Harga Stabil, Indorama Yakin Pendapatan Tumbuh 5% di 2012

NERACA

Jakarta - PT Indorama Synthetics Tbk (INDR) optimis pertumbuhan pendapatan mencapai 5% pada 2012. Hal itu didukung dari kestabilan harga bahan baku, “Pertumbuhan pendapatan diperkirakan tumbuh hanya plus minus 5% antara US$750 juta-US$820 juta pada 2012. Hal itu dikarenakan harga bahan baku relatif stabil. Laba bersih produsen benang ini, juga diperkirakan sama pada 2011, “kata Direktur PT Indorama Synthetics Tbk, V S Baldwa di Jakarta akhir pekan lalu.

Oleh karena itu, dirinya menyakini pertumbuhan pendapatan 2012 diperkirakan hampir sama dengan pendapatan 2011. Asal tahu saja, tahun 2011 perseroan mencatatkan kinerja tinggi karena bahan baku naik khususnya kapas pada awal semester pertama 2011 sehingga berdampak terhadap harga produk.

Sedangka harga bahan baku mencapai US$2,25 per pon pada 2011 sedangkan tahun ini harga bahan baku mencapai US$0,70-US$0,80. Lebih lanjut dia menuturkan, pihaknya juga optimis dapat meraih tingkat pendapatan dan laba bersih sama dengan tahun 2011. Meskipun krisis ekonomi global masih berlangsung. Pangsa pasar ekspor perseroan relatif menyebar baik di benua Asia, Amerika, dan Eropa sehingga dapat mendukung kinerja perseroan. Pada 2011, perseroan telah mengekspor ke 80 negara di dunia.

Pangsa pasar Eropa mencapai 34%, Amerika Utara mencapai 21%, Amerika Latin sebesar 17%, Asia sebesar 15%, Afrika dan Timur Tengah sebesar 10%, dan Australia sebesar 4%. "Kami tidak bergantung pada satu market sehingga krisis ekonomi global tak terlalu pengaruh. Selain itu kami memiliki pelanggan bagus sehingga mendukung kinerja," kata Baldwa.

Selain itu, kinerja perseroan juga didukung dari peningkatan kapasitas benang pintal sekitar 25%. Peningkatan kapasitas benang pintal dari 40 ribu menjadi 50 ribu pada tahun pertama. Hingga Juni 2012, perseroan mencatatkan penjualan sebesar US$396,8 juta dari semester pertama 2011 sebesar US$405,4 juta. Laba bersih perseroan mencapai US$20,4 juta pada semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar US$1,4 juta.

Belanja Modal US$ 35 Juta

Disamping itu, perseroan juga akan menggenjot belanja modal pada semester kedua 2012 dari belanja modal yang dianggarkan US$35 juta pada 2012. Kata V S Baldwa, pihaknya menganggarkan belanja modal sebesar US$70 juta dalam waktu dua tahun antara 2012-2013. Belanja modal yang dianggarkan sebesar US$30 juta-US$35 juta pada 2012.

Belanja modal tersebut digunakan untuk peningkatan kapasitas benang pintal, polyester pabrik di Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia dan pabrik di Uzbezkistan, “Belanja modal yang telah direalisasikan baru US$5 juta pada semester pertama 2012, dan kami akan genjot belanja modal pada semester kedua 2012. Belanja modal itu digunakan untuk pabrik di Purwakarta, Indonesia, dan Uzbezkiztan," ujar. (bani)

BERITA TERKAIT

Pemerintah Serius Atur Strategi Tekan Harga Tiket Pesawat

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang mengatur strategi untuk menekan harga tiket pesawat agar tidak terlalu tinggi sehingga masyarakat mampu membeli…

KREDIT UMKM BRI TUMBUH

Direktur Utama BRI Suprajarto (tengah) berpose bersama seluruh jajaran direksi BRI disela paparan kinerja keuangan triwulan II/2019 di Jakarta, Rabu…

Tumbuh 8%, Laba BRI Capai Rp16,16 Triliun

  NERACA Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Persero mencatat laba konsolidasi pada kuartal II 2019 tumbuh 8,19 persen secara…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BTN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) siap mendorong pertumbuhan ekonomi di Bengkulu agar bisa lebih maju lagi, salah satunya melalui…

Kinerja Keuangan Melorot - ANJT "Kencangkan Ikat Pinggang" di Operasional

NERACA Jakarta – Terkoreksinya pencapaian kinerja keuangan PT Austindo Nusantara Tbk (ANJT) di paruh pertama tahun ini, menjadi pertimbangan emiten…

Pasar Respon Positif Nota Keuangan 2020

NERACA Jakarta – Pidato nota keuangan negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 yang disampaikan presiden Joko…