Napak Tilas Tentara Nazi Jerman di Bogor

Sabtu, 08/09/2012

NERACA

Indonesia memang sudah 67 tahun merdeka, namun jejak-jejak penjajahan di Indonesia masihlah sangat terlihat jelas. Indonesia sendiri telah dijajah bangsa Eropa sejak tahun 1600-an dan Jepang masuk setelah penjajahan bangsa Eropa pada tahun 1942.

Penjajahan memang menyisakan luka yang mendalam bagi masyarakat pada waktu itu hingga saat ini. Banyak warga Indonesia yang tidak berdosa ikut tewas dalam peperangan merebut kemerdekaan itu. Namun peninggalan-peninggalan penjajahan pada masa itu sangat menarik untuk dikunjungi dan diketahui keberadaannya.

Bangsa Eropa memang sangat lama dalam menjajah Indonesia, namun tidak banyak yang mengetahui bahwa Jerman pun pernah datang ke Indonesia, memang tidak jelas tujuannya datang ke Indonesia. Banyak versi tentang cerita ini, ada yang bilang bahwa pasukan perang Nazi ini datang ke Indonesia untuk melarikan diri dari serangan musuh. Ada versi yang juga mengatakan bahwa pasukan perang Nazi Jerman datang ke Indonesia untuk menyembunyikan atau melarikan Adolf Hitler, pemimpin pasukan perang Jerman Nazi padasaat itu. Pasukan perang Nazi Jerman memang meninggalkan historis yang tidak sedikit di Indonesia.

Kawasan Kampung Situ, Desa Sukaresmi, Mega Mendung, Bogor, adalah salah satu wilayah yang dipilih Setelah perang dunia pertama berakhir, dua bersaudara asal Jerman, Emil dan Theodor Helfferich membeli 900 hektar tanah di kampung tersebut.

Mereka pun membeli perkebunan dan pabrik teh. Pada saat itu perkebunan tersebut berubah menjadi perkebunan dan pabrik teh yang maju. Karl Helfferich yang merupakan kakak tertua Emil dan Theodor juga sekaligus Wakil Perdana Menteri Kekaisaran Jerman di bawah Kaisar Jerman terakhir, menjadikan tempat tersebut untuk mengenang kejayaan 'Armada Asia Timur' milik Jerman di bawah Laksamana Graf Spee yang ditenggelamkan armada Britania.

Tempat ini pun sekarang ramai dikunjungi warga yang ingin melihat jejak tentara Nazi di Indonesia. Tempat pemakamannya pun bagus dan bersih, tidak terlihat menakutkan.

Dengan nisan khas salib Nazi, makam para marinir muda Jerman ini ditandai, para marinir muda ini tewas di dalam kedalaman perairan saat menuju ke Indonesia. Meski mereka menggunakan kapal selam berteknologi canggih pada masa itu, para marinir muda Jerman ini ditumbangkan oleh armada Britania pada Perang Dunia Kedua.

Sementara tahun 1943 Jepang dan Jerman yang bersekutu mendirikan pangkalan laut bersama di Jakarta. Dengan tujuan membongkar blokade armada sekutu agar hasil bumi dari Asia Tenggara dan Timur dapat dikirim ke pelabuhan Eropa, selain menjadi pangkalan logistik kapal selam Jerman sejak tahun 1944. Tercatat kapal selam canggih seperti U168, U196 dan U219 pemah singgah di situ.

Perkebunan milik Emil dan Helfferich itu juga turut menyumbang bantuan bagi kejayaan tentara Jerman selama berada di wilayah Indonesia. Termasuk mendirikan berbagai fasilitas pendukung bagi anak buah kapal, serta makam untuk para prajurit yang gugur.

Di pemakaman ini sendiri terdapat 10 makam tentara marinir muda Jerman. Tentara Jerman ini adalah saksi bisu kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia dalam Perang Dunia II.

Namun, warga setempat pun sempat tidak menyadarinya adanya pemakaman pasukan Nazi Jerman tersebut. Mereka justru menduga bahwa makam tersebut adalah makam orang Belanda. Padahal di dekat pintu masuk pemakaman, ada prasasti dari Kedubes Republik Federal Jerman di Jakarta. 'Deutscher Soldatenfriedhof' atau Taman Makam Tentara Jerman.

Makam tersebut hingga kini masih tetap terjaga rapi, warga setempat pun ikut menjaga kebersihan dan merawat peninggalan dari tentara nazi ini. Pengunjungnya pun semakin banyak, selain ingin mengetahui secara langsung bagaimana bentuk pemakaman Tentara nazi tersebut, pengunjung pun ingin merasakan dan menikmati keindahan juga kesejukan alam di sekitar pemakaman Tentara Nazi ini.

Meski terbilang tua, makam ini masih terjaga rapi dan makam ini pun menjadi salah satu peninggalan dan warisan dari sejarah yang harus tetap dijaga keberadaannya, dalam beberapa waktu, pemerintah Jerman juga menggelar upacara di tempat ini untuk menghormati pasukan Nazi yang telah gugur dan dimakamkan di pemakaman ini.