BEI Perketat Prasyarat Data Vendor - Mencegah Error Remote Trading

NERACA

Jakarta – Dampak dari errornya remote trading perdagangan bursa yang memiliki potensi kerugian komisi fee broker sebesar Rp 500 miliar dan potensi kerugian nilai transaksi harian sekitar Rp 4 triliun menjadi pelajaran bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Oleh karena itu, kedepannya BEI akan memperketat prasyarat data vendor yang ingin bekerja sama dalam rangka distribusi data harga saham, “Cara ini dilakukan bertujuan untuk mencegah terulang tersendatnya perdagangan bursa, “kata Direktur Teknologi dan Manajemen Risiko Adikin Basirun di Jakarta, Selasa (28/8).

Dia menjelaskan, erornya perdagangan Senin kemarin disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya data vendor, yang belum seluruhnya mendistribusikan informasi saham ke perusahaan sekuritas dan pada akhirnya diterima investor, “Karena ada kendala kemarin, sistem berpindah ke DRC (Disaster Recovery Center). Kemarin kami memberi waktu kepada AB melalukan koneksi ke DRC,"ujarnya.

Dia menegaskan, bursa selalu memberikan data hasil transaksi ke data vendor yang kemudian dijual kepada Anggota Bursa (AB) sebagai bahan keputusan investor. Dari lebih dari 10 data vendor, empat diantaranya masih terhubung pada core sistem, belum ke sistem DRC.

Maka untuk kedepannya, kata Adikin, BEI ingin seluruh data vendor juga terkoneksi pada DRC dan membuat persyaratan ketat. Pasalnya, selama ini sifatnya kontraktual dan perjanjian akan diperbaharui dengan konsultasi ke legal. Hal ini pula yang menjadi perhatian Menteri Keuangan Agus Martowardjojo, “Semua vendor dipastikan harus terhubung juga ke sistem DRC, supaya informasi tidak asimetris. Memang sekarang hanya sebagian terhubung karena harus investasi jaringan dalam bentuk fiber optic," imbuhnya.

Jaga Kredibilitas

Sementara ditempat terpisah, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengimbau seluruh pelaku pasar modal menjaga kredibilitas dan keberlanjutan Bursa Efek Indonesia walau sistem "remote trading" BEI pada Senin kemarin yang sempat terhenti selama 30 menit,”Saya melihat bukan hanya dari segi persoalan finansial semata, tetapi persoalannya bagaimana kemampuan kita untuk menyelesaikan dan mencegah hal tersebut,"paparnya.

Menurutnya, sistem perdagangan bursa yang sempat terhenti merupakan persoalan teknis, yang harus diselesaikan. Kendati demikian, pihaknya tidak berwenang untuk memanggil pihak bursa untuk menjelaskan terhentinya sistem "remote trading" tersebut.

Dia mengatakan, pihak Bapepam-LK berencana memanggil dan meminta laporan dari pimpinan BEI sehubungan terhentinya sistem "remote trading" bursa. "Kami dengar pihak Bapepam-LK akan memanggil dan meminta laporan dari pimpinan bursa mengenai hal itu. Sekaligus meminta laporan bagimana hal ke depan agar tidak terulang lagi," imbuhnya.

Dia menambahkan, Bapepam-LK sebagai regulator pasar modal memiliki "concern" yang lebih besar dibandingkan dengan Kementerian Keuangan. Selain itu, dia berharap pristiwa terhentinya remote trading kemarin tidak mengganggu lama aktivitas perdagangan di lantai bursa.

Permintaan Maaf

Merespon kekecewaan investor, Direktur Utama BEI menyampaikan minta maaf kepada investor dengan terganggunya koneksi remote trading pada perdagangan saham kemarin, “Secara umum kita meminta maaf kepada investor karena ada gangguan dalam perdagangan saham,”tegasnya.

Selain itu, agar koneksi remote trading bermasalah tidak terjadi lagi ke depan, Ito meminta anggota bursa dan vendor wajib untuk terhubung dengan DRC. Selama ini ada empat vendor yang tidak terhubung dengan DRC. "Kita buat perjanjian, dan dalam perjanjian tersebut sudah diwajibkan," tutur Ito.

Sebelumnya, Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, kejadian ini dinilai memalukan, “Di saat BEI ingin menjadi bursa kelas dunia, namun sistem perdagangannya mati,”cetusnya.

Bicara masalah kerugian, kata Edwin, pihaknya melihat dari komisi saja bisa mencapai ratusan miliar. Pasalnya, jika transaksi ramai maka diperkirakan mencapai Rp500 miliar. Sementara analis BNI Securities, Viviet S Putri mengakui, potensi kerugian komisi sekuritas diperkirakan Rp 200 miliar dan potensi kerugian nilai transaksi harian sekitar Rp 4 triliun, “Pasca liburan minat investor cukup kuat bertransaksi saham, namun sayangnya sistem remote trading BEI mengalami kendala. Kondisi ini membuat IHSG stagnan,”paparnya. (bani)

BERITA TERKAIT

BEI Gelar Roadshow Pasar Modal Ke Tiongkok - Bidik Lebih Banyak Investor Asing

NERACA Jakarta  - Meskipun penetrasi pasar modal di dalam negeri masih rendah, hal tersebut tidak membuat PT Bursa Efek Indonesia…

Saham KIOS Masuk Dalam Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Dibalik akuisisi PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) terhadap PT Narindo Solusi Komunikasi (Narindo), membuat pergerakan harga…

BEI Berikan "Karpet Merah" Bagi Starup - Dorong Listing di Pasar Modal

NERACA Jakarta – Sukses membawa perusahaan starup Kioson mencatatkan sahamnya di pasar modal, mendorong bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pendapatan BTEL Susut Jadi Rp 1,51 Miliar

Bisnis telekomunikasi milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus menyusut. Tengok saja, hingga periode 30 Juni 2017 meraih pendapatan sebesar…

Saham IPO ZINC Oversubscribed 500 Kali

Kantungi dana segar hasil peawaran umum saham perdan atau initial public offering (IPO), PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menyiapkan…

Hotel dan Residensial Beri Kontribusi - Penjualan PP Properti Proyeksikan Tumbuh 60%

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal dua bulan lagi, PT PP Properti Tbk (PPRO) terus bergerilya untuk memenuhi…