Menghindari Sektor Tambang Yang Mulai Terkoreksi

Dampak Krisis Global

Senin, 03/09/2012

NERACA

Jakarta - Dampak krisis global yang memicu perlambatan ekonomi Cina dan terjadinya permintaan tambang berkurang dari negeri tirai bambu tersebut, cukup memukul kinerja emiten pertambangan. Pasalnya, ditengah stok melimpah malah harga turun karena permintaan melemah dan kondisi ini tidak hanya di alami PT Bumi Resources Tbk yang merugi Rp 3 triliun di semester I-2012.

Kondisi yang sama juga dialami, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatat laba bersih US$ 238,94 juta pada semester I-2012. Laba ini turun dari periode sebelumnya US$ 274,048 juta akibat naiknya beban dan rugi kurs US$ 21,148 juta.

Dalam laporan keuangannya yang dipublikasi Jum’at akhir pekan kemarin, disebutkan pendapatan usaha Adaro meningkat US$ 126 juta, dari US$ 1,77 miliar (semester I-2011) menjadi US$ 1,93 miliar (semester I-2012).

Penjualan batubara perseroan juga tercatat meningkat menjadi US$ 1,778 miliar di semester I-2012, dari periode yang sama tahun lalu US$ 1,636 miliar. Pengiriman batubara ke luar negeri mencapai US$ 1,338 miliar, sedangkan domestik US$ 440,143 juta.

Beban pokok pendapatan ADRO naik menjadi US$ 1,297 juta, yang menjadikan laba kotor hanya US$ 633,58 juta. Sementara laba usaha perseroan stagnan ke US$ 551,44 juta. Laba sebelum pajak masih meningkat tipis dari US$ 485,95 juta menjadi US$ 486,19 juta. Namun posisi laba periode berjalan turun US$ 8,07 juta dari US$ 268,02 juta menjadi US$ 260,09 juta.

Periode Januari-Juni 2012 perseroan menderita rugi kurs US$ 35,36 juta, sementara periode yang sama tahun sebelumnya perseroan mencatat untung kurs US$ 8,31 juta. Laba per saham tercatat US$ 0,00813 per lembar, turun dari dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 0,00837 per lembar.

Laba Antam Anjlok

Hal yang sama juga dialami laba PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang anjlok 54% di semester I-2012, menjadi Rp 475,98 miliar dibandingkan tahun sebelumnya Rp 1,023 triliun. Dalam laporan keuangannya, disebutkan penjualan bersih Antam turun dari Rp 4,89 triliun menjadi hanya Rp 4,49 triliun menjadi penyebab turunnya laba di enam bulan pertama tahun 2012 ini.

Beban usaha perseroan yang naik turut menggerus bottom line perusahaan plat merah itu. Tercatat beban usaha sebesar Rp 469,48 miliar dibandingka tahun sebelumnya pada periode yang sama Rp 376,81 miliar.

Sehingga, laba kotor perseroan jadi turun menjadi Rp 871,68 miliar dari sebelumnya Rp 1,65 triliun. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tambang itu dapat untung selisih kurs Rp 127,67 miliar dari sebelumnya rugi Rp 195,93 miliar. Tapi tetap saja laba usaha Antam tidak bisa naik akibat tingginya beban tersebut. Laba usaha tercatat ambles menjadi hanya Rp 402,2 miliar dari sebelumnya Rp 1,27 triliun.

Alihkan Pasar Ekspor

Sementara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga terkeda dampaknya. Namun perusahaan tambang plat merah ini langsung mengalihkan pasar ekspor tambangnya ke India lantaran permintaan batu bara dari Cina berkurang.

Direktur Utama PTBA Milawarma mengatakan, perseroan berencana mengalihkan ekspor batu bara dari China ke India. Langkah ini dilakukan menyusul adanya permintaan yang cukup besar dari negeri Hindustan, “Saat ini penjualan batu bara ke lokal masih mayoritas 65%, sedangkan ekspor hanya 35%," ujarnya.

Sebelumnya, Research dari Indosurya Asset Management Reza Priyambada pernah bilang, saham pertambangan menjelang awal September diprediksi masih belum menunjukkan pemulihan. Turunnya harga komoditas masih menjadi faktor utama. Oleh karena itu, harga jual batubara belum juga menunjukkan perbaikan. “Kemungkinan masih akan tertekan kinerja mereka,”katanya.

Lebih lanjut menurut dia, periode hingga awal September dari sisi teknikal sebenarnya jika dilihat dari pergerakan indeks pertambangan, sudah memasuki area oversold sehingga tinggal menunggu potensi rebound aja. Namun demikian, katanya, tekanan atau aksi lepas saham pertambangan masih akan terus terjadi. kecuali untuk beberapa saham yang dinilai masih lebih baik seperti ITMG dan PTBA.

Sampai dengan awal September, lanjutnya, kemungkinan pergerakan dari saham-saham pertambangan tidak akan jauh berbeda dibanding dengan sekarang, dimana masih bergerak variatif. “Balik lagi tergantung dari sentimen nya seperti apa,”tandasnya. (bani)