Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Meleset dari Target

NILAI TUKAR RUPIAH TERDEPRESIASI PALING DALAM

Selasa, 04/09/2012

Jakarta – Kalangan pengamat dan akademisi memperkirakan, melebarnya defisit transaksi berjalan yang diiringi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta kondisi prospek ekonomi global yang tidak menentu belakangan ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia dipastikan meleset dari target yang ditetapkan pemerintah yaitu 6,8% pada 2013.

NERACA

Menurut pengamat ekonomi politik Prof. Dr. Didiek J. Rachbini, tingginya nilai impor dan menurunnya ekspor Indonesia, ditambah lagi dengan rupiah yang saat ini terdepresiasi yang terdalam di kawasan Asia, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan 6,8% tidak mungkin bisa terjadi.

Sebelumnya pemerintah dalam asumsi makro RAPBN 2013 mentargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8% dan kurs rupiah terhadap dolar AS ditetapkan Rp 9.000 per US$.

Namun dengan terjadinya penurunan ekspor sejak awal 2012, menurut Didiek, tentu akan berdampak pada perusahaan-perusahaan pengekspor, bukan hanya produktivitasnya, tapi juga sumber daya yang ada juga akan terkena dampaknya.

“Turunnya nilai ekspor tersebut karena produk perdagangan yang tidak beres, pasca penandatanganan CAFTA oleh Kementerian Perdagangan, di mana industri dalam negeri menjadi sangat lemah karena digempur oleh produk impor,” ujarnya kepada Neraca, Senin (3/9).

Lebih lanjut, dia menjelaskan selama ini Indonesia sudah “keenakan” dengan produk impor, dan kebijakan mengenai produk impor sejauh ini belum mendukung. Seharusnya pemerintah bisa memberlakukan kepada perusahaan-perusahaan lokal maupun asing yang beroperasi di dalam negeri untuk menggunakan produk dengan porsi bahan lokal lebih besar, sehingga tidak melemahkan posisi domestik.

Peluang ekonomi yang diperkirakan tumbuh, menurut Didiek, hanya karena mengandalkan investasi yang masuk, yang saat ini terbilang sangat besar. Akan tetapi, dengan melihat pengeluaran pemerintah yang sangat besar dan belum melakukan inefisiensi, sangat sulit untuk tidak terjadi defisit yang terus menerus.

Dia menambahkan, neraca transaksi berjalan yang saat ini defisit, ditambah ekspor yang lemah, dan tingginya pengeluaran negara untuk belanja pemerintah, bisa diperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan berjalan di tempat. Bahkan, jika pemerintah tidak melakukan perbaikan secara internal, baik itu birokrasi, infrastruktur, dan kebijakan mengenai produk impor, bisa saja secara tiba-tiba ekonomi Indonesia turun secara drastis, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, yaitu mencapai 4%.

Negara Berkembang

Menurut Prof. Firmanzah PhD, staf khusus presiden bidang ekonomi, neraca perdagangan Indonesia (NPI) memang mengalami defisit lagi, walau nilai defisitnya lebih kecil dibandingkan selama 3 bulan berturut-turut sebelumnya.

Firmanzah mengatakan, defisit yang terjadi karena tekanan impor bahan baku dan bahan penolong, seiring dengan investasi asing, tetapi hal tersebut guna untuk mendorong pemenuhan kebutuhan perkembangan industri. Lagipula fenomena seperti memang terjadi bagi negara lainnya yang sedang berkembang, dimana untuk masa jangka pendek masuknya impor lebih banyak daripada ekspor karena kebutuhan industri di dalam negeri.

“ Tapi nanti untuk jangka panjang, saat industri tersebut sudah memiliki eksistensi di dalam negeri, maka produksinya selain untuk digunakan pasar domestik, namun bisa juga untuk meningkatkan kinerja ekspor. Memang tidak bisa cepat, ada tahapan yang tentunya memakan waktu,” ujar guru besar FEUI itu, kemarin.

Dia menuturkan pemerintah sudah saatnya mengurangi mengekspor bahan baku, seperti bahan mentah mineral. Tetapi perlu meningkatkan produk ekspor bernilai tambah dan memiliki daya saing yang lebih baik dari sebelumnya di pasar internasional, yang akan memicu pembeli dari luar negeri.

“Untuk dalam negeri, perlu ditingkatkan pemahaman kepada masyarakat sebagai konsumen, bahwa ada standar tertentu agar produk impor dapat masuk ke pasar dalam negeri sesuai kebutuhan,dan faktor keamanan produk tersebut terjamin,” ujarnya.

Menurut Fauzi Aziz, pemerhati kebijakan industri dan perdagangan, ,memang saat ini kondisi perekonomian dunia sedang memburuk,dan Indonesia ikut terseret dari melemahnya ekspor China. Oleh karena itu,kita harus bisa mengekspor barang jadi agar bisa mendapatkan nilai tambah. “Supaya neraca perdagangan kita kembali surplus,” ujarnya, Senin.

Selama ini,ujar Fauzi,kita masih mengekspor barang mentah dimana komoditi tersebut sangat rentan dengan fluktuasi harga dunia.Ini yang menyebabkan ekspor kita terus menurun,sedangkan impor barang modal kita mencapai 70 %.Kalau masalah ini tidak kita atasi,bisa menakutkan untuk ekonomi Indonesia.

Kalau sekarang ini, menurut dia, publik harus jujur mengakui memang pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak termasuk yang jelek, tapi harus berani jujur mengatakan kepada rakyat bahwa meski demikian sesungguhnya struktur ekonomi bangsa ini tidak terlalu kuat juga.

Fauzi menyarankan, agar arsitektur dan fondasi ekonomi nasional perlu direkonstruksi kembali dengan fokus ke penguatan ekonomi domestik. “Perlu pembenahan menyeluruh yang lebih fundamental, baik yang berdimensi filosofis, sosiologis, politis maupun budaya,” ujarnya.

Deputi Bidang Koordinasi Perdagangan dan Industri Kementerian Perekonomian Edy Putra Irawady menjelaskan, walau neraca perdagangan defisit akan tetapi secara total Indonesia tetap surplus perdagangan. Permasalahannya adalah, lanjut Eddy, tidak ada kendali impor barang rumah tangga sehingga impor lebih banyak hal-hal yang tidak perlu. “Kita juga mengimpor barang-barang rongsokan. Itukan barang yang tidak diperlukan,” ujarnya.

Berdasarkan data BI, defisit transaksi berjalan pada kuartal II/2012 melebar menjadi US$6,9 miliar, atau 3,1% dari PDB. Angka ini lebih tinggi daripada defisit kuartal I/2012 sebesar US$3,2 miliar.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu lebih bijak dalam mengalokasikan anggaran sehingga apa yang telah dicantumkan dalam APBN bisa disalurkan lebih efektif untuk mendorong perekonomian.

“Jadi tidak perlu tambah defisit, tapi bisa dengan merealokasi. Kalau sebagian dikurangi untuk lebih ke hal produktif seperti infrastruktur desa akan lebih efisien dan mendorong pertumbuhan dan menekan inflasi daerah,” ujar ekonom Anton H. Gunawan kepada pers di Jakarta, akhir pekan lalu. lia/novi/iwan/bari/fba