Alasan Likuiditas, BEI Tetap Berlakukan di 2013 - Pro Kontra Pangkas Lot Saham

NERACA

Jakarta– Guna meningkatkan likuiditas pasar dan menjangkau investor kecil, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menggenjot rencana merubah besaran jumlah saham dari satu lot 500 lembar menjadi 100 lembar saham.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Samsul Hidayat mengatakan, rencana pengurangan jumlah saham tersebut akan dilakukan pada awal 2013, “Sekarang tinggal beberapa sistem yang harus direvisi agar rencana tersebut bisa berjalan seperti yang diharapkan. Seperti sistem perdagangan serta infrastruktur,”katanya di Jakarta akhir pekan lalu.

Selain itu, dirinya optimis langkah tersebut bisa meningkatkan jumlah investor ritel. Pasalnya, dengan pengurangan tersebut, investor bisa membeli saham dengan harga yang lebih murah. Lebih jauh dia mengatakan, dalam waktu dekat, bursa akan melakukan sosialisasi kepada Anggota Bursa dan mulai melakukan uji coba sistem.

Menurutnya, hal itu dimaksudkan untuk menginformasikan kepada Anggota Bursa mengenai jumlah saham per lot. Sekaligus memastikan kemampuan sistem dan infrastruktur yang dimiliki bursa.“Jangan sampai ketika mulai diberlakukan mengalami gangguan sistem,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen, menambahkan, pengurangan jumlah saham per lot akan meningkatkan transaksi di pasar modal. Sekaligus sebagai langkah awal meningkatkan kuantitas dan kualitas pasar modal Indonesia.“Bukan tidak mungkin dimasa mendatang, jumlah per lot sama dengan per unit saham,” kata Hoesen.

Stock Split Lebih Baik

Asal tahu saja, pengurangan jumlah saham dalam lot menuai pro dan kontra dari pelaku pasar dan termasuk analis. Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Pardomuan Sihombing pernah bilang, pengurangan tersebut tidak perlu dilakukan karena harga saham murah di pasar modal sudah sangat banyak, sehingga tidak perlu dikurangi jumlahnya dalam satu lot. "Likuiditas saham tidak perlu menurunkan lotnya, lebih baik di stock split saja,"tegasnya.

Penguatan basis investor serta memperbanyak emiten, menurut Pardomuan, dianggap lebih mumpuni untuk menaikkan likuiditas saham. Pardomuan mencontohkan pelaksanaan stock split yang dilakukan PT Astra Internasional Tbk (ASII) pada harga Rp 6.800 per lembar saham dari harga sebelumnya Rp 60.000 per lembar saham menjadi salah satu acuannya."Sekarang semua orang bisa memiliki saham Astra karena sudah murah. Kalau jumlah lot dikurangi, bagaimana dengan harga saham yang kecil-kecil di level Rp 50," tuturnya.

Sementara itu analis dari Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, rencana pengurangan jumlah saham dalam satu lot hanya akan menguntungkan saham yang memiliki fundamendal kurang baik. "Kalau untuk saham yang memiliki fundamental baik justru kurang menguntungkan," tuturnya.

Sebaliknya, Direktur Utama PT Lautandhana Securind, Wientoro Prasetyo mengatakan, jika kajian ini direalisasikan maka sudah pasti akan berdampak positif dengan meningkatnya likuiditas di pasar modal.

Dia pun mencontohkan, ketika harga saham PT Astra Internasional Tbk (ASII) di kisaran Rp60 ribu, dan satu lot tersebut terdiri dari 500 lembar saham, maka investor harus mengeluarkan dana sangat besar untuk membeli saham.

Meski demikian, Wientoro menuturkan bila porsi satu lot saham akan dikurangi, harga saham ASII pun sudah terjangkau dibanding harga saham perusahaan lain yang tercatat di BEI yakni di kisaran Rp6.000-Rp7.000. Artinya, ini merupakan peluang bagi investor ritel. "Bila ingin menggalang investor ritel seperti mahasiswa maka kajian tersebut berdampak positif sehingga lebih banyak partisipasi ritel," ujar Wientoro. (bani)

Related posts