Efek Jera Emiten Nakal

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Janji PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan melakukan penghapusan saham (force delisting) saham PT Katarina Utama Tbk (RINA) di papan perdagangan bursa pada Oktober mendatang perlu diberikan apresiasi. Alasannya, ini merupakan bukti sikap tegas pimpinan BEI dalam memberikan sanksi dan mendisiplinkan emiten nakal.

Selain itu, langkah ini dilakukan juga untuk memberikan efek jera agar ke depan emiten yang nakal atau terlambat dalam laporan keuangan tidak mengulang kesalahan yang sama, mengingat yang menjadi korban adalah investor. Industri pasar modal tidak hanya dituntut transparansi dalam laporan keuangan, tetapi juga merealisasikan prinsip good corporate governance. Karena tujuan perusahaan masuk bursa, adalah mampu menciptakan kultur disiplin seperti itu.

Bicara industri pasar modal tidak hanya sebatas target meningkatkan anggota bursa ataupun emiten dan investornya saja, tetapi harus menyeluruh dan termasuk kualitas. Artinya, pihak BEI dan otoritas pasar modal perlu memperketat setiap emiten yang bakal listing di pasar modal agar sahamnya aktif diperdagangkan serta likuid. Buat apa banyak emtien di bursa, tetapi tidak mempunyai kualitas dan hanya menjadi saham "tidur" belaka.

Bahkan untuk kasus Katarina, Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartanto angkat bicara dengan mendukung keputusan BEI untuk mengeluarkan secara paksa (force delisting) Katarina. Terlebih di AEI, Katarina sudah bukan anggota lagi dan sudah sepantasnya mereka sejak dulu di-delisting dari bursa.

Tentunya, impian emiten agar sahamnya di pasar selalu aktif di perdagangkan juga menjadi tanggung jawab perseroan. Bagaimana caranya, tentunya dengan banyak melakukan aksi korporasi tetapi bukan dengan menggoreng saham. Kasus Katarina Utama menjadi pelajaran berharga, karena emiten itu mempunyai masalah atas dugaan manajemen yang seluruhnya menyelewengkan perolehan dana IPO, penggelembungan aset, serta memanipulasi laporan keuangan audit 2009.

Kejahatan dalam industri pasar modal selalu silih berganti, sikap waspada investor dan penegakan hukum otoritas pasar modal menjadi kuncinya agar pasar modal dalam negeri mempunyai daya saing tinggi dengan negara tetangga. Kemudian peran penjamin emisi ataupun broker juga perlu ditingkatkan agar investor selalu aware (bijak) dalam memilih portofolio investasi saham di pasar modal dengan mempertimbangkan kondisi kinerja keuangan perusahaan dan sentimen di luar.

Selama ini, suka tidak suka banyak investor pasar modal belum begitu profesional atau mahir dalam menanamkan sahamnya di salah satu perusahaan. Umumnya, para investor memilih saham tertentu karena saran dari teman sejawat. Alhasil, tanpa memperhitungkan risiko yang matang para investor pemula tersebut kaget dengan kerugian yang dicatatkan. Namun sebaliknya, para investor yang matang dengan risiko yang ada tetap bertahan karena investasi yang dilakukan adalah jangka panjang, dan bukan hanya mencari untung berjangka pendek dengan cara spekulasi.

BERITA TERKAIT

Soal Sentimen Pemilu - BEI Lebih Cemas Kinerja Keuangan Emiten

NERACA Jakarta – Memanasnya konstelasi politik dalam negeri jelang pemilihan presiden (Pilpres) pada awal April 2019, diyakini tidak akan terlalu…

Memilah Emiten Bermasalah - Online Trading Wajib Tampilkan Notasi Khusus

NERACA Jakarta – Dalam rangka memberikan perlindungan kepada investor dengan memberikan informasi yang lengkap, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan…

Pantau Keberlangsungan Usaha Emiten - BEI Cabut Kelonggaran Cicilan Bayar Listing Fee

NERACA Jakarta –Memberikan penegakan kedispilinan terhadap emiten yang lalai menunaikan kewajibannya membayar listing fee tahunan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI)…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Asuransi Kesehatan Kembali Merugi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Hingga akhir tahun 2018 lalu defisit…

Mengapa Ekspor dan Kenapa Risaukan Impor?

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Ekspor dan impor sama pentingnya dalam perekonomian sebuah bangsa. Kita dididik take…

Belit OTT

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Lagi, seorang petinggi parpol terciduk OTT KPK. Apakah…