Melongok Koleksi Museum Perangko

NERACA

Kemajuan zaman memang memaksa manusia untuk berpikir lebih cepat, begitu pula dengan zaman surat. Surat kini sudah mulai ditinggalkan, dan perangko yang dulu menjadi primadona tidak lagi segemilau dahulu.

Namun kini kita tetap bisa melihat perangko di museum. Museum Perangkodihiasi sejumlah ukiran dan patung gaya Bali dan Jawa, dikelilingi pagar tembok dengan dua pintu gerbang yang mengambil model dasar candi bentar. Museum ini memamerkan koleksi aneka perangko Indonesia dan luar negeri.

Terletak di salah satu sudut Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Museum Perangko ini menyimpan bermacam-macam perangko surat. Di depan pintu masuk berdiri patung Hanoman, yang dalam pewayangan dikenal sebagai dhuta dharma pembawa berita, misinya sama dengan tugas pos.

Di samping kiri dan kanan pintu masuk ada dua lukisan gaya Bali karya pelukis Wayan Sutha yang merupakan cuplikan cerita pewayangan versi Bali, menggambarkan bahwa pada masa sebelum kertas dikenal seperti sekarang surat-menyurat menggunakan daun ‘ron’ tal.

Di Museum Perangko ini terdapat enam ruangan perangko atau biasa disebut ruang pamer. Ruang pamer pertama menyajikan berbagai koleksi, antara lain foto bahan dan alat yang digunakan untuk menulis surat pada daun tal, miniatur alat angkut surat tahun1602sampai tahun1864, serta foto-foto perangko pertama di dunia yang dikenal dengan The Penny Black, tokoh pencetus perangko Sir Rowland Hill, Kantor Pos pertama di Batavia, perangko pertama Belanda yang terbit tahun1852, dan klise perangko Belanda pertama bergambarRaja Willem IIIyang diterbitkan 1864.

Namun kini perangko sudah tidak segemerlap dulu, orang-orangpun sudah berpindah menggunakan teknologi yang lebih canggih, dan sudah sangat jarang orang yang menggunakan surat untuk berkomunikasi, namun sebagian orang tetap setia pada perangko, bukan untuk digunakan, namun untuk dikoleksi.

Begitu pula dengan Museum Perangko, tidak lagi seramai dulu, masa kini orang-orang lebih memilih pergi ke tempat hiburan atau pusat perbelanjaan dibandingkan dengan pergi ke Museum, padahal di Museum kita bisa mendapatkan informasi banyak dan mengetahui banyak hal yang tentunya sangat bermanfaat.

BERITA TERKAIT

Konferensi Museum Uang Beri Edukasi Masyarakat

      NERACA   Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan penyelenggaraan konferensi museum uang dan…

MK Apresiasi Museum Diorama Konstitusi di Jember

MK Apresiasi Museum Diorama Konstitusi di Jember NERACA Jember - Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman mengapresiasi rencana pembangunan…

Layar Interaktif Terpasang di Museum Samudra Raksa

Keistimewaan Candi Borobudur memang tak perlu lagi diragukan. Menyandang predikat sebagai situs warisan dunia dari UNESCO dan candi Buddha terbesar…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Galeri Nasional Pamerkan Karya Seni Rupa Pascareformasi

Galeri Nasional Indonesia bekerjasama dengan Japan Foundation Asia Center menyelenggarakan pameran "Resipro(vo)kasi: Praktik Seni Rupa Terlibat di Indonesia Pascareformasi" pada…

Prosesi Sedekah Laut di Cilacap dihadiri Ribuan Orang

Ribuan orang dari berbagai wilayah di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menyaksikan prosesi sedekah laut yang merupakan tradisi budaya nelayan setempat…

Jogja Street SculptureProject 2017 Hadirkan 54 Karya Patung

Jogja Street Sculpture Project (JSSP) 2017 akan digelar di Kawasan Kotabaru, Yogyakarta, dengan menghadirkan sebanyak 54 karya patung dari 50…