Krisis Global Hantam Harga Alumunium - Target Penjualan Inalum Bakal Sulit Tercapai

NERACA

Jakarta - Pelemahan ekonomi global ternyata berpengaruh besar bagi kinerja keuangan produsen alumunium PT Indonesia Asahan Alumunium atau biasa disebut Inalum. Meski pasar tujuan Inalum yaitu Jepang dan pasar domestik tidak terpengaruh langsung oleh pelemahan ekonomi seperti yang terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, namun pelemahan ekonomi global ini mengakibatkan harga alumunium jatuh di pasaran.

Ketua Otorita Asahan, Effendi Sirait mengatakan harga alumunium ingot selama semester I lalu hanya sebesar US$ 1.800 per ton. Padahal rata-rata harga alumunium ingot di tahun 2011 lalu mencapai US$ 2.300 untuk tiap tonnya. Ini berarti harga alumunium ingot merosot sekitar 21% dibanding tahun lalu.

Effendi mengatakan, tren pelemahan harga alumunium ingot global ini terjadi sejak akhir tahun lalu dan masih terjadi sampai saat ini. Bahkan menurutnya, tren pelemahan harga secara global ini berpotensi untuk terus terjadi sampai tutup tahun ini. "Hingga saat ini bergerak di kisaran US$ 1.800 hingga di bawah US$ 1.900 per ton," kata Effendi.

Karena harga alumunium ingot yang sulit untuk membaik secara signifikan ini, menurut Effendi Inalum sulit untuk menjaga target harga jual alumunium ingot mereka tahun ini yaitu sebesar US$ 2.200 per ton. "Rasanya sulit mencapai target tersebut bahkan bisa merosot cukup signifikan," lanjutnya.

Pelemahan harga alumunium ingot global ini bahkan sudah mengakibatkan laba Inalum terjun bebas selama semester pertama lalu. Effendi mengatakan rata-rata laba yang bisa diraup oleh Inalum selama enam bulan pertama tahun ini hanya sekitar US$ 2 juta tiap bulan. Padahal tahun lalu, laba yang bisa mereka dapatkan tiap bulan mencapai sekitar US$ 10 juta.

Sehingga pada tahun ini, Inalum berpotensi untuk mencatatkan laba mereka minus hingga 80%. Bila tahun lalu mereka bisa mendapatkan laba sekitar US$ 100 juta, maka tahun ini kemungkinan hanya akan mencapai US$ 24 juta saja.

Namun dari segi penjualan maupun produksi, dia mengatakan Inalum masih tetap bisa melakukan kinerjanya secara konsisten. Kapasitas produksi maupun penjualan alumunium ingot dari Inalum mencapai 260 ribu ton per tahun. "Penjualan dan produksi masih konsisten. Sehingga kinerja laba yang menurun murni karena pengaruh luar," ujar dia.

Pelemahan Harga

Bahkan, menurutnya, pelemahan harga alumunium ingot global ini telah membuat beberapa produsen lain di luar negeri berhenti berproduksi. Di antaranya adalah perusahaan di China dan Australia.

Dia menambahkan, Inalum akan terus melakukan efisiensi untuk menjaga kinerja keuangan mereka. Meskipun hal tersebut tidak bisa berpengaruh secara signifikan karena langkah efisiensi sudah sering dilakukan oleh perusahaan. Namun paling tidak hal tersebut bisa menjaga agar Inalum tidak mencatatkan kerugian.

Dengan kapasitas produksi mencapai 250.000 ton per tahun, sebanyak 60% dari produk mereka dijual ke Jepang. Sementara 40% atau sekitar 100.000 ton sisanya dipasarkan di dalam negeri. Adapun konsumsi nasional berkisar antara 300.000 ton—500.000 ton dengan pertumbuhan 5% per tahun. Faktor pendorong pertumbuhan konsumsi komoditas tersebut antara sektor transportasi, bangunan (konstruksi), dan industri pengemasan.

Hal ini tidak terlepas dari perjanjian kerja sama dengan Nippon Asahan Aluminium Co Ltd, yang akan berakhir pada tahun depan. Untuk memenuhi kebutuhan alumunium ingot di dalam negeri, pemerintah pun berniat untuk mengambil alih kepemilikan Inalum.

Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Agus Tjahjana sebelumnya mengatakan untuk pengelolaan smelter aluminium, pihak Jepang dan Indonesia masih memiliki sikap yang berbeda.

Pemerintah Indonesia ingin mengakhiri perjanjian pengelolaan Inalum pada 2013, sementara Jepang tetap berkeinginan memperpanjang kontrak. Bahkan pihak kosorsium Jepang masih menginginkan tambahan investasi sekitar US$ 300 juta di Inalum. Sehingga bisa meningkatkan kapasitas produksi 80 ribu ton per tahun. "Pemerintah ingin menjalankan Inalum agar lebih bermanfaat bagi industri di dalam negeri," uajrnya.

Pemerintah sebelumnya telah mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp 5 triliun untuk mengakuisisi seluruh saham Inalum. Dengan tambahan anggaran tersebut, total kebutuhan dana pembelian Inalum mencapai Rp 7 triliun. Sebesar Rp 2 triliun sudah diperoleh dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012.

BERITA TERKAIT

Pengendalian Harga Mencegah PLN Bangkrut Akibat Harga Batubara

      NERACA   Jakarta - Sesuai prinsip berbagi keadilan Kabinet Kerja Joko Widodo, maka pengendalian harga batubara melalui…

Dafam Properti Bakal Tambah Lima Hotel Baru - Lepas Saham Ke Publik 25%

NERACA Jakarta – Meskipun ada kekhawatiran pasar properti tahun ini masih melandai, namun hal tersebut tidak mengurungkan PT Dafam Property…

Mandom Catatkan Penjualan Rp 2,71 Triliun

Sepanjang tahun 2017 kemarin, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) mencatatkan penjualan sebesar Rp 2,71 triliun. Jumlah tersebut meningkat 7,11% dari…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Usaha Kecil - UMKM Diharapkan Punya Kreativitas E-commerce

NERACA Jakarta – Ketua Umum Indonesia E-Commerce Association (Idea) Aulia E Marinto mengatakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) harus…

Ekspor Industri Alas Kaki Menapak Hingga US$4,7 Miliar

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memprioritaskan pengembangan industri alas kaki nasional agar semakin produktif dan berdaya saing, terlebih lagi karena…

Genjot Investasi dan Ekspor, IKTA Dipacu Perdalam Struktur

NERACA Jakarta – Industri Kimia, Tektsil, dan Aneka (IKTA) merupakan kelompok sektor manufaktur yang berkontribusi signfikan terhadap Produk Domestik Bruto…