Minat Masyarakat Terlalu Tinggi

Untuk Kredit KPR dan KKB

Sabtu, 08/09/2012

Minat masyarakat yang terlalu tinggi terhadap kredit KPR dan KKB membuat laju pertumbuhan kredit mengalami terlalu cepat, ini yang membuat adanya kenaikan DP pada kedua kredit tersebut.

NERACA

Pertumbuhan kredit yang cukup cepat membuat permasalahan tersendiri bagi perekonomian di Indonesia, dengan pertumbuhan kredit mencapai 25% ini harus disesuaikan dengan kondisi fundamental perekonomian yang saat ini tengah melambat.

Praktisi Perbankan Irianto, Selasa (04/09) mengatakan, pertumbuhan kredit 25% dibutuhkan bila target pertumbuhan ekonomi sekitar 6%, terutama untuk kredit modal kerja dan investasi.

Menurutnya, penyebabnya kenaikan kredit yang terlalu cepat. Secara teori pada saat suku bunga rendah seperti saat ini maka kegiatan investasi akan naik, karena pemilik dana lebih senang investasi daripada saving, sehinga demand kredit juga naik.

Dengan adanya surat mengenai pembatasan kredit yang di keluarkan Bank Indonesia (BI), surat yang di keluarkan oleh BI sebagai salah satu alat pengendalian, tapi pasar bisa berbeda, alat lain adalah menaikkan suku bunga acuan dan GWM.

“Dampak dari pembatasan uang muka (DP) bagi industri properti dan otomotif, aturan DP pada KKB dan KPR akan berdampak sedikit penyesuaian, namun akan lebih sehat bagi bank, dan akan normal lagi,” pertumbuhan Kredit pada tahun ini akan terus meningkat selama demand tinggi karena suku bunga rendah, tuturnya.

“Pertumbuhan kredit yang terlalu cepat bisa mengganggu stabilitas perekonomian. Kredit 25% itu sedikit di atas tren jangka panjang. Kalau kita bandingkan pergerakan selama beberapa tahun terakhir, pertumbuhan 25% itu cenderung lebih tinggi,” tuturnya.

Untuk mengembalikan ke trennya, sebagai contoh 3-4 tahun terakhir, hanya di sekitar 20-24%. Hingga akhir Juni 2012, pertumbuhan kredit secara year on year (yoy) telah mencapai 25,8% atau hampir mencapai 26% atau melampaui tren tahunan di kisaran 20-24%.

BI mencatat, pertumbuhan kredit selama tahun 2011 sebesar 24,55pada 2010 sebesar 22,8%, dan 2009 hanya 10% akibat dampak krisis finansial global pada 2008. Menurut Halim, pada akhir tahun, pertumbuhan kredit akan berada di sekitar sesuai revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) yang dilakukan pada pertengahan tahun menjadi 25%.

“Kalau perbankan menargetkan kredit sesuai RBB sebesar 25%, tentunya pada akhir tahun akan di sekitar itu. Tapi ini bisa turun sedikit karena aturan rasio kredit terhadap agunan (loan to value/LTV) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB),” tuturnya.

Selain kebijakan seperti LTV, sejumlah kenaikan harga di beberapa barang dan jasa dinilainya bisa mengurangi pertumbuhan kredit perbankan. Namun, persoalan ini tidak bertahan lama karena minat untuk kredit masih tinggi.

Rem BI

Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan pihaknya akan berupaya mengerem tingginya pertumbuhan kredit yang pada semester pertama 2012 mencapai 25,8%.

"Kredit kita ini pertumbuhannya sudah tinggi sekali, walaupun saya bilang rasionya masih tergolong rendah," selama tiga tahun terakhir, kata Darmin, pertumbuhan kredit selalu di atas 23%. Bahkan tahun ini bisa berkisar 25-26% pertumbuhannya, katanya.

Menurut Darmin, tingginya pertumbuhan kredit tersebut masih dapat dibilang aman jika untuk investasi produksi barang ekspor, namun kenyataannya kredit yang masuk tersebut justru digunakan untuk investasi produksi barang konsumsi domestik, termasuk sektor real estate.

Makanya kita agak rem sedikit di real estate dengan pemberlakuan loan to value (LTV), walaupun dampaknya tidak terlalu banyak. Pertumbuhan sektor real estate yang sangat pesat itu dikhawatirkan dapat menyebabkan overheating ekonomi, seiring dengan defisit yang juga cukup besar.

Jadi atau tidaknya overheat sangat tergantung pada dua hal yaitu apakah kita bisa mendorong FDI atau penyaluran kredit yang ditujukan untuk investasi produksi barang ekspor. BI telah menerapkan aturan pembayaran uang muka (DP) untuk perumahan minimal sebesar 30% bagi konsumen yang akan membeli rumah secara kredit dengan rumah tipe di atas 70 yang efektif berlaku sejak 15 Juni 2012, bersama dengan DP minimal Kredit Kendaraan Bermotor sebesar 25% untuk roda dua dan 30 % untuk roda empat.

Pertumbuhan penyaluran kredit yang terlalu tinggi dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas perekonomian nasional, sehingga bank sentral ingin menarik perbankan ke wilayah yang tidak terlalu cepat kenaikannya seperti kredit konsumtif karena kredit produktif tidak dapat direm pertumbuhannya.

Penelitian BI menunjukkan ada beberapa peningkatan kredit yang berada di atas pertumbuhan kredit optimal, yang besarannya rata-rata 23%. Ada potensi overheating di kartu kredit, kredit otomotif, dan kredit properti. Apalagi impor kita meningkat, bisa berbahaya.

Potensi overheating itu diukur melalui pertumbuhan, kecepatan penyaluran kredit, dan rasio kredit macet (non-performing loan/NPL). Dari sisi NPL, bank sentral melihat apakah dalam 7 bulan ke depan nilainya tumbuh cukup cepat.

"Kita harapkan pertumbuhan kredit dapat terselesaikan secara cepat, agar tidak terjadi overheating, dan minat masyarakat terhadap kredit tidak berkurang. Karena dengan adanya kenaikan DP membuat minat masyarakat berkurang," tuturnya.