Memalukan, Remote Trading Jatuhkan Citra Bursa - DIDUGA TERKAIT TRANSAKSI SAHAM BUMI?

Jakarta - Gangguan sistem remote trading kembali menghadang kegiatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) di awal pekan ini. Akibatnya, transaksi perdagangan di bursa lokal itu ditutup lebih awal yaitu pk. 15.30 JATS setengah jam lebih cepat pada Senin (27/8). Ini harus menjadi catatan serius, karena mempertaruhkan citra pasar modal nasional di mata investor global.

NERACA

"Sehubungan dengan adanya kendala teknis sistem perdagangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan ini diumumkan bahwa perdagangan efek sesi 2 pada hari Senin (27/8) dihentikan lebih awal pada pukul 15.30 waktu JATS," kata Direktur BEI, Syamsul Hidayat, kemarin.

Aktivitas perdagangan di BEI memang terganggu sejak awal perdagangan dibuka. Setelah sempat ditunda dan jalan, perdagangan kembali terhenti setelah berjalan 15 menit. Indeks lalu terhenti di posisi IHSG turun 4,382 poin (0,11%) ke level 4.141,017.

Menurut pengamat pasar modal dari FE Univ. Pancasila Agus Irfani, terganggunya sistem perdagangan diduga "sengaja" dilakukan oleh bandar yang mau melepas saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Kendati demikian, matinya remote trading sesaat itu bisa dikarenakan banyak hal, seperti permasalahan IT bursa yang masih buruk, “Dugaan kedualah paling memungkinkan terjadi. Indikasi ada beberapa kejanggalan terjadi dalam transaksi di Bursa Efek Indonesia,”katanya kepada Neraca di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, pada sesi pertama saja terjadi kenaikan tipis 0,01%, begitu juga pada sesi kedua kembali naik tipis dari penutupan sesi pertama. Sementara bila diperhatikan bursa lain anjlok, seperti Singapura dan Tokyo.Namun sebaliknya bursa dalam negeri tidak demikian halnya.

Indikasi kedua, lanjutnya, pembukaan tarnsaksi pada sesi pertama dibuka terlambat setengah jam. Sementara sesi kedua ditutup lebih cepat setengah jam. Itu indikasi yang kuat. Karena dengan ditutupnya sesi kedua lebih cepat itu menandakan BEI ingin menyelamatkan nasib investor dengan adanya aksi short selling.Pasalnya, kalau tidak ditutup segera akan merugikan investor.

Sebagaimana diketahui, perusahaan tambang milik Grup Bakrie PT Bumi Resources Tbk(BUMI) membukukan rugi bersih US$ 334,111 juta atau setara Rp 3,14 triliun di semester I/2012, sehingga banyak pihak yang berniat melepas saham BUMI sebelum harganya anjlok lebih dalam lagi.

Orang Dalam "Bermain"

Menurut Agus, tidak mungkin aksi short selling ini dilakukan sendiri-sendiri. Sehingga dugaan adanya permainan investor dengan oknum BEI sangat kuat. Karena modusnya pasti melibatkan orang dalam, “Dimana saat harga anjlok para investor menjual saham yang tidak dimilikinya dan itu pasti ada kerjasama dengan orang dalam,”ujarnya.

Sementara Managing Research Reza Priyambada mengatakan, gangguan yang terjadi di sistem perdagangan BEI sangat merugikan investor. “Investor jelas rugi waktu lah, mereka yang harusnya bisa trading tapi akhirnya harus menunggu nggak jelas,”tandasnya.

Kendala tersebut menurutnya harus ada pemberitahuan lebih dini dari pihak Bursa. Pasalnya, bila tanpa sosialisasi akan memberikan kesan sistem di broker yang bermasalah, “Gimana kita mau input order nasabah kalau server di bursanya bermasalah,”cetusnya

Dia menambahkan, kalau bursa ingin melakukan perbaikan, sebaiknya jangan dilakukan pada hari kerja. Karena yang akan kena masalah adalah para broker. Terganggunya perdagangan saham membuat banyak pihak dirugikan. Tak hanya investor, para broker juga ternyata ketiban sial dan bahkan para investor mengancam BEI ke meja hijau lewat gugatan class action. Pasalnya, terganggunya transaksi di pasar modal sejak pagi membuat investor menderita rugi cukup besar.

Rusak Kepercayaan

Menurut sumber Neraca lainnya, di bursa memiliki tiga mesin remote trading yaitu dua mesin berada di bursa dan satu mesin lagi berada di luar Jakarta. “Matinya remote trading dikarenakan mesin pertama dan mesin kedua tidak berhasil naik sehingga butuh waktu untuk menyalakan mesin yang ketiga. Terlebih mesin yang ketiga berada diluar Jakarta, maka butuh waktu untuk menyalakan mesin tersebut,” katanya.

Menurut dia, kejadian ini harus dijelaskan oleh pihak bursa kepada publik. Karena dengan adanya permasalah remote treading ini maka kepercayaan pada pihak bursa menjadi menurun. “Harus ada perbaikan dari pihak bursa yang harus bertindak cepat jika terjadi masalah seperti ini,” tuturnya.

Oleh karena itu, menurut dia, perlu pembenahan dari sisi SDM di bursa. Misalnya saja teknisi IT harus datang lebih awal. Selain itu, jika mesin pertama dinyalakan maka mesing yang ketiga dan keempat harus standby agar jika terjadi trouble maka penangananya bisa cepat dan tidak ada yang dirugikan.

Dampak dari gangguan remote trading, transaksi saham di Bursa Efek Indonesia mengalami gangguan. Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, kejadian ini dinilai memalukan, “Di saat BEI ingin menjadi bursa kelas dunia, namun sistem perdagangannya mati,” katanya.

Bicara masalah kerugian, kata Edwin, pihaknya melihat dari komisi saja bisa mencapai ratusan miliar. Pasalnya, jika transaksi ramai maka diperkirakan mencapai Rp500 miliar. Sementara analis BNI Securities, Viviet S Putri mengakui, potensi kerugian komisi sekuritas diperkirakan Rp 200 miliar dan potensi kerugian nilai transaksi harian sekitar Rp 4 triliun, “Pasca liburan minat investor cukup kuat bertransaksi saham, namun sayangnya sistem remote trading BEI mengalami kendala. Kondisi ini membuat IHSG stagnan,”paparnya.

Direktur Teknologi Informasi BEI Adikin Basirun mengakui, sistem perdagangan masih sering eror berulang kali. Terganggunya perdagangan saham terjadi pada sistem penerimaan data yang dimiliki oleh beberapa perusahaan sekuritas. Tidak semua sistem Anggota Bursa dapat menerima perpindahan data ketika mengalami masalah.

Selain itu, pihaknya juga tengah melakukan koordinasi dengan tim IT bersama dengan vendor terkait, “Kita sedang koordinasi dengan tim TI dan pihak vendor untuk melihat problemnya," tambah Samsul,”paparnya. didi/bari/ardi/bani

BERITA TERKAIT

Bursa Minta Tidak Libur Saat Pilkada

Memasuki tahun politik, dimana bakal dilakukannya pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara serentak pada tanggal 27 Juni yang akan datang, pihak…

BEI Suspensi Saham INDR dan BNBR

Lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajaran, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan (suspensi) saham PT Indorama…

Pemegang Saham Serap Rights Issue MDKA - Bidik Dana di Pasar Rp 1,33 Triliun

NERACA Jakarta - Aksi korporasi yang dilakukan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berupa penerbitan saham baru (rights issue) dengan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

SETELAH TERTUNDA SEJAK MARET 2018 - Peluncuran OSS Tunggu Putusan Presiden

Jakarta- Setelah tertunda pelaksanaannya sejak Maret hingga kini, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, rencana peluncuran sistem perizinan terpadu secara…

PENGUSAHA KHAWATIR PERLAMBATAN EKONOMI - IMF: Perang Dagang AS-China Tingkatkan Risiko

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) mengingatkan, kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan perang dagang dengan China dapat meningkatkan…

BANK DUNIA TURUNKAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI 2018 - Kebijakan “Pre-Emptive” Redam Gejolak Pasar

Jakarta-Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, kebijakan pre-emptive (menyerang) dengan menaikkan tingkat suku bunga mendahului The Fed ternyata cukup efektif dalam…