Surplus Perdagangan RI "Lampu Kuning"

Dampak Krisis Dunia Makin Terasa

Selasa, 04/09/2012

NERACA

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia Juli 2012 mencapai US$16,15 miliar. Bila dibanding Juli 2011 mengalami penurunan sebesar 7,27%. Sementara nilai impor Indonesia Juli 2012 sebesar US$16,33 miliar. Jika dibanding impor Juli 2011 (US$16,21 miliar) naik 0,75%.

Secara akumulatif, nilai ekspor dari Januari-Juli 2012 sebesar US$ 113,11 miliar atau turun 2,52% pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan total impor Januari-Juli 2012 sebesar US$ 112,78 miliar atau naik 13,02% pada periode sama tahun lalu. Dengan demikian, surplus perdagangan RI secara keseluruhan terus menuju lampung kuning lantaran semakin menipis menjadi US$ 335,5 juta.

Dalam catatan BPS, impor nonmigas pada Juli 2012 sebesar US$13,60 miliar atau naik US$0,23 miliar (1,66%) dibanding Juni 2012 (US$13,37 miliar), sedangkan selama Januari–Juli 2012 mencapai US$88,61 miliar atau naik 15,45% dibanding periode yang sama tahun 2011 (US$76,75 miliar).

Adapun impor migas Juli 2012 sebesar US$2,73 miliar atau turun US$0,62 miliar (18,51%) dibanding Juni 2012 (US$3,35 miliar), sedangkan selama Januari–Juli 2012 mencapai US$24,17 miliar atau naik 4,91% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (US$23,04 miliar).

Sementara nilai impor nonmigas terbesar Juli 2012 adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanik dengan nilai US$2,72 miliar atau naik 7,37% (US$0,19 miliar) dibanding impor golongan barang yang sama Juni 2012 (US$2,53 miliar). Impor golongan barang tersebut selama Januari–Juli 2012 mencapai US$16,67 miliar atau meningkat 25,55% (US$3,39 miliar) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (US$13,28 miliar).

Untuk negara pemasok, BPS mencatat, barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Juli 2012 masih ditempati oleh China dengan nilai US$17,37 miliar dengan pangsa 19,60%, diikuti Jepang US$13,94 miliar (15,73%) dan Thailand US$6,86 miliar (7,75%). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai 21,64%, sementara dari Uni Eropa sebesar 8,95%.

Secara total, nilai impor semua golongan penggunaan barang selama Januari–Juli 2012 dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing meningkat, yaitu impor barang konsumsi sebesar 5,43%, bahan baku/penolong sebesar 9,28%, dan barang modal sebesar 32,59%.

Ekspor Melempem

Kendati ekspor nonmigas Juli 2012 mencapai US$13,17 miliar atau naik 5,04% dibanding Juni 2012, namun jika dibanding ekspor Juli 2011 turun 3,25%. Sementara volume ekspor migas Juli 2012 terhadap Juni 2012 untuk hasil minyak dan gas masing-masing naik sebesar 12,17% dan 9,04%, sementara minyak mentah turun sebesar 10,65%. Sementara itu, harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia naik dari US$99,08 per barel pada Juni 2012 menjadi US$102,88 per barel pada Juli 2012.

Menurut BPS, secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari–Juli 2012 mencapai US$113,11 miliar atau turun 2,52% dibanding periode yang sama tahun 2011, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$89,97 miliar atau turun 2,90%.

Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Juli 2012 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$831,7 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$171,8 juta.

Komoditas lainnya yang juga mengalami peningkatan ekspor adalah bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$103,4 juta, berbagai produk kimia sebesar US$92,0 juta, pakaian jadi bukan rajutan sebesar US$10,6 juta, serta bahan kimia organik sebesar US$6,0 juta.

Sedangkan komoditi yang mengalami penurunan selain bahan bakar mineral adalah karet dan barang dari karet sebesar US$161,5 juta, mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar US$58,5 juta, kendaraan dan bagiannya sebesar US$18,5 juta, serta mesin/peralatan listrik sebesar US$6,1 juta.

Dalam catatan BPS, ekspor nonmigas ke China Juli 2012 mencapai angka terbesar yaitu US$1,57 miliar, disusul Jepang US$1,53 miliar, dan Amerika Serikat US$1,28 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 33,32%.

Peningkatan ekspor nonmigas Juli 2012 jika dibandingkan dengan Juni 2012 terjadi ke sebagian besar negara tujuan utama, yaitu India sebesar US$231,5 juta, Jepang sebesar US$93,6 juta, Malaysia sebesar US$65,5 juta, Australia sebesar US$64,0 juta, Taiwan sebesar US$45,6 juta, Jerman sebesar US$31,8 juta, Thailand sebesar US$12,1 juta, Perancis sebesar US$9,8 juta, China sebesar US$7,6 juta, dan Inggris sebesar US$3,8 juta.

Sebaliknya, ekspor ke Korea Selatan mengalami penurunan sebesar US$120,5 juta, diikuti Singapura sebesar US$109,7 juta serta Amerika Serikat sebesar US$25,3 juta. Sementara, ekspor ke Uni Eropa (27 negara) pada Juli 2012 mencapai US$1.657,6 juta. Secara keseluruhan, total ekspor ketiga belas negara tujuan utama di atas naik 3,48%.

Adapun menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari–Juli 2012 turun sebesar 3,56% dibanding periode yang sama tahun 2011, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya turun 1,19%, sedangkan ekspor hasil pertanian naik sebesar 1,77%.

Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan Januari–Juli 2012, kontribusi ekspor produk industri adalah sebesar 60,15% sedangkan kontribusi ekspor produk pertanian adalah sebesar 2,72%, dan kontribusi ekspor produk pertambangan dan lainnya adalah sebesar 16,67%, sementara kontribusi ekspor migas adalah sebesar 20,46%.