Defisit Transaksi Berjalan Sebabkan Kurs Tengah Rupiah Melemah

NERACA

Jakarta – Kurs tengah rupiah pada hari ini melemah sampai mencapai angka Rp 9553 per satu US$, berdasarkan data yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI). Baru sekarang lagi kurs tengah rupiah turun serendah ini, setelah dulu pada 20 November 2009, nilai kurs tengah rupiah tercatat Rp 9581 per satu US$. BI memperkirakan hal ini disebabkan oleh kondisi fundamental dalam negeri yaitu defisit transaksi berjalan.

”Kondisi fundamental dalam negeri yaitu adanya defisit transaksi berjalan memang akan membuat nilai tukar akan melemah, tetapi kami akan tetap jaga agar pelemahan itu terjadi secara orderly sehingga tidak mengganggu perhitungan bisnis, baik importir maupun eksportir,” kata Hartadi A. Sarwono, Deputi Gubernur bidang Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, kepada wartawan di Bank Indonesia, Rabu (29/8).

Selain defisit transaksi berjalan, pelemahan kurs tengah rupiah juga disebabkan oleh keadaan pasar mata uang. ”Namun BI akan terus masuk pasar untuk meredam volatilitas rupiah,” ujarnya.

Pelemahan nilai mata uang, menrut dia, tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi juga di negara-negara lain di Asia. Karena pertumbuhan ekonomi dua negara besar di Asia, yakni Jepang dan Cina memang sedang melambat.

”Pelemahan rupiah searah dengan mata uang regional lainnya, terkena imbas negatif melambatnya data ekonomi Jepang dan China di tengah pelaku pasar yang menunggu pernyataan Fed Chairman di Jackson Hole,” imbuhnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution pernah mengatakan bahwa defisit transaksi berjalan Indonesia di triwulan kedua 2012 disebabkan oleh pertumbuhan impor kita yang lebih tinggi dari ekspor.

”Cerita agak kurang bagusnya adalah ada keseimbangan eksternalnya di mana ekspor kita pertumbuhannya di triwulan II itu negatif, sementara impor tetap tinggi di 15%-an. Sehingga akibatnya transaksi berjalan defisitnya membesar,” paparnya.

Selain itu juga dikarenakan bertambahnya modal asing di pasar modal. ”Ditambah memang karena modal asing itu di Surat Berharga Negara (SBN), di saham, di investasi langsung banyak, jadi tidak heran kalau profitnya naik,” katanya.

Karena defisit transaksi berjalan semakin membesar, maka Darmin bilang bahwa ini sudah harus menjadi prioritas pemerintah untuk menanganinya. Terutama melalui cara memperbesar Foreign Direct Investment (FDI) yang masuk ke Indonesia.

”Defisit transaksi berjalan di kuartal kedua sudah 3,1% dari Gross Domestic Product (GDP), dan itu memang kita anggap sudah agak terlalu besar, sehingga kita sudah berbicara dengan menteri-menteri kabinet bahwa itu harus menjadi prioritas untuk memperbaikinya. Kita juga menyampaikan ke pemerintah bahwa perlu fokus pada memperbaiki foreign direct investment (FDI). Artinya fokus untuk mengembangkan MP3EI harus perlu diprioritaskan yang mana, sehingga PMA bisa masuk lebih besar. Transaksi berjalan itu defisitnya tidak terlalu masalah kalau bisa diimbangi dengan FDI,” paparnya.

Ia sendiri berharap bahwa defisit transaksi berjalan ini bisa membaik di akhir tahun. “Mudah-mudahan perkiraan kita dia (deficit transaksi berjalan) bisa membaik rasionya terhadap GDP di akhir tahun. Rasionya terhadap GDP yang sekarang ini 3,1% kita harapkan bisa membaik jadi 2,2%-2,3% dari GDP,” tutupnya.

BERITA TERKAIT

Rupiah Melemah 0,24% Masih Dianggap Wajar

      NERACA   Jakarta - Tingkat pelemahan nilai tukar rupiah saat ini yang sebesar -0,24 persen (year to…

Pesantren di Tengah Pusaran Pilkada

Oleh : Nurdin M. Noer, Pemerhati Budaya Masyarakat   “Pesta politik” pun dimulai. Para pasangan calon, baik walikota/bupati dan gubernur…

Tumbuh Berani di Tengah Gelombang

Oleh: Mochammad Bayu Tjahono, Staf Direktorat Jenderal Pajak *) Tak salah jika menyebut tahun 2018 merupakan tahun politik. Pada 27…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Suku Bunga Acuan Diprediksi Naik Kuartal IV

      NERACA   Jakarta - Chief Economist PT Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja memprediksi suku bunga acuan atau…

AAJI Dorong Asuransi Manfaatkan Aplikasi Digital

      NERACA   Bali - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mendorong anggotanya untuk mengoptimalkan pemanfaatan aplikasi teknologi digital…

Bank Mandiri Bidik Pertumbuhan KPR 15%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri Persero Tbk membidik pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dapat mencapai 15…