Katarina Delisting, Berganti Sekar Bumi Tengah Proses Relisting - BEI Dikejar Target IPO

NERACA

Jakarta–PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mungkin diuntungkan dengan rencana PT Sekar Bumi yang akan kembali mencatatkan sahamnya di pasar modal (relisting), ditengah BEI dikejar target jumlah perusahaan yang IPO ditahun ini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen mengatakan, pihaknya tengah memproses pencatatan kembali saham PT Sekar Bumi setelah dihapuskan dari bursa (delisting) pada akhir November 2009. Perseroan memulai proses mini ekspos untuk relisting pada Senin, 3 September 2012, “Relisting Sekar Bumi akan mulai dan rencananya mereka akan melakukan mini eskpos dulu,”katanya di Jakarta, Senin (3/9).

Dia menjelaskan, proses relisting Sekar Bumi akan sama dengan saat mereka melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO), jika ada saham yang kembali ditawarkan. Tapi, lanjut dia, jika tidak ada saham baru yang ditawarkan, maka saham Sekar Bumi akan langsung dicatatkan di papan bursa.

Sejauh ini, Hoesen menyatakan, pihaknya juga akan mengkaji going concern dari Sekar Bumi dalam mini ekspos nanti. Bursa, dikatakan Hoesen, akan melihat kinerja keuangan Sekar Bumi per Maret tahun ini.“Jadi, bisa saja Sekar Bumi akan relisting tahun ini. Yang penting semua persyaratan bisa dipenuhi mereka,” tambah Hoesen.

Sekedar informasi, Sekar Bumi merupakan satu dari tujuh emiten dari Bursa Efek Surabaya (BES) yang didelisting pada akhir November 2009. Emiten yang saat itu memiliki kode saham SKBM, didesliting bersama PT Jasa Angkasa Semesta Tbk (JASS), PT Courts Indonesia Tbk (MACO), PT Singleterra Tbk (SING), PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK), PT Sara Lee Body Care Indonesia Tbk (PROD), dan PT Tunas Alfin Tbk (TALFA dan TALFB).

Saat itu, delisting Sekar Bumi efektif sejak 1 Desember 2009. Alasan delisting tersebut, pertama mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha, baik secara finansial ataupun secara hukum atau kelangsungan status perusahaan tercatat sebagai perusahaan terbuka serta tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.

Asal tahu saja, kondisi ini bertolak belakang disaat BEI akan mendepak (delisting) saham PT Katarina Utama Tbk (RINA) pada 1 Oktober 2012 nanti. Pihaknya, kata Hoesen akan melakukan force delisting terhadap saham PT Katarina Utama Tbk (RINA). “Manajemen BEI memberikan waktu selama 20 hari kepada manajemen PT Katarina Utama Tbk membeli saham RINA,”ungkapnya.

Dia menjelaskan, meski PT Katarina Utama Tbk mengalami force delisting tetapi manajemen perseroan harus menaati kewajibannya. Manajemen PT Katarina Utama Tbk harus membayar denda laporan keuangan dan biaya listing.

Adapun penghapusan efek PT Katarina Utama Tbk akan efektif pada 1 Oktober 2012. "20 hari boleh mentransaksikan di pasar negoisasi kalau perusahaan mau beli atau pemegang saham pengendali. Namun secara kode etik PT nya tetap ada," tutur Hoesen.

Target IPO

Selain itu, pihak BEI juga akan menentukan target IPO sebanyak 25 perusahaan pada akhir September ini. Saat ini, BEI telah mencatat sudah 14 perusahaan yang sudah IPO, selain itu ada 8 perusahaan lagi yang siap IPO tahun ini.

Kata Hoesen, jika 8 perusahaan tersebut dipastikan IPO tahun ini, maka jumlah emiten BEI di tahun ini mencapai 22 perusahaan, “Kita akan mengusahakan 3 perusahaan lagi untuk segera mini ekspos dalam waktu dekat. Dengan begitu, target BEI 25 IPO akan bisa tercapai. Paling tidak kita lihat sampai akhir September ini,”ujarnya.

Dia menuturkan, perusahaan yang akan mengajukan IPO hingga akhir September nanti, akan memakai laporan keuangan Juni. Hingga saat ini, BEI telah menerima 8 nama perusahaan yang telah mendapat kontrak efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).

Adapun delapan perusahaan tersebut antara lain PT Adi Sarana Armada dengan nilai emisi Lebih dari Rp500 Miliar, PT Siba Surya Rp500 Miliar, PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Rp500 Miliar, PT Expressindo Transindo Utama Rp900 Miliar, PT Citra Borneo Indah lebih dari Rp1 Triliun, PT Nirvana Development lebih dari Rp1 Triliun, PT Provident Agro Rp500 Miliar dan PT Pasifik Agro Sentosa lebih dari Rp1 Triliun.

Sementara itu, emiten terakhir yang mencatatkan sahamnya di BEI adalah PT Inti Bangun Sejahtra Tbk (ITBS) pada Jumat, 31 Agustus 2012 yang melepas 154,24 juta lembar saham atau setara 15% dari seluruh jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh. Inti Bangun berhasil meraih dana sebesar Rp144,24 miliar dari aksi pencatatan sahamnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Obligasi Global Medco Oversubscribed 6 Kali

NERACA Jakarta – Penerbitan obligasi global milik PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mendapatkan respon positif dari pelaku pasar. Dimana…

Kembangkan Kendaraan Listrik - Pemerintah Menaruh Asa Divestasi Saham INCO

NERACA Jakarta – Dukungan pemerintah terhadap PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) untuk mengakuisisi 20% divestasi saham PT Vale Indonesia Tbk…

Tersandung Masalah Hukum - MPRO Batal Akuisisi Anak Usaha Hanson

NERACA Jakarta – Buntut dari disuspensinya perdagangan saham PT Hanson International Tbk (MYRX) oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BNI Terbitkan Global Bond US$ 500 Juta

Perkuat modal dalam mendukung ekspansi bisnisnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berencana menerbitkan obligasi dalam denominasi dollar atau global…

Gandeng Perusahaan Tiongkok - Kresna Berambisi Terdepan Garap Bisnis Starup

NERACA Jakarta-Sibuk membawa beberapa anak usahanya go public dan juga sukses mengembangkan bisnis digitalnya, PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN)…

Bangun Kompleks Petrokimia - Chandra Asri Petrochemical Dapat Tax Holiday

NERACA Jakarta – Sebagai komitmen patuh terhadap pajak, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) mendapatkan keringanan pajak atau tax holiday…