Garap Proyek PLTU, Bukit Asam Gandeng Investor Cina

Bentuk Perusahaan Patungan

Rabu, 05/09/2012

NERACA

Jakarta– Meskipun permintaan ekspor pasar batu bara dari Cina menurun, dikarenakan pelemahan perekonomian negara tirai bambu tersebut, rupanya tidak mempengaruhi kerjasama keduanya. Bahkan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan membentuk perusahaan patungan (joint venture) dengan China Huadian untuk proyek PLTU Sumatera Selatan 8 berkapasitas 2×620 MW.

Direktur Utama Bukit Asam Milawarma mengatakan, untuk perusahaan patungan tersebut, perseroan memiliki porsi kepemilikan saham sebesar 45% dan Cina Huadian sebesar 55%, “Kami harapkan konstruksinya bisa dimulai bulan depan,” katanya di Jakarta, Selasa (4/9).

Nilai investasi proyek ini mencapai US$ 1,5 miliar, kata Milawarman, sumber pendanaannya sebesar 75% bersumber dari pinjaman perbankan Cina, yaitu Cina Development Bank (CDB). Untuk kas internal, perseroan menyiapkan US$ 375 juta dan sisanya, perseroan siap mencari pinjaman dengan total sekitar US$ 1,12 miliar atau setara Rp 10 triliun.

Kata Milawarman, nantinya kebutuhan batubara di PLTU Sumsel 8 ini, sepenuhnya akan disuplai oleh Bukit Asam sebanyak 5 juta ton per tahun. Sementara itu, terkait kualitas batu bara, pihaknya saat ini tengah meningkatkan kualitas batu bara dari level 5000 ke 6000 keatas. Upaya ini dilakukan seiring adanya penurunan harga batu bara dan penyesuaian kualitas.“Kualitas batu bara perseroan sebelumnya 5000-7000. Kami akan mengurangi kualitas 6000 kebawah, menjadi diatas 6000,” pungkasnya.

Ekspor Ke India

Selaini itu, perseroan optimis dapat meraih target penjualan hingga Rp14 triliun pada 2012. Meskipun harga batu bara kurang kondusif di tahun ini. Maka mensiasatinya, perseroan telah menyiapkan beberapa langkah dengan penurunan permintaan batu bara di China Selatan, “Perseroan akan ekspor batu bara ke India karenakan permintaannya cukup baik,”kata Milawarman.

Selama ini, penjualan perseroan ke domestik sekitar 65% dan 35% untuk ekspor ke Jepang, Malaysia dan China. "Permintaan untuk India meningkat dengan kebutuhan sekitar 600 juta ton. Saat ini kebutuhan dalam negeri sekitar 300-400 juta ton dan sekitar 150 juta ton-200 juta ton harus impor sehingga itu jadi peluang. Kami menjajaki untuk pasar India," ujarnya.

Menurut Milawarma, pasar India memiliki potensi cukup besar. Kemungkinan potensi penjualan batu bara ke India dapat mencapai 1 juta ton. Selain itu, perseroan juga akan meningkatkan ekspor batu bara dengan kalori tinggi sekitar 5.000-7.000."Kami akan meningkatkan volume kualitas tinggi untuk pasar ekspor sehingga pendapatan dan marjin bisa dipertahankan," tutur Milawarma.

Dengan langkah tersebut, perseroan menargetkan pendapatan dan produksi tumbuh 15% pada 2012 dibandingkan 2011. Sebagai informasi, PTBA mencatatkan laba bersih selama semester I-2012 turun tipis 3% dari Rp 1,61 triliun menjadi Rp 1,56 triliun. Penurunan laba bersih perseroan disebabkan karena kenaikan volume produksi dan ongkos transportasi kereta api.

Kinerja Semester I

Milawarma menjelaskan, kinerja perusahaan selama Januari hingga Juni 2012 memang cukup positif. Namun belum bisa diimbangi oleh biaya-biaya yang tidak terduga. "Kinerjanya positif, tapi laba kami turun tipis 3 persen karena volume produksi batu bara tidak sebanding dengan peningkatan ongkos transportasi di kereta api. Sehingga berakibat meningkatnya volume persediaan batu bara,"ungkapnya.

Namun dia enggan menjelaskan besaran kenaikan biaya ongkos produksi dan biaya transportasi tersebut. "Yang jelas lebih besar dari pendapatan yang diterima perusahaan," katanya.

Tapi pada periode yang sama, menurut Milawarma, pendapatan perseroan naik 13% dari Rp 5,11 triliun menjadi Rp 5,79 triliun. Kenaikan pendapatan ini disebabkan karena kontribusi dari volume penjualan batu bara yang meningkat 13% dari 6,54 juta ton menjadi 7,36 juta ton.

Sementara harga jual rata-rata batu bara pada periode yang sama sebesar Rp 785.043 per ton atau lebih tinggi 0,5% dibanding harga jual akhir tahun lalu sebesar Rp 781.228 per ton. Untuk volume produksi, batu bara mencatatkan kenaikan 14 persen dari 6,19 juta ton menjadi 7,08 juta ton. (bani)