Tingginya Minat Terhadap KPR dan KKB

Sabtu, 08/09/2012

NERACA

Minat masyarakat terhadap kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB) pada tahun ini, tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan kredit lain, Bank Indonesia (BI) khawatir risiko kredit akan meningkat.

"Pertumbuhan kredit tercepat dapat diperkirakan pada peningkatan kredit konsumsi. Didominasi oleh KPR dan KKB," tutur Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Filianingsih Hendarta, di Jakarta.

Sepanjang tahun 2011 pertumbuhan KPR tumbuh 33,12%, sedangkan pertumbuhan KKB 32,6%, pertumbuhan kedua kredit ini melebihi target kredit ini sendiri, ini membuat BI khawatir akan naiknya kredit pada kedua kredit ini.

Sedangkan pada 2012 pertumbuhan KPR sudah mencapai 43,04% dan KKB sebesar 29,33%. Sementara pertumbuhan agregat kredit sebesar 23,72%. Kondisi pertumbuhan KPR dan KKB yang kian pesat ini bisa mendorong kenaikan harga properti. Jika berlangsung terus menerus bisa mendorong peningkatan harga aset properti yang tidak mencerminkan harga sebenarnya yang akan mengakibatkan penggelembungan (bubble).

Melihat pertumbuhan kedua kredit ini tak mungkin membuat kenaikan kredit bagi bank-bank dan dengan exposur kredit properti yang besar, ini yang menjadi permasalahan bagi dua kredit, tak ayal ini akan memberatkan masyarakat.

Bank Indonesia belum lama ini mengeluarkan surat mengenai batasan uang muka (DP) kredit rumah. Dengan adanya surat ini sedikit terjadinya penurunan pertumbuhan KPR. Namun, penurunan ini masih relatif standar tidak terlalu terpengaruh terhadap pertumbuhan properti, tuturnya.

Ia menambahkan, BI berharap idealnya pertumbuhan kredit KPR tumbuh sejalan atau kurang lebih sama dengan kredit lainnya. Ini akan menunjukkan adanya pemerataan dalam penyaluran kredit.

BI menilai dengan mulai efektif diberlakukannya batasan uang muka KPR pada Juni 2012, pertumbuhan KPR sepanjang tahun ini akan turun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini lantaran terjadi penundaan pengumpulan DP dari konsumen untuk menyesuaikan dengan aturan yang baru selama 7-8 bulan. Namun, BI optimistis pada tahun berikutnya pertumbuhan KPR akan kembali meningkat.

"Intinya dengan aturan baru ini diharapkan bank akan semakin hati-hati dalam menyalurkan KPR. Tidak jor-joran. Jadi saringan untuk dapat pembeli potensial yang benar-benar menjalankan pembayaran sampai, bukan sekedar spekulasi," tuturnya.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dalam laporan kinerja semester I tahun ini juga mencatatkan pertumbuhan signifikan untuk kredit konsumer sebesar 50% menjadi Rp60 triliun. Pertumbuhan itu didorong oleh pertumbuhan portofolio KPR 73,5% menjadi Rp36,5 triliun dibandingkan dengan semester I - 2011. "BCA terdepan dalam penyaluran KPR setelah meluncurkan KPR dengan suku bunga tetap 8% untuk jangka waktu 55 bulan pada Februari 2012.

Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk hingga semester I - 2012 mencatatkan outstanding pertumbuhan kredit pemilikan rumah menjadi Rp20,11 triliun dari Rp15,23 triliun pada semester I tahun lalu. Sedangkan selama enam bulan pertama tahun ini, Bank Mandiri telah menyalurkan kredit untuk pembelian rumah sebesar Rp2,33 triliun.