Revitalisasi Pabrik Gula, Kemenperin Gelontorkan Rp 154 Miliar

Rabu, 05/09/2012

NERACA

Jakarta - Anggaran sebesar Rp 154 miliar sudah disiapkan oleh Kementerian Perindustrian untuk revitalisasi mesin atau pembelian mesin baru untuk industri gula nasional hingga akhir tahun ini. Rencananya, anggaran sebesar itu akan diberikan kepada perusahaan yang membeli mesin baru.

“Saat ini, ada 5 pabrik gula yang telah menerima bantuan seperti pabrik gula Asem Bagus milik PTPN XI, pabrik gula Mojo Panggong, pabrik gula Krebet, pabrik gula Sragi dan pabrik gula Subang,” kata Direktur Industri Makanan Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Faiz Ahmad, di Jakarta, Selasa.

Untuk pembelian mesin dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) 25% ke atas, menurut Faiz, akan mendapatkan tambahan anggaran sebesar 10%. “Jika pabrik gula membeli mesin baru dari dalam negeri, Kemenperin memberikan alokasi dana sekitar 22,5%. Mesin untuk produksi gula sebagian besar sudah dipenuhi dari dalam negeri, hanya turbin yang masih impor dari India,” paparnya.

Sedangkan wakil ketua komisi VI DPR dari fraksi PDIP, Aria Bima mengatakan, dengan adanya revitalisasi pabrik gula, maka produksi gula bisa meningkat sehingga mampu memenuhi target swasembada gula. Selama ini, Indonesia masih mengimpor gula. “Kami menyayangkan bahwa manajemen pabrik gula terkesan lambat dalam mengajukan dana untuk melakukan revitalisasi,” katanya.

Aria menambahkan, selama ini gairah untuk revitalisasi dari manajemen pabrik gula masih sangat kurang. Seharusnya, pabrik gula bisa lebih proaktif meminta bantuan dari pemerintah. “Sebanyak 51 pabrik gula milik pemerintah belum terjamah revitalisasi. Banyak peralatannya yang masih kuno dan tidak heran jika produksi gula tidak maksimal,” tandasnya.

Revitalisasi Pabrik

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan, mengatakan tahun ini kementeriannya tengah merevitalisasi 12 pabrik gula dari 22 pabrik gula milik PT Perkebunan Nusantara yang kondisinya tidak sehat. "Semoga 10 pabrik lainnya sembuh tahun depan," kata Dahlan Iskan.

Dia menjelaskan, revitalisasi 12 pabrik gula itu diprioritaskan pada perbaikan manajemen. Menurut dia, buruknya manajemen pabrik gula di Indonesia menjadi penyebab utama kebutuhan gula nasional tidak tercukupi. "Persoalannya bukan pada mesin. Dikasih mesin baru, tapi kalau manajemennya jelek, ya, hancur juga," katanya.

Salah satu perbaikan manajemen adalah dengan mengubah peraturan direksi tentang syarat menjadi kepala pabrik gula. Sebelumnya, kata Dahlan, syarat menjadi kepala pabrik gula cukup rumit dan panjang sehingga seseorang baru bisa menjabat kepala pabrik pada usia 50 tahun. "Sekarang usia 20 tahun bisa jadi kepala pabrik sepanjang mampu dan prestasinya bagus," kata bos Jawa Pos Grup ini.

Langkah kedua adalah merebut kepercayaan petani tebu. Sebab, selama ini petani tidak percaya dengan pabrik gula karena dianggap sering melakukan permainan harga. Untuk mengembalikan kepercayaan petani, kata Dahlan, pabrik-pabrik gula saat ini harus memberikan jaminan subsidi kepada petani bila rendemen tebu kurang dari 7 %. Selain itu, penyetoran uang ke petani akan langsung dibayar tunai. "Kalau dulu, setor tebu sekarang, bayarnya baru satu atau dua bulan mendatang," kata dia.

Langkah ketiga, kata Dahlan, impor gula mentah (raw sugar) tahun ini dipegang oleh pabrik-pabrik gula yang sedang sekarat itu. Gula mentah tersebut giling bersamaan dengan gula lokal sehingga dapat meningkatkan produksi gula. Selama ini, impor gula mentah dipakai oleh pabrik gula rafinasi sehingga mematikan pabrik gula milik BUMN.

Sedangkan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menilai pemerintah tidak serius merevitalisasi pabrik gula. Padahal, Ketua APTRI Arum Sabil mengatakan, revitalisasi pabrik gula yang terintegrasi dan tersistem sangat perlu dilakukan, untuk mencegah kecurangan dalam proses produksi gula di pabrik.

“Keseriusan pemerintah untuk melakukan revitalisasi terhadap pabrik gula, karena revitalisasi itu mutlak harus dilakukan, karena kondisi pabrik kita yang sudah tua, dibuat pada tahun 1800-an, memungkinkan sumber daya manusianya itu lalai, karena memang mesinnya itu memungkinkan, memungkinkan sumber daya manusianya di dalam itu berbohong atau mencuri, karena memang kondisi pabriknya memungkinkan. Sehingga menurut saya, revitalisasi pabrik gula secara terintegrasi dengan full automatic, full system,” ujar Arum.

Ketua APTRI ini menambahkan, revitalisasi Industri gula bukan hanya pada mesin pabrik, tapi meliputi pola tanam pada petani, dan mengenai kebijakan tentang produksi gula nasional. Sebelumnya, Menteri BUMN, Dahlan Iskan berencana merevitalisasi 22 pabrik gula di Indonesia. Revitalisasi itu dilakukan untuk meningkatkan produksi gula pada 22 pabrik tersebut yang dinilai sudah tidak sehat.