Sampai Juni 2012, Perusahaan Asuransi Raup Premi Rp18,89 Triliun

Transportasi Udara Catat Pertumbuhan Premi dan Klaim Tertinggi

Rabu, 05/09/2012

NERACA

Jakarta – Sepanjang semester pertama tahun 2012, perusahaan asuransi umum di Indonesia mampu meraup premi bruto hingga Rp18,89 triliun. Angka ini meningkat sekitar 12,8%, dibandingkan pencapaian dalam periode sama tahun 2011 yang hanya sebesar Rp16,74 triliun.

“Pertumbuhan terbesar dibukukan oleh lini usaha asuransi pesawat udara, yang tumbuh 131,2% dari perolehan tahun lalu yang sebesar Rp228,38 miliar menjadi Rp528,10 miliar,” papar Budi Herawan, Kepala Divisi Statistik, Informasi dan Analisa Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), kepada wartawan di Jakarta, Selasa (4/9).

Meski demikian, Budi menyebut, pertumbuhan terbesar secara nominal dicapai oleh bisnis asuransi kendaraan bermotor, yang mengalami kenaikan sebesar Rp834 miliar, dari perolehan tahun lalu sebesar Rp4,848,89 miliar menjadi Rp5,683,63 dalam tahun ini.

Budi menambahkan, peningkatan premi pada asuransi pesawat terbang didorong oleh peningkatan jumlah armada pesawat baru yang amat pesat pada tahun 2012. Selain itu, tingginya premi asuransi di sektor penerbangan udara diperkuat dengan resiko pada industri penerbangan yang tinggi.

“Kalau penambahan jumlah armada kan penambahan premi. Garuda, Lion Air, Mandala juga menambah pesawat, Sriwijaya ekspansif juga. Jelas itu pertumbuhan di semester pertama. Begitu juga Batavia yang baru diakuisisi oleh AirAsia,” tuturnya.

Selain bisnis asuransi pesawat udara yang mengalami pertumbuhan premi bruto tertinggi, sektor asuransi lain yang tumbuh tinggi antara lain asuransi kredit (63,9%), asuransi tanggung gugat (41,5%), asuransi kecelakaan dan kesehatan (34,1%), asuransi rangka kapal (32,9%), dan asuransi penjaminan (21,8%). Namun ada juga asuransi yang pertumbuhannya negatif, yaitu asuransi energi darat (-46,7%), asuransi aneka (-29,6%), dan asuransi energi off shore (-23,5%).

Sementara untuk klaim bruto, terjadi kenaikan 18,1% menjadi Rp7,28 triliun di semester pertama tahun 2012, dibanding perolehan pada periode tahun lalu yang mencapai Rp6,17 triliun.

“Peningkatan klaim tertinggi sampai semester pertama tahun 2012 juga terjadi di lini usaha asuransi pesawat udara yang sebesar 213,6%, karena naik menjadi Rp154,47 miliar dari perolehan Rp49,26 miliar. Sedangkan kenaikan klaim secara nominal terjadi dalam lini usaha asuransi harta benda yang sebesar Rp395,28 miliar, naik dari Rp1606,13 miliar di semester pertama tahun lalu menjadi Rp2001,41 miliar,” jelas Budi.

Peningkatan klaim itu, lanjut Budi, disebabkan oleh tingginya angka kecelakaan pesawat pada tahun 2011 yang baru terbayarkan pada periode sementer-I tahun 2012. “Kecelakaan pesawat di 2011 lumayan jadi klaim di 2012 cukup tinggi,” terangnya.

Selain bisnis asuransi pesawat udara yang memiliki pertumbuhan klaim bruto tertinggi di semester pertama tahun ini, juga ada lini asuransi lain yang juga memiliki nilai klaim bruto tinggi, yaitu antara lain asuransi energi off shore (198,5%), asuransi rangka kapal (61%), asuransi penjaminan (82,1%), dan asuransi pengangkutan kapal (34,4%). Namun ada beberapa lini asuransi yang pertumbuhan klaimnya negatif, yaitu asuransi energi darat (-65,6%), asuransi tanggung gugat (-42,8%), asuransi aneka (-28%), dan asuransi rekayasa (-2,2%).

Loss ratio asuransi umum pada semester pertama 2012 ini naik 38,6%, dari presentase tahun lalu yang sebesar 3,2%. Rasio klaim tertinggi terjadi pada lini usaha asuransi kredit yang sebesar 54,7%.

Kemudian untuk reasuransi umum, premi brutonya naik 16,4%, dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp945 miliar menjadi Rp1,08 triliun pada semester pertama tahun ini. Dari sisi klaim bruto, reasuransi umum ini mencatat peningkatan sebesar 14,6%, dari Rp446 miliar pada semester pertama tahun lalu menjadi Rp511 miliar di periode sama tahun ini.

Dari hasil underwriting, reasuransi umum ini mencatatkan peningkatan yang cukup baik, yaitu dari Rp26 miliar di semester pertama tahun lalu menjadi Rp73 miliar di periode sama tahun ini.

Dadang Sukresna, Ketua Departemen Riset dan Analisa, menambahkan bahwa pembatasan uang muka kredit kepemilikan kendaraan bermotor (KKB) sebesar 30% belum berpengaruh signifikan pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor. “Walaupun ada pembatasan DP untuk kredit kendaraan bermotor, namun belum terlihat adanya penurunan premi di semester pertama 2012,” katanya.

Ia juga bilang soal pertumbuhan premi reasuransi yang lebih tinggi daripada klaimnya. “Hal ini berdampak pada pertumbuhan hasil underwriting reasuransi yang baik pada semester pertama tahun 2012 ini,” pungkasnya.