Rupiah Melemah Akibat Kebijakan The Fed

SEDIKITNYA US$500 JUTA KELUAR KE AS

Selasa, 04/09/2012

NERACA

Jakarta – Keperkasaan mata uang rupiah terhadap dolar AS kini terus melemah. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin (3/9) bergerak melemah sebesar 10 poin menjadi Rp9.550 dibanding sebelumnya Rp9.540 per dolar AS. Bahkan, kurs tengah Bank Indonesia kemarin tercatat rupiah masih bergerak melemah menjadi Rp9.585 dibanding sebelumnya Rp9.560 per US$.

Hal itu didorong ekspektasi pasar bahwa The Fed belum melakukan pelonggaran kuantitatif (QE) tahap tiga. “Rupiah tertekan dipicu dari pertemuan The Fed akhir pekan lalu yang diindikasikan tidak melakukan QE tahap tiga, kondisi itu kembali menekan rupiah setelah sempat menguat pada pagi tadi," ujar Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada di Jakarta, Senin.

Selain itu, meski nilai inflasi tidak terlalu tinggi sebesar 0,95% dinilai belum mendorong rupiah menguat.

Reza menambahkan, indikasi tidak akan adanya stimulus pelonggaran kuantitatif itu dikarenakan dalam pertemuan The Fed itu tidak menyinggung atau menyebutkan nilai QE yang akan dikeluarkan. "Kondisi itu membuat pelaku pasar masih menempatkan dananya dalam bentuk dolar AS, apalagi data ekonomi China seperti manufaktur yang dirilis menunjukkan hasil negatif," kata dia.

Namun, lanjut Reza, masih akan diadakannya pertemuan "The Federal Open Market Committee" (FOMC) pada pekan depan diharapkan adanya kebijakan baru atau melakukan QE seiring dengan data pengangguran AS yang terus meningkat. Selain itu, belum adanya kabar signifikan dari Eropa menambah keraguan pelaku pasar uang untuk masuk ke dalam mata uang berisiko termasuk rupiah.

Pengamat pasar uang Monex Investindo Futures Johanes Ginting menambahkan, The Fed tidak secara eksplisit mensinyalkan sebuah tindakan terkait tingginya tingkat pengangguran. "Kondisi itu akan mendorong pelaku pasar untuk mulai mengantisipasi kemungkinan QE, dengan begitu dolar AS akan tertekan," ujarnya.

Sedangkan pengamat pasar uang Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menegaskan bahwa pasar Asia kemungkinan positif memfaktorkan kemungkinan QE3 sehingga rupiah mempunyai peluang penguatan tetapi tidak terlalu signifikan karena kekawatiran terhadap ekonomi China yang memburuk.

Lana menambahkan, kendati belum secara spesifik, The Fed menguatkan spekulasi terhadap kemungkinan memberikan injeksi baru yang sering disebut sebagai "quantitative easing" yang ketiga (QE3). Investor masih menunggu kepastian kebijakan itu pada pertemuan "The Federal Open Market Committee" (FOMC) pada 12-13 September.

"Sentimen positif hari ini kemungkinan bersifat jangka pendek saja karena data-data ekonomi lainnya seperti keyakinan konsumen AS bulan Agustus kembali melemah, dan pelemahan ekonomi China berlanjut seiring dengan turunnya indeks manufaktur," kata Lana.

Dari dalam negeri, menurut dia, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan angka inflasi dan perdagangan ekspor-impor. Diperkirakan inflasi Agustus masih akan aman. Sedangkan untuk neraca perdagangan Juli diperkirakan masih tercatat defisit. "Nilai impor diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor tetapi permintaan impor mulai berkurang karena tren pelemahan nilai tukar rupiah," katanya.

Menarik Dana

Hal senada dikatakan Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah. Dalam kacamata Bank Indonesia, pelemahan rupiah selama sepekan terakhir terjadi karena kebijakan Bank Sentral AS yang dinilai menguntungkan, membuat sebagian kecil investor asing menarik dananya dari Indonesia.

"Sebenarnya yang terjadi bukan pelemahan rupiah melainkan menguatnya dolar yang disebabkan kebijakan baru Bank Sentral Amerika Serikat yang dinilai investor cukup prospektif dan menguntungkan," kata Halim di Jakarta, Senin.

Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat tersebut, membuat sedikitnya investasi senilai US$500 juta ditarik dari Indonesia untuk dialihkan ke negeri Paman Sam.

Namun demikian, menurut Halim, masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir karena sebagian besar dana asing di Indonesia diinvestasikan dalam Surat Berharga Negara yang karakteristiknya adalah investasi jangka panjang. "Saat ini investasi asing untuk SBN di Indonesia nilainya mencapai Rp230 triliun," ujarnya.

Nilai investasi tersebut hampir menyamai kepemilikan bank-bank di Indonesia atas SBN yang per 30 Agustus lalu mencapai Rp291 triliun. Kepemilikan SBN yang lain dipegang oleh asuransi sebanyak Rp108,79 triliun, industri reksadana (Rp47,23 triliun), dana pensiun (Rp34,53 triliun), perusahaan sekuritas (Rp57 miliar) dan lainnya (Rp56,04 triliun).

Menurut Halim, karena investasi asing di Indonesia berjangka panjang dalam bentuk kepemilikan terhadap SBN, maka tidak akan ada penarikan dana besar-besaran yang membuat rupiah terus menerus turun. Dia mencontohkan bahwa krisis besar pada 2008 tidak membuat 50% investor asing menarik dananya. rin