Bank Raharja Dongkrak Pendapatan Lewat Trade Finance

Kamis, 30/08/2012

NERACA

Surabaya - PT Bank Ekonomi Raharja Tbk yakin bisnis "trade finance" dapat meningkatkan pendapatan atas jasa (fee based income) menjadi sekitar 17% pada tahun 2012.

"Kami optimistis dapat mencapai kenaikan pendapatan atas jasa pada tahun ini karena pada tahun 2011 bisa mencapai 16 persen," kata Senior Vice President Head of Global Transaction Banking PT Bank Ekonomi Raharja Tbk, Edwin Rudianto, di Surabaya, Rabu.

Menurut dia, "trade finance" adalah bisnis yang sangat menarik dimana layanan dan pembiayaan disediakan berasal dari pendapatan atas jasa dan "interest income" perbankan.

Baca juga: Kredit Bank Jatim Tumbuh 14%

"Risiko bisnis tersebut lebih kecil dibandingkan pinjaman konvensional lain seperti Pinjaman Rekening Koran (Overdraft) dan Pinjaman Berjangka (Term Loan)," ujarnya.

Salah satu penyebabnya, jelas dia, karena layanan dan pembiayaan "trade finance" bersifat jangka pendek, "self liquidating", selektif, dan spesifik. Dalam HSBC Group, layanan dan pembiayaan "trade finance"-nya dikenal sebagai "Global Trade and Receivable Finance (GTRF)". "Upaya tersebut sekaligus guna memenuhi kebutuhan seluruh segmen pasar," katanya.

Baca juga: Klaim Asuransi Kecelakaan Jasa Raharja Rp26 miliar - Lebaran 2015

Sementara itu, penerapan "GTRF" di bisnis perbankannya dilakukan oleh divisi khusus. Mereka bertanggung jawab pada kegiatan "trafe finance" dari proses awal akuisisi nasabah sampai dijalankannya transaksi.

"Dalam upaya meningkatkan layanan 'trade finance' kepada nasabah kami melakukan perubahan signifikan selama tahun 2011," katanya.

Hal itu, imbuh Edwin, berdampak positif terhadap kepuasan nasabah yang semakin memberikan nilai tambah kepada perkembangan bisnis "trade finance" di bank-nya.

"Pada tahun 2011, kami mencatat pertumbuhan bisnis 60 persen dibandingkan tahun 2010, pertumbuhan jumlah nasabah 30 persen, dan pembiayaan komoditas melalui 'Warehouse Receipt Financing' dan 'Delivery Order Financing' seperti biji-bijian, 'CPO', dan gula," kata Edwin.

Baca juga: Bank DKI Diminta Sediakan EDC di Pasar Tradisional