Pemerintah Diminta Kaji Ulang Rencana Kenaikan TDL

Beratkan Pengusaha Mamin

Selasa, 04/09/2012

NERACA

Jakarta - Rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang dicanangkan pemerintah sebesar 15% pada 2013 akan meningkatkan harga produk makanan dan minuman sebesar 4%. Imbasnya, konsumen akan semakin terbebani dan membuat daya beli masyarakat semakin menurun. Karena itu, pengusaha meminta pemerintah mengkaji ulang rencana kebijakan tersebut.

“Jika pemerintah menaikkan TDL pada 2013, akan berimbas pada meningkatnya harga produk makanan dan minuman. Hal tersebut akan memberatkan konsumen dan membuat daya beli masyarakat sedikit menurun,” kata Direktur Industri Makanan Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Faiz Ahmad, di Jakarta, Senin (3/9).

Biaya produksi makanan dan minuman pasca kenaikan TDL, menurut Faiz, hanya meningkat sedikit. “Untuk biaya produksi setelah tarif TDL meningkat 15% diperkirakan melonjak 2%,” ujarnya.

Sedangkan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman, mengatakan untuk industri makanan dan minuman, komponen energi termasuk listrik merupakan 8% hingga 10% dari total biaya produksi.

“Dengan adanya kenaikan TDL, secara otomatis akan menyebabkan kenaikan pada harga pokok. Selain itu, supplier-supplier juga akan menaikkan harga, seperti supplier kemasan dan supplier bahan tambahan pangan dan ujung-ujungnya, konsumen yang akan menanggung harga yang sangat tinggi,” katanya.

Adhi menambahkan, kenaikan TDL merupakan suatu hal yang anomali. Satu sisi pemerintah meminta setoran pajak dari industri ditingkatkan, namun daya saing dilemahkan dengan kenaikan tarif listrik. “Kenaikan TDL 15% menyebabkan harga listrik di dalam negeri lebih mahal dari China. Pemerintah harus berpikir ulang untuk menaikkan listrik pada 2013,” tegasnya.

Tolak Kenaikan TDL

Sebelumnya, para pengusaha meminta pemerintah menunda rencana menaikkan TDL. Sikap ini disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, bersama Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Industri Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko, Ketua Umum Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika (PPA-K) Putri K Wardhani.

Selain itu, Sekretaris Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani, Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Elektronika (Gabel) Yeane Keet, dan Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Satria Hamid Ahmadi di Gedung Apindo di Jakarta.

Pengusaha dari industri padat karya ini meminta kesediaan pemerintah mendengarkan suara mereka karena sedikitnya 20 persen biaya produksi bersumber dari listrik. Meski belum diumumkan, rencana kenaikan harga Premium dan Solar bersubsidi sudah membuat ongkos logistik naik dan berdampak pada kenaikan harga-harga barang. Apabila pemerintah menaikkan TDL juga, harga barang akan naik sedikitnya 5% karena ongkos produksi juga naik minimal 10%.

Para pengusaha mengaku terkejut dan resah, dengan strategi pemerintah mengurangi subsidi listrik tersebut. Meski pemerintah berjanji mencicil kenaikan tahun ini, hal itu cukup menakutkan bagi pengusaha. Mereka mengaku sudah mengalah demi keamanan investasi saat pemerintah memaksakan kenaikan upah minimum yang naik sampai 30 % di Tangerang, Banten, dan 24,6 % di Bekasi, Jawa Barat. Namun kali ini pemerintah kembali membuat kebijakan yang mengagetkan dunia usaha.

"Sebenarnya kami juga tidak senang dengan kenaikan harga BBM, tetapi ini adalah pilihan jelek dan terjelek daripada anggaran pemerintah habis untuk subsidi bukan membangun infrastruktur. Namun, kami tidak setuju kalau pemerintah juga menaikkan TDL tahun ini, karena bisa membuat industri-industri padat karya kolaps," ujar Sofjan.

Ade menambahkan, kenaikan TDL ibarat lampu merah bagi industri garmen berskala kecil, yang juga berdampak ke hulu. Kapasitas produksi bakal dikurangi demi menekan kenaikan harga produk yang akhirnya bisa memicu pengurangan tenaga kerja.

Kondisi ini akan berdampak besar bagi industri jamu yang mempekerjakan sedikitnya 3 juta orang. Putri menegaskan, kenaikan TDL tahun 2012 akan membuat industri jamu berskala kecil bangkrut, dan industri menengah termarjinalkan.

"Industri yang bertahan harus menaikkan harga sehingga memicu inflasi. Kalau daya beli masyarakat turun, tentu penjualan kami juga terganggu. Kami menolak kenaikan TDL tahun ini," ujar Putri, yang juga Presiden Direktur Mustika Ratu.