Laba Bersih Indofood Capai Rp 1,68 Triliun di Semester Satu

NERACA

Jakarta – Sepanjang semester I, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) membukukan laba bersih Rp 1,68 trliun, atau naik 6,5% dari periode yang sama tahun 2011 sebesar Rp 1,58 triliun. Naiknya penjualan menjadi faktor pemicu kenaikan laba perusahaan. "Penjualan bersih tercatat Rp24,58 triliun, atau naik 12,5% dari Rp21,84 triliun," kata Direktur Utama dan CEO PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Anthoni Salim dalam siaran persnya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (28/8).

Dia menambahkan, dari total penjualan tersebut, kelompok usaha yang memberi kontribusi terbesar masih disumbangkan produk konsumen bermerek (CBP) yaitu sebesar 44%. Kemudian Bogasari 24%, Agribisnis 24% dan distribusi 8%. "Grup CBP yang terdiri dari mi instan, penyedap makanan, makanan ringan dan nutrisi makanan khusus terus mencatatkan pertumbuhan total nilai penjualan yang didorong pleh pertumbuhan vlume penjualan di hampir seluruh divisi dalam grup," jelas Anthoni.

Sementara laba kotor di semester I-2012 tercatat naik menjadi Rp 6,72 triliun dari Rp 6,32 triliun. Namun margin laba kotor turun menjadi 27,4% dari 28,9%. Penurunan dipicu melemahnya divisi perkebunan akibat tertekannya harga kelapa sawit dan karet. Laba usaha tumbuh mencapai 2,6% menjadi Rp 3,57 triliun dari Rp 3,48 triliun. Sayangnya margin laba usaha tercatat turun menjadi 14,5% dari 15,9% akibat meningkatnya beban operasional.

Sebagai perbandingan, di kuartal I-2012 INDF membukukan laba bersih periode berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk naik 10,8% menjadi Rp 815 miliar dari Rp 735,6 miliar, dan keuntungan inti meningkat 10,9% menjadi Rp 805,6 miliar dari Rp 726,4 miliar pada periode yang sama ditahun sebelumnya.

Sementara penjualan bersih konsolidasi sebesar Rp 11,83 triliun di kuartal I-2012 atau naik 9,9% dari Rp 10,76 triliun pada kuartal I-2011. Sedangkan laba kotor perusahaan menurun menjadi Rp 3,27 triliun di kuartal I-2012 dari sebelumnya Rp 3,32 triliun, yang disebabkan oleh turunnya kinerja Grup Agribisnis sebagai akibat turunnya sebagai akibat turunnya harga CPO dan karet.

Marjin laba kotor juga turun 320 basis point menjadi 27,7%, meskipun laba usaha tumbuh sebesar 0,4% menjadi Rp 1,78 triliun berbanding Rp 1,77 triliun, karena turunnya beban operasional, dan marjin laba usaha turun menjadi 15% dari 16,5%.

Pertumbuhan perusahaan dikontribusikan oleh kelompok usaha strategis, yaitu produk konsumen bermerek (CBP), Bogasari, Agribisnis dan Distribusi. "Grup CBP memberikan kontribusi penjualan terbesar diikuti oleh Bogasari, Agribisnis dan Distribusi dengan kontribusi masing-masing 44%, 25%, 23% dan 8% terhadap penjualan bersih konsolidasi," papar Anthoni beberapa waktu lalu.

Grup CBP mencatatkan pertumbuhan total nilai penjualan sebesar 13,4%, yang didorong oleh pentingkatan volume penjualan dihampir seluruh divisi dalam grup, sementara Grup Bogasari meningkat 5,9% terutama didorong oleh naiknya penjualan dan Grup Agribisnis bertumbuh sebesar 10,2%, terutama didorong oleh kenaikan volume penjualan produk minyak goreng dan lemak nabati. Disisi lain, Grup Distribusi juga mencatatkan peningkatan total nilai penjualan sebesar 8,1% antara lain ditopang oleh pertumbuhan penjualan Grup CBP. (didi)

BERITA TERKAIT

Pemerintah Tetapkan Hasil Penjualan SBR004 Rp7,3 Triliun

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menetapkan hasil penjualan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR004 sebesar Rp7,3 triliun dengan…

PT Lintas Marga Sedaya Raih Pembiayaan Rp8,8 Triliun

    NERACA   Jakarta - PT Lintas Marga Sedaya (LMS), menerima pembiayaan sindikasi sejumlah Rp8,8 triliun. Pembiayaan sindikasi ini…

Martina Berto Persolek Kinerja di Semester Dua

NERACA Jakarta – Anjloknya kinerja keuangan PT Martina Berto Tbk (MBTO) di paruh pertama tahun ini, mendorong emiten kosmetik ini…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Model Bisnis Sangat Potensial - Digitaraya Jadi Investor Strategis Pertama Passpod

NERACA Jakarta – Keseriusan PT Yelooo Integra Datanet (Passpod) untuk segera melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), menarik banyak perhatian…

Lagi, BEI Suspensi Saham Mahaka Media

Lagi, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) pada perdagngan saham Rabu (19/9).…

Obligasi Masih Ramai di Sisa Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Meskipun dihantui sentimen kenaikan suku bunga, potensi pasar obligasi dalam negeri hingga akhir tahun masih positif. “Dengan…