Kemendag Harap Harga Komoditas Stabil

Tingkatkan Kinerja Ekspor

Selasa, 04/09/2012

NERACA

Jakarta - Kondisi ekonomi global yang masih mengkhawatirkan, memang masih berimbas pada neraca perdagangan Indonesia. Neraca perdagangan bulan Juli 2012 masih defisit US$176 juta, karena impor nasional masih tercatat US$16,33 miliar dibandingkan dengan ekspor sebesar US$16,15 miliar. Maka, dengan defisit tersebut, Pemerintah perlu berupaya agar nilai perdagangan tahun ini dapat menyamai dengan tahun lalu.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan merasa yakin hingga akhir tahun nanti akan mencapai nilai perdagangan dari non minyak dan gas (migas) akan sama seperti tahun 2011 yaitu US$298,73 miliar. Karena nilai perdagangan secara kumulatif Januari hingga Juli 2012 sudah tercatat US$201,72 miliar. Menurut dia, impor produk penolong dan bahan baku lebih untuk meningkatkan kepasitas ekspor yang bernilai tambah perlu dibuktikan.

Dia menjelaskan bahwa hampir semua kawasan nilai ekspornya turun, tak terkecuali Indonesia. Karena itu harapannya, kondisi harga komoditas stabil dan tidak lagi mengalami penurunan untuk agar dapat meningkatkan nilai ekspor. "Kita berharap terjadi stabilisasi harga komoditas, sehingga kita bisa genjot dengan peningkatan ekspor yang berbau komoditas," ujar Gita usai acara Halal Bihalal di Kementerian Perdagangan, Senin (3/9).

Kementerian Perdagangan menilai tingginya importasi karena impor bahan penolong dan bahan baku naik. Apalagi impor minyak cukup besar setiap mencapai US$1-2 miliar. "Ke depan kita harus bisa membuktikan bahwa impor produk penolong dan bahan baku lebih untuk meningkatkan kepasitas ekspor yang bernilai tambah dibanding hanya untuk konsumsi dalam negeri," ungkapnya.

Percepat Hilirisasi

Saat ini, neraca perdagangan masih surplus US$476,2 juta, oleh karena itu selama semester II/2012 perlu pemantauan untuk menjaga gap antara nilai ekpor dan nilai impor. Tentunya, proses hilirisasi menjadi senjata andalan Pemerintah untuk memaksimalkan barang-barang ekspor Indonesia. Selain itu, lanjutnya, pemerintah mendorong negara-negara asal impor terbesar untuk melakukan investasi di Indonesia agar terjadi proses rebalancing trade atau stabilitas neraca perdagangan.

Maka, dengan cara ini merupakan cara yang efektif untuk memaksimalkan keuntungan di saat rendahnya permintaan global. "Kalau ada neraca perdagangan yang perlu disikapi itu dengan rebalancing trade atau trade yang berkualitas yaitu pengiriman produk-produk yang bernilai tambah, dan mudah-mudahan investasi itu berkualitas. Jadi kita bisa merangkap di lantai nilai," katanya.

Sebetulnya, lanjut Gita, pemerintah bisa saja menahan laju impor dengan memberlakukan bea masuk tinggi. Namun, cara ini bukan langkah bijak di saat konsep perdagangan bebas telah disepakati Indonesia. "Bisa tapi kita tidak berpikir kesitu karena kita sudah sepakat untuk perdagangan bebas dengan mitra strategis dalam ASEAN," imbuhnya.