IPO Semen Baturaja Kembali Molor Dari Target

Polemik Pengangkatan Direksi

Selasa, 04/09/2012

NERACA

Jakarta – Bila rencana IPO Pegadaian banyak dinanti para investor, namun sebaliknya berbeda dengan rencana pelaksanaan IPO PT Semen Baturaja lantaran beberapa kali melesat dari target. Bahkan tahun ini, penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) Semen Baturaja diperkirakan kembali mundur dari rencana kuartal III tahun ini menjadi kuartal IV.

Sekretaris perusahaan Semen Baturaja Zulkifri Subli mengatakan, rencana perusahaan untuk bisa menjadi perusahaan publik hingga saat ini belum mendapat restu dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), “Sebelumnya kita targetkan kuartal III tahun ini, tapi belum ada persetujuan DPR. Kami perkirakan IPO kalau tidak akhir tahun ini atau kuartal pertama tahun depan," katanya di Jakarta, Senin (3/9).

Lebih lanjut Zulkifri menjelaskan, laporan keuangan yang akan digunakan perseroan untuk melancarkan rencana tersebut akan diganti dengan laporan keuangan akhir semester I-2012. Perseroan menargetkan bisa melepas sekira 30% saham ke publik dengan target dana segar mencapai Rp1 triliun.

Dana hasil IPO, sebagian akan digunakan untuk pembangunan pabrik baru. Adapun kebutuhan dana perseroan tahun ini untuk pembangunan pabrik sekira Rp2,5 triliun. Dana tersebut bersumber dari kas internal, pinjaman perbankan lokal dan dana hasil IPO.

Pabrik semen yang berlokasi di Sumatera ini memiliki kapasitas 1,5 juta ton. Pembangunan pabrik tersebut akan dimulai awal tahun depan dan ditargetkan rampung pada 2016. Dengan rampungnya pabrik ini, maka kapasitas produksi semen perseroan menjadi 3,5 juta ton.

Terhambat Di DPR

Sebagai informasi, sebelumnya anggota DPR Komisi VI DPR mengancam pelaksanaan IPO Semen Baturaja terancam molor karena terhambat soal pengangkatan direksi perseroan yang dinilai melanggar aturan UU No.19 Tahun 2003 tentang BUMN.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Erik Satya Wardhana pernah bilang, rencana IPO Semen Baturaja terancam molor, “Potensi mundurnya jadwal IPO Semen Baturaja karena persoalan pengangkatan persero bertentangan dengan UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN,”ungkapnya.

Namun penjelasan tersebut sudah disampaikan Menteri BUMN Dahlan Iskan yang menegaskan, pelaksanaan RUPS sudah sesuai aturan dan tidak melanggar aturan yang ada. Akibatnya, kondisi inilah yang diakui Dahlan, tidak mudah memang melakukan penawaran saham perdana untuk BUMN karena banyak sekali hambatannya, “Banyak sekali hambatan BUMN dan semuanya terkait dengan perizinan, khususnya dari DPR,”tegasnya.

Meski sulit untuk mendapatkan perizinan, namun Dahlan tetap optimis dapat memperbanyak perusahaan BUMN untuk melakukan IPO di BEI. Saat ini, pihaknya masih memiliki rencana memperbanyak IPO di kalangan BUMN. Selain memudahkan untuk mendapatkan sumber pendanaan yang lebih murah, juga menghindari intervensi dari pihak luar dan mengembangkan pasar modal Indonesia."Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak turun ke pasar modal. Khusus untuk Semen Baturaja dizinkan atau tidak, terserah saja," tukas Dahlan. (bani)