiasi untuk pembelian saham. Untuk memberikan kesempatan pemilik mayoritas membeli saham minoritas DAVO," katanya.

Minat IPO Masih Ada

Meskipun demikian, Hoesen tetap terus mendorong perusahaan untuk melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) agar mencapai target sebanyak 25 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa.

Bahkan pihaknya, lanjut Hoesen akan mengusahakan tiga perusahaan untuk segera melakukan paparan dalam waktu dekat,”Dengan begitu, target BEI 25 IPO akan bisa tercapai. Paling tidak kita lihat sampai akhir September ini," ujar dia.

Menurut Hoesen, perusahaan yang akan mengajukan IPO pada September ini akan memakai laporan keuangan Juni. Hingga saat ini, pihaknya telah menerima delapan nama perusahaan yang telah mendapat kontrak efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).

Saat ini, tercatat baru sebanyak 14 perusahaan yang telah melakukan IPO, sementara delapan perusahaan telah mengaku siap melaksanakan IPO tahun ini sehingga jumlah emiten sepanjang 2012 baru mencapai 22 perusahaan.

Dukung Delisting RINA

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartanto menyetujui keputusan BEI yang berencana untuk menghapus saham secara paksa PT Davomas Abadi Tbk (DAVO) dan PT Katarina Utama Tbk (RINA).

Dia menuturkan, jika perusahaan tercatat di BEI membahayakan pemegang saham minoritas maka otoritas harus segera mengambil tindakan. "Kasusnya sudah cukup lama, lihat dua tahun terakhir kalau perusahaan itu membahayakan pemegang saham minoritas harus diambil tindakan tegas. DAVO dan RINA sudah bukan anggota AEI lagi. Jadi, sudah sepantasnya mereka 'delisting' dari bursa," ucap dia.

Asal tahu saja, pihak BEI telah memutuskan untuk menghapus pencatatan saham (delisting) PT Katarina Utama Tbk per 1 Oktober 2012. Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Jasa, Umi Kulsum mengatakan, dengan dicabutnya status Perseroan sebagai emiten maka RINA tidak lagi memiliki kewajiban sebagai Perusahaan Tercatat.

Dengan begitu, lanjut dia, Bursa Efek Indonesia akan menghapus nama Perseroan dari daftar Perusahaan Tercatat yang mencatatkan sahamnya di Bursa,"Sehubungan dengan proses penghapusan pencatatan Efek Perseroan, selanjutnya perdagangan Efek di Pasar Negosiasi akan dilakukan selama 20 hari bursa yakni mulai 3-28 September 2012. Setelah itu efektif delisting tanggal 1 Oktober 2012," ungkapnya. (bani)