Waspadai Fluktuasi Kurs Rupiah

Fluktuasi nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS belakangan ini menunjukkan pergerakan yang patut diwaspadai semua pihak. Pasalnya, kurs rupiah terhadap US$ pada bulan lalu memperlihatkan kecenderungan menurun dari rata-rata Rp 9.440 menjadi Rp 9.560 per US$. Ini penurunan paling dalam diantara mata uang lainnya di kawasan Asia.

Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono mengakui pelemahan nilai tukar rupiah, menunjukkan kondisi mata uang Indonesia itu sedang menuju nilai keseimbangan baru di atas Rp 9.500. "Pelemahan rupiah memang lebih dalam ketimbang mata uang regional lainnya karena nilai tukar rupiah sedang dalam transisi menuju keseimbangan barunya sesuai dengan kondisi fundamental yaitu defisit transaksi berjalan yang memburuk," ujarnya kepada Antara di Jakarta, Senin (27/8).

Menurut dia, pelemahan rupiah ini sejalan dengan regional currency lainnya, yang disebabkan karena belum selesainya masalah Eropa juga terdapat negatif sentimen perkembangan situasi di China yang tidak sesuai harapan pasar.

Dari gambaran itu, kita melihat salah satu indikator ekonomi makro yang sensitif terhadap gejolak perekonomian eksternal adalah kurs mata uang. Nilai tukar mata uang mencerminkan kekuatan perekonomian sebagai akibat dari penetrasi dan efek dari perekonomian global.

Naik turunnya nilai tukar mata uang di pasar (apresiasi atau depresiasi) memperlihatkan besarnya volatilitas yang terjadi pada mata uang suatu negara. Jika volatilitas yang semakin besar, maka menunjukkan pergerakan kurs yang semakin besar dan sebaliknya. Ini juga gambaran terjadinya overvalued atau undervalued nilai tukar mata uang di sebuah negara.

Berbagai penelitian mencoba menganalisis aspek volatilitas nilai tukar mata uang. Hal ini didasari oleh sebuah fakta bahwa pergerakan kurs mata uang akan berpengaruh pada kegiatan perdagangan internasional, neraca pembayaran (balance payment) dan stabilitas perekonomian secara makro.

Misalnya Baldwin and Krugman menyatakan, bahwa pergerakan dalam kurs mata uang memiliki dampak yang berbeda-beda terhadap sektor kegiatan ekonomi, tergantung dari karakteristik khusus dari setiap industri. Karakteristik ini terlihat dari besarnya nilai investasi awal, substitusi barang dan ketahanan produk (durable good/nondurable good).

Perekonomian Indonesia hingga kini masih sangat rentan terhadap gejolak perekonomian dari luar negeri. Keterbukaan perekonomian yang tercermin dalam strategi pengembangan industri nasional yang berorientasi ke luar (outward looking) berdampak pada pergerakan kurs mata uang, khususnya terhadap Rp/US$ yang berfluktuasi semakin bebas.

Ini tentu terkait dengan kebijakan sistem nilai tukar di Indonesia menunjukkan perubahan dari waktu ke waktu seiring dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan ekonomi Indonesia. Secara garis besar perubahan sistem kurs tersebut dari sistem nilai tukar tetap (fixed exchage rate) ke sistem nilai tukar mengambang bebas (freefloating exchange rate) yang berlaku hingga sekarang.

Perubahan sistem kurs ini terjadi karena otoritas moneter menganggap, bahwa dinamika perkembangan eksternal berjalan sedemikian cepat seiring dengan keterbukaan perekonomian nasional terhadap penetrasi pasar asing, sehingga pergerakan nilai tukar mata uang Rp/US$ menjadi sulit untuk dikendalikan secara permanen. Inilah risiko sebuah negara masuk dalam pasar bebas saat ini.

Related posts