Industri Otomotif Ketergantungan Komponen Impor - Volume Impor Capai 80%

NERACA

Jakarta – Industri otomotif dalam negeri masih mengalami masalah yang cukup serius. Dari segi bahan baku, impor komponen otomotif saat ini masih cukup tinggi yaitu sebesar 80%. Oleh untuk itu, Kementerian Perindustrian terus memacu investasi asing untuk membangun industri komponen di Indonesia.

“Impor komponen saat ini masih sebesar 80%, apabila ada ada bayak pembangunan pabrik komponen di indonesia dalam 5 tahun bisa menekan impor komponen menjadi 30%,” ungkap Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Selasa (28/8).

Lebih jauh lagi Hidayat memaparkan, kebutuhan komponen otomotif meningkat, menyusul tingginya pertumbuhan penjualan motor dan mobil di Indonesia. Hal ini memacu investasi industri komponen, yang diperkirakan mencapai US$ 5 miliar hingga 2014.

Pasalnya, ujar Hidayat penjualan mobil di Indonesia diproyeksikan mencapai satu juta unit pada 2013. Penjualan diperkirakan menembus 1,5 juta tahun 2015 atau 2016 dan melejit menjadi dua juta pada 2017.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi memaparkan menggeliatnya industri otomotif nasional menyebabkan impor komponen ikut naik, khusus bahan baku dan penolong barang modal (mesin) pada Juni lalu. "Impor melonjak karena masih banyak komponen otomotif yang belum bisa diproduksi di dalam negeri," ujar Sofjan.

Menurut dia, kondisi ini menunjukkan industri otomotif nasional masih besar ketergantungannya kepada impor. Pemerintah diminta segera menyediakan kebijakan untuk mengurangi impor dan meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri untuk produk-produk otomotif.

Di satu sisi, perkembangan ini dinilai positif karena bisa menggerakkan perekonomian nasional dan menciptakan lapangan kerja baru. Tetapi, bila tidak dijaga keseimbangannya, akan mengancam devisit devisa negara. Pasalnya, ekspor Indonesia turun, khusus ke Eropa yang mengalami krisis.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), bulan keenam impor bahan baku dan penolong tercatat US$ 12,10 miliar naik 7,48% dan barang modal US$ 3,43 miliar (naik 25,26%) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Gerus Industri Lokal

Di tempat berbeda, Ketua Koperasi Industri Komponen Otomotif (Kiko) Indonesia M. Kosasih mengungkapkan impor kendaraan yang mencapai US9 11,9 juta pada semester I tahun ini akan menggerus produksi industri komponen lokal terutama skala kecil menengah.

“Nilai impor komponen yang sangat tinggi pada paruh pertama tahun ini membuat produsen komponen dari dalam negeri khususnya skala kecil menengah semakin terpuruk. Kondisi ini menunjukkan pasar komponen masih dikuasai prinsipal utama dari luar Indonesia,” kata Kosasih.

Pelaku industri kecil menengah (IKM) komponen lokal, menurut Kosasih, masih menghadapi banyak permasalahan. “Masalah utama yang dihadapi adalah kurangnya rasa percaya masyarakat untuk menggunakan komponen buatan dalam negeri. Hal ini berimbas pada pelaku industri yang menjadi semakin tidak percaya diri terhadap kualitas produk mereka,” paparnya.

Pemerintah, lanjut Kosasih, diharapkan memberikan bimbingan kepada IKM komponen lokal mengenai standardisasi dan pendaftaran merek. “Sebagian besar pelaku masih belum memahami masalah ini, sehingga banyak produk komponen lokal tanpa merek beredar di pasaran,” ujarnya.

Kosasih menambahkan, pihaknya tengah berusaha meningkatkan mutu dan kualitas komponen lokal yang sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI). Kiko juga mendaftarkan 9 jenis komponen lokal yang sesuai SNI dan siap diluncurkan awal tahun depan. “Kami mengharapkan pemerintah merancang regulasi yang melindungi IKM komponen lokal. Peraturan ini diharapkan dapat meningkatkan porsi komponen lokal dan mengurangi impor komponen yang juga dibarengi dengan peningkatan kualitas komponen lokal,” tandasnya.

Lonjakan Impor

Permintaan kendaraan bermotor yang terus meningkat selama 6 bulan pertama tahun ini mendorong lonjakan impor produk otomotif hingga 45% menjadi US$4,93 miliar. Ketua Umum I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto mengatakan lonjakan nilai impor kendaraan bermotor dan bagiannya dipicu oleh meningkatnya permintaan dalam negeri. "Jika penjualan mobil di dalam negeri meningkat, kebutuhan komponen juga akan naik," katanya.

Saat ini, lanjutnya, beberapa prinsipal masih memasok komponen dari luar negeri untuk perakitan mobil di dalam negeri. Menurutnya, pulihnya pasokan mobil secara utuh (completely built up/CBU) dari Jepang dan Thailand turut memacu pertumbuhan nilai impor. Pada awal tahun, impor mobil CBU sempat terhambat akibat bencana tsunami di Jepang dan banjir besar di Thailand. Namun, memasuki kuartal II, produksi mobil di Jepang dan Thailand mulai lancar.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengkajian Kebijakan dan Iklim Usaha Industri (BPKIMI) Kementerian Perindustrian Harris Munandar mengatakan lonjakan nilai impor di sektor otomotif disebabkan kapasitas produksi belum mampu memenuhi permintaan domestik yang tinggi. "Adanya skema IJEPA (Indonesia-Japan Economic Partner ship Agreement) juga mendorong peningkatan impor di sektor tersebut," tuturnya.

Gaikindo mencatat impor CBU selama semester I/2012 naik 31,88% menjadi 54.924 unit dari 41.646 unit pada periode yang sama tahun lalu. Adapun penjualan mobil CBU selama 6 bulan pertama tahun ini mencapai 52.823 unit.

Sementara itu, nilai ekspor kendaraan bermotor dan komponen pada Juni mencapai US$423,4 juta, naik 11,16% dibandingkan dengan pencapaian pada bulan sebelumnya US$381,7 juta. Selama 6 bulan pertama tahun ini, nilai ekspor produk otomotif itu melonjak 46,77% dari pencapaian periode yang sama tahun lalu senilai US$1,6 miliar.

Lonjakan antara lain dipicu oleh ekspor mobil CBU yang naik 80,31% selama semester I menjadi 90.160 dari 50.002 unit pada paruh pertama tahun lalu. Adapun, ekspor komponen hanya tumbuh 3,3% dari 25,34 juta bagian menjadi 26,19 juta bagian pada semester I/2012.

BERITA TERKAIT

Arahkan Kredit Perbankan ke Industri Kreatif

    NERACA   Solo - Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia (AINAKI) mengeluhkan industri perbankan dan lembaga keuangan formal…

APCI: Permendag 84/2017 Berpotensi Membunuh Industri Kretek Nasional

APCI: Permendag 84/2017 Berpotensi Membunuh Industri Kretek Nasional NERACA Jakarta - Asosiasi Petani Cengkih Indonesia (APCI), yang menaungi sekitar 1,5…

Kemenperin Dorong PGN Amankan Kebutuhan Energi - Topang Pertumbuhan Industri 2018

Kemenperin Dorong PGN Amankan Kebutuhan Energi Topang Pertumbuhan Industri 2018 NERACA Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong badan usaha di…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Pacu Daya Saing IKM Lewat Platform Digital E-Smart

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar memacu pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) nasional agar memanfaatkan platform digital e-Smart…

Akuakultur - KKP Realisasikan Asuransi Untuk Pembudidaya Ikan Kecil

NERACA Jakarta- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merealisasikan program Asuransi Perikanan bagi pembudidaya ikan kecil. Program tersebut merupakan kerjasama antara…

Proyeksi Kebutuhan Gula Industri 3,6 Juta Ton di 2018

NERACA Jakarta - Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto memperkirakan konsumsi gula mentah untuk kebutuhan industri mencapai 3,6 juta…