Satu Dasa Warsa Lifting Minyak Turun Terus

Satu Dasa Warsa Lifting Minyak Turun Terus

Jakarta—Lifting minyak Indonesia ternyata para dalam satu dasa warsa. Karena tercatat dalam 10 tahun terakhir asumsi pemerintah terhadap target lifting minyak tidak pernah tercapai. "Saya sangat kecewakan ini, dalam 10 tahun (lifting) tidak tercapai, tidak pernah capai target, itu turun terus," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa kepada wartawan di Jakarta, (14/4)

Melihat kenyataan tersebut, Hatta mengaku sangat kecewa dan kesal. Karena berbagai alasan terus bermunculan. Padahal harga minyak dunia terus merambat naik. Sehingga membuat pemerintah harus mempersiapkan perubahan asumsi makro terkait lifting minyak

Hatta beralasan banyaknya masalah yang terjadi menjadi seperti kecepatan pengambilan keputusan, ijin baik di pusat atau daerah, masalah peralatan, masalah tender, masalah POD, ataupun kombinasi peralatan. "Hari ini saya mendengar ada oil yang ada di penampungan itu terganggu heater-nya. Macam-macam lah pokoknya," jelas dia.

Ditempat terpisah, Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh mengatakan Indonesia sampai sekarang hanya mengandalkan produksi minyak dari sumur tua yang biaya produksinya semakin mahal. Itulah yang mengakibatkan cadangan minyak menipis, hanya kuat untuk 23 tahun ke depan. "Pemerintah mengajak masyarakat untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar minyak agar lebih produktif, karena sumur-sumur yang semakin tua membuat biaya produksi minyak semakin mahal," ujarnya.

Oleh karena itu, Darwin, meminta masyarakat saat ini tidak terlalu bergantung pada bahan bakar minyak (BBM). "Khususnya PLN dalam menggunakan BBM untuk listrik. Karena itu pembangunan infrastruktur gas dan batubara perlu dipercepat agar penggunaan BBM oleh listrik cepat menurun," jelasnya.

Lebih jauh kata Darwin, lapangan minyak milik Chevron di Riau yang menjadi andalan Indonesia terus menurun produksinya karena umurnya makin tua. Sumur-sumur minyak di Riau pernah mencapai puncak produksi 1 juta barel per hari di 1973. Kemudian produksinya turun alamiah hingga 500 ribu per barel pada 1984.

"Ahli permnyakan di 1996-1997 berhasil menaikkan produksi sumur-sumur tua itu dengan teknologi injeksi uap, sehingga produksi mencapai 780 ribuan barel. Kini sudah sangat menurun tinggal 360 ribuan barel," jelas Darwin.

Saat ini para ahli juga sedang berusaha dengan teknologi baru agar produksi minyak di sumur-sumur itu bisa kembali mencapai puncak di 2030. Darwin sebelumnya mengatakan, cadangan minyak Indonesia hanya cukup untuk 23 tahun saja. Selain minyak, saat ini cadangan gas bumi Indonesia hanya bertahan untuk 63 tahun, sementara cadangan batubara untuk 77 tahun.

Sebelumnya pemerintah yakin revisi asumsi negatif yang nanti dilakukan pada APBNP hanya akan dilakukan dengan yang terkait terkait minyak. "(Revisi) yang berkaitan dengan (lifting dan ICP) minyak saja," ungkap Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang PS Brojonegoro.

Target lifting yang saat itu berhasil melampaui asumsi setelah dilakukan revisi di APBNP hanya pada tahun 2008 yakni sebesar 936 ribu barel per hari dari target yang ditetapkan sebesar 927 ribu per hari.

Sedangkan pada 2005 meskipun kala itu ditetapkan dilakukan dua kali revisi namun realisasi lifting masih belum dapat tercapai. Adapun revisi tersebut adalah 1.125 juta barel per hari di APBNP-I dan 1.075 juta barel per hari namun pada kenyataannya lifting hanya mencapai 1.003 juta barel per hari **cahyo

Related posts