Kemendag Harap Harga Komoditas Stabil - Tingkatkan Kinerja Ekspor

NERACA

Jakarta - Kondisi ekonomi global yang masih mengkhawatirkan, memang masih berimbas pada neraca perdagangan Indonesia. Neraca perdagangan bulan Juli 2012 masih defisit US$176 juta, karena impor nasional masih tercatat US$16,33 miliar dibandingkan dengan ekspor sebesar US$16,15 miliar. Maka, dengan defisit tersebut, Pemerintah perlu berupaya agar nilai perdagangan tahun ini dapat menyamai dengan tahun lalu.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan merasa yakin hingga akhir tahun nanti akan mencapai nilai perdagangan dari non minyak dan gas (migas) akan sama seperti tahun 2011 yaitu US$298,73 miliar. Karena nilai perdagangan secara kumulatif Januari hingga Juli 2012 sudah tercatat US$201,72 miliar. Menurut dia, impor produk penolong dan bahan baku lebih untuk meningkatkan kepasitas ekspor yang bernilai tambah perlu dibuktikan.

Dia menjelaskan bahwa hampir semua kawasan nilai ekspornya turun, tak terkecuali Indonesia. Karena itu harapannya, kondisi harga komoditas stabil dan tidak lagi mengalami penurunan untuk agar dapat meningkatkan nilai ekspor. "Kita berharap terjadi stabilisasi harga komoditas, sehingga kita bisa genjot dengan peningkatan ekspor yang berbau komoditas," ujar Gita usai acara Halal Bihalal di Kementerian Perdagangan, Senin (3/9).

Kementerian Perdagangan menilai tingginya importasi karena impor bahan penolong dan bahan baku naik. Apalagi impor minyak cukup besar setiap mencapai US$1-2 miliar. "Ke depan kita harus bisa membuktikan bahwa impor produk penolong dan bahan baku lebih untuk meningkatkan kepasitas ekspor yang bernilai tambah dibanding hanya untuk konsumsi dalam negeri," ungkapnya.

Percepat Hilirisasi

Saat ini, neraca perdagangan masih surplus US$476,2 juta, oleh karena itu selama semester II/2012 perlu pemantauan untuk menjaga gap antara nilai ekpor dan nilai impor. Tentunya, proses hilirisasi menjadi senjata andalan Pemerintah untuk memaksimalkan barang-barang ekspor Indonesia. Selain itu, lanjutnya, pemerintah mendorong negara-negara asal impor terbesar untuk melakukan investasi di Indonesia agar terjadi proses rebalancing trade atau stabilitas neraca perdagangan.

Maka, dengan cara ini merupakan cara yang efektif untuk memaksimalkan keuntungan di saat rendahnya permintaan global. "Kalau ada neraca perdagangan yang perlu disikapi itu dengan rebalancing trade atau trade yang berkualitas yaitu pengiriman produk-produk yang bernilai tambah, dan mudah-mudahan investasi itu berkualitas. Jadi kita bisa merangkap di lantai nilai," katanya.

Sebetulnya, lanjut Gita, pemerintah bisa saja menahan laju impor dengan memberlakukan bea masuk tinggi. Namun, cara ini bukan langkah bijak di saat konsep perdagangan bebas telah disepakati Indonesia. "Bisa tapi kita tidak berpikir kesitu karena kita sudah sepakat untuk perdagangan bebas dengan mitra strategis dalam ASEAN," imbuhnya.

BERITA TERKAIT

Sepakat, Indonesia Menggandeng Timur Tengah Mengembangkan Pertanian Indonesia

NERACA Abu Dhabi- Akhirnya Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) dan Crowne Prince Muhammed Bin Zayed Al Nahyan, sepakat untuk melakukan…

Pemerintah Komit Cegah Alih Fungsi Lahan

NERACA Pontianak – Demi tercipta ketahangan pangan, maka Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Pemda) komit untuk mencegah alih fungsi lahan.…

Kebijakan Kawasan Hutan Menghambat Reforma Agraria

NERACA Jakarta - Reforma agraria yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat, masih banyak menghadapi hambatan. Salah satunya adalah kebijakan kawasan hutan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Lion Parcel Lebarkan Pasar ke Luar Negeri

NERACA Jakarta – terus berkembangnya jasa pengiriman barang membuat PT Lion Express yang dikenal dengan nama dagang Lion Parcel untuk…

Naiknya Cukai Rokok Mendorong Naiknya Rokok Ilegal

NERACA Jakarta – Ditengah-tengah gencarnya Pemerintah dalam menanggulangi barang-barang illegal, justru dengan naiknya cukai rokok akan mendorong naiknya peredarang rokok…

KKP Tinjau Ulang Aturan Ekspor Perikanan Budidaya

NERACA Tanjungpinang – Meskipun pemerintah tengah gencar melakukan peningkatan ekspor di semua komoditas, tapi tetap harus berhati-hati. Atas dasar itulah…