BEI Percaya Diri, Kalau Minat IPO Masih Ada Hingga Akhir Tahun - Realisasi Target di Semester II-2012

NERACA

Jakarta – Memasuki paruh kedua tahun ini, target industri pasar modal mampu mencatatkan 25 emiten baru tahun ini belum mendekati. Kendatipun demikian, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap percaya diri dan optimis mampu terealisasi. Bahkan pihak BEI mengklaim, pencatatan saham perdana PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) pada Jumat akhir pekan lalu (31/8) sebagai bukti bahwa masih ada emiten yang bersedia IPO.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, melantainya Inti Bangun Sejahtera sebagai emiten ke-14 di 2012 menambah jumlah emiten yang tercatat di pasar modal mencapai 452, “Dengan pencatatan emiten ini, menunjukkan kekhawatiran bahwa tidak ada minat IPO tidak tepat, masih banyak emiten yang mau IPO," katanya di Jakarta, kemarin.

Kendatipun demikian, dirinya tidak menapik dampak krisis global mempengaruhi rencana perseroan untuk listing di pasar modal. Namun hal tersebut tidak menjadi kendala utama. Sementara Direktur Penilaian BEI Hoesen mengatakan, akan ada delapan perusahaan yang bakal mencatatkan sahamnya di pasar modal hingga akhir tahun.

Dia mengungkapkan, perusahaan yang akan melakukan IPO hingga akhir tahun ini terdapat dari sektor agrobisnis, properti dan transportasi. Dengan rencananya saham yang akan dilepas sekira 20%, “BEI berharap hingga akhir 2012, ada perusahaan besar yang akan melakukan penawaran saham perdana kembali, selain itu BEI berharap adanya perusahaan besar yang melakukan IPO, sehingga masyarakat bisa memiliki saham dari perusahaan yang berkualitas,"ungkapnya.

Hoesen menambahkan, hingga saat ini total emiten yang telah mencatatkan sahamnya di bursa sebanyak 14 emiten. Target BEI hingga akhir tahun yakni 25 perusahaan mencatatkan sahamnya. Pihak BEI optimis target hingga akhir tahun dapat tercapai, dan diharapkan dengan semakin banyaknya perusahaan yang akan IPO, maka market cap Indonesia semakin besar.

Selain itu, Hoesen juga mengungkapkan, anak usaha Tiara Marga Trakindo group, PT Sumberdaya Sewatama bersiap menerbitkan surat utang obligasi dengan total Rp 700 miliar. Manajemen Sumberdaya Sewatama telah mengajukan permohonan kepada Bursa dan pekan depan diselenggarakan mini expose."Minggu depan mini expose-nya," ujarnya.

Rencananya, Sumberdaya Sewatama siap menerbitkan surat utang senilai Rp 700 miliar. Perseroan menerbitkan dua jenis obligasi, konvensional dan syariah. Sumberdaya Sewatama adalah bagian dari unit bisnis PT Trakindo Utama, perusahaan alat berat. Perseroan menjalankan bisnis pada bidang power solution services. Perseroan berdiri sejak tahun 1991 dengan total karyawan mencapai 1.100 orang.

Sekar Bumi Siap Relisting

PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) berencana mencatatkan kembali sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan sebelumnya pernah tercatat di Bursa Efek Surabaya (BES) dan efektif delisting 30 November 2009.

Namun dia belum mengungkap lebih lanjut alasan Sekar Bumi melakukan relisting tersebut. Manajemen Sekar Bumi, menurut Hoesen, baru akan bertemu dengan Bursa pekan depan. Asal tahu saja, menjelang akhir November 2009, Sekar Bumi masuk daftar penghapusan saham bersama enam emiten lain. Diantaranya, PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK), PT Courts Indonesia Tbk (MACO), PT Jasa Angkasa Semesta Tbk (JASS), PT Sara Lee Body Care Indonesia Tbk (PROD), PT Singleterra Tbk(SING), dan PT Tunas Alfin Tbk (TALFA-TALFB).

Dukungan Penjamin Emisi

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Isaka Yoga pernah bilang, semua perusahaan menginginkan untuk IPO karena sebagai cari dana selain pinjaman perbankan.

Hanya saja, apakah ada penjamin emisi yang mau ambil risiko sebagai penentu harga dalam IPO di tengah kondisi pasar yang tidak baik, “Persoalan tidak semua penjamin emisi mau ambil risiko menjadi penjamin pelaksana IPO. Kalau ada underwriter yang berani, dipastikan IPO jalan terus,”ungkapnya.

Dia menjelaskan, kesuksesan pelaksaan IPO berada di tangan penjamin emisi sebagai yang memiliki kepentingan menentukan harga saham perdana dan menawarkan ke investor negara lain.

Menurutnya, penambahan emiten penting untuk meningkatkan likuiditas pasar modal. Jika emiten itu-itu saja, tentu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jenuh. Maka dengan adanya tambahan emiten baru dan berkualitas, kondisi ini menjadi pilihan lebih banyak dan investor akan tertarik.

Oleh karena itu, lanjut Isaka, penambahan emiten hanya satu faktor menjadi percuma jika emiten bertambah, namun investor dalam negeri masih minim."Bursa saham bisa likuid. Namun bukan hanya kinerja emiten dan jumlah saham yang beredar. Jumlah investornya. Di kita masih minim, bandingkan dengan Malaysia yang investornya sudah 10 juta,"ungkapnya.

Tertinggal Jauh

Jumlah penduduk Malaysia sekitar 28 juta tetapi investornya sudah mencapai 10 juta dan jumlah emiten Malaysia juga cukup tinggi yang mencapai 1.000, sedangkan di Indonesia baru 400 saham perusahaan.

Kata Isaka, banyak perusahaan di Indonesia yang memiliki potensi untuk "go public". Namun, minat perusahaan dinilai masih kurang, maka itu dibutuhkan suatu kampanye untuk mendorong perusahaan masuk bursa dalam menambah dana ekspansi. "Kami melihat pihak 'underwriter' kurang berani menjamin terkait dengan kondisi bursa saham yang masih bergejolak. Emiten perlu ditingkatkan, seharusnya ada kampanye dari 'underwriter', tapi kita belum pernah mendengar hal seperti itu," ujarnya.

Saat ini emiten yang mencatatkan saham perdana di BEI dan investor pasar modal domestik juga terhitung masih minim. Sebagai informasi, jumlah perusahaan yang tercatat di BEI sebanyak 444 saham dan jumlah sub rekening di pasar modal Indonesia baru sekitar 350 ribu rekening.

Kondisi itu, lanjut dia, cukup kecil jika dibandingkan dengan jumlah emiten dan investor pasar modal di Malaysia. Isaka Yoga menilai, perusahaan yang akan melakukan IPO pada tahun ini diperkirakan minim. (bani)

Related posts