Hidupkan Kembali Konsep Link and Match

NERACA

Konsep Link and Match antara dunia pendidikan dan dunia kerja bisa menekan jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi yang dari ke hari makin bertambah.

Dewasa ini masalah-masalah pengangguran tenaga terdidik banyak disoroti oleh masyarakat. Khususnya tentang fungsi dan kedudukan sistem pendidikan dalam kaitannya dengan masalah ketenagakerjaan.

Diakui atau tidak, banyak sekali lulusan perguruan tinggi yang tidak memiliki keterampilan. Hal ini dapat disaksikan pada fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, di mana para lulusan perguruan tinggi setelah menjadi sarjana mereka cenderung menganggur dan bingung mencari pekerjaan.

Lebih ironisnya lagi, banyak lulusan perguruan tinggi yang ternyata ketika memasuki dunia kerja tidak memiliki ketrampilan sama sekali, sekalipun di antaranya mendapatkan indeks prestasi akademi (IPK) tinggi tetapi “nol” ketika bekerja.

Berangkat dari asumsi bahwa bertambahnya tingkat pengangguran disebabkan karena kegagalan sistem pendidikan, maka diperlukan adanya pendekatan-pendekatan tertentu dalam pendidikan, di mana konsep Link and Match perlu dihidupkan kembali dalam sistem pendidikan.

Konsep keterkaitan dan kesepadanan (Link and Match) antara dunia pendidikan dan dunia kerja yang dicetuskan mantan Mendikbud Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro perlu dihidupkan lagi. Konsep itu bisa menekan jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi yang dari ke hari makin bertambah.

Idealnya, ada tiga komponen yang harus bergerak simultan untuk menyukseskan program Link and Match yaitu perguruan tinggi, dunia kerja (perusahaan) dan pemerintah. Dari ketiga komponen tersebut, peran perguruan tinggi merupakan keharusan dan syarat terpenting. Kreativitas dan kecerdasan pengelola perguruan tinggi menjadi faktor penentu bagi sukses tidaknya program tersebut.

Ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan suatu perguruan tinggi untuk menyukseskan program Link and Match. Perguruan tinggi harus mau melakukan riset ke dunia kerja. Tujuannya adalah untuk mengetahui kompetensi (keahlian) apa yang paling dibutuhkan dunia kerja.

Selain itu, perguruan tinggi juga harus mampu memprediksi dan mengantisipasi keahlian (kompetensi) apa yang diperlukan dunia kerja dan teknologi sepuluh tahun ke depan.

Jika program Link and Match berjalan baik, pemerintah juga diuntungkan dengan berkurangnya beban pengangguran (terdidik).

Melihat manfaat yang cukup besar dari pelaksanaan Link and Match. diharapkan semua stakeholders dunia pendidikan bersedia membuka mata dan diri serta mulai bersungguh-sungguh menjalankannya.

Perguruan tinggi harus lapang dada menerima bidang keahlian (kompetensi) yang dibutuhkan dunia kerja sebagai materi kuliah utama. Perusahaan juga harus membuka pintu selebar-lebarnya bagi mahasiswa perguruan tinggi yang ingin magang (bekerja) di perusahaan tersebut. Sedangkan Pemerintah harus serius dan tidak semata memandang program Link and Match dengan sebelah mata.

BERITA TERKAIT

Butuh Kenyamanan, Hidupkan Lagi KRL Ekspres

Kami sudah 20 tahun naik KRL Commuterline, ternyata sampai sekarang masih amburadul kondisinya. Faktanya setiap hari kepadatan KRL sudah di…

Infrastruktur Berkualitas Rendah - Oleh ; EdyMulyadi, Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Proyek infrastruktur di Indonesia ternyata berkualitas rendah dan tidak memiliki kesiapan. Bukan itu saja, proyek yang jadi kebanggaan Presiden JokoWidodo itu…

Aksi Beli Bawa IHSG Kembali di Zona Hijau

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (16/1)kemarin, indeks harga saham gabungan ditutup naik tipis…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Peran Ibu Tak Akan Tergantikan dengan Teknologi

    Peranan ibu dalam mendidik anak tidak dapat digantikan oleh kemajuan teknologi seperti pada era digital saat ini, kata…

Pendidikan untuk Si Kecil di Era Teknologi

      Pada era millenial seperti saat ini, teknologi digital menjadi realitas zaman yang tidak dapat dihindari. Seiring perkembangan…

Mengapa Anak Usia 7 Tahun Ideal Masuk SD

    Selain kemampuan intelektual, kesiapan mental anak juga harus dipertimbangkan dalam aktivitas kegiatan belajar di jenjang pendidikan Sekolah Dasar…