Jumlah Sumur Pengembangan Capai 944

NERACA

Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan hingga akhir 2011 tercatat sudah 944 jumlah sumur pengembangan. Sumur ini terdiri dari sumur minyak, sumur gas dan sumur-sumur lainnya seperti sumur injeksi dan observasi. Jumlah ini dinilai melebihi targetkan yaitu sebesar 895 sumur pengembangan. Hal ini Ini sudah melebih target dari yang semestinya yaitu pencapaiannya sekitar 105%.

Data Laporan Tahunan Direktorat Jendral Minyak dan Gas Kementerian ESDM 2011 memaparkan bahwa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang melakukan kegiatan pengeboran pengembangan antara lain adalah PT CPI sebanyak 266 sumur, PT Pertamina EP 75 sumur, Total E&P mengebor sebanyak 86 sumur dan KKKS lainnya sebanyak 169 sumur.

Pengemboran sumur pengembangan tahun 2011 ini, lebih besar dibandingkan tahun 2010 yang mencapai 917 sumur. Sedangkan tahun 2009, dilakukan pengeboran 904 sumur pengembangan. Tahun 2008 sebanyak 936 sumur, 2007 dilakukan pengeboran sebanyak 656 sumur, 2006 dibor 541 sumur dan 2005 sebanyak 384 sumur pengembangan.

Sementara itu, Pertamina Hulu Energi (PHE) West Madura Offshore (WMO) pada 2012 merencanakan sebanyak 36 pengeboran sumur yang terdiri dari pengeboran 9 sumur eksplorasi, 12 sumur pengembangan dan 15 sumur kerja ulang di 2012. Penambahan pengeboran sumur tersebut dalam rangka memacu produksi migas. “Sejak mendapat mandat mengelola Blok WMO, PHE WMO sudah mengebor 6 sumur pengembangan. Selain itu, satu sumur eksplorasi sudah selesai dibor yang berhasil meningkatkan cadangan minyak dan gas PHE WMO,” kata Direktur Operasi PHE WMO, Eddy Poernomo beberapa waktu yang lalu.

Meski begitu menurut Eddy penambahan sumur-sumur baru tersebut belum bisa langsung meningkatkan kapasitas produksi Blok WMO secara signifikan, pasalnya saat diserahkan pemerintah ke PHE sebagai anak perusahaan Pertamina Blok WMO sedang mengalami penurunan produksi yang drastis pada sumur-sumur lamanya.

“Saat diserahkan 7 Mei 2011 produksi Blok WMO sekitar 13.000 bph, tinggal 50% dibanding produksi tertinggi sebelumnya yang mencapai 26.000 bph. Penurunan produksi itu tidak bisa dihindari karena tiadanya investasi baru sejak Agustus 2010 menyusul ketidakjelasan perpanjangan kontrak pengelolaan Blok WMO,” ujar Eddy.

Menurut Eddy tugas awal yang berat mengelola Blok WMO adalah bagaimana melawan penurunan produksi alami yang sangat cepat pada sumur-sumur lama, dimana hal itu terjadi lebih dari 50% setiap tahunnya. “Kalau saat ini produksi bisa di atas 13.000 barel per hari itu sudah pencapaian yang luar biasa hebat dari temen-temen yang bekerja di PHE WMO. Namun dengan infrastruktur yang lengkap dan datangnya rig ketiga, kami berharap peningkatan produksi Blok WMO bisa dilipatgandakan menjadi 30.000 bph pada akhir tahun ini,” pungkasnya. **bari

BERITA TERKAIT

Matahari Bakal Rights Issue di Kuartal Pertama - Danai Pengembangan Bisnis

NERACA Jakarta – Dalam rangka mendanai ekspansi bisnisnya, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) mendapat persetujuan dari pemegang saham untuk…

Total Emisi Obligasi Capai Rp 2,47 Triliun

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan telah membukukan total emisi obligasi dan sukuk sebanyak 1 emisi dari 1 emiten senilai…

Kepercayaan Investor Bawa IHSG Capai Rekor Baru

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan (19/2) kemarin, indeks harga saham gabungan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Utang Luar Negeri Indonesia Naik 10,1%

      NERACA   Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia di akhir 2017 meningkat 10,1 persen (tahun ke…

Muliaman Hadad Ditunjuk jadi Dubes RI untuk Swiss

    NERACA   Jakarta-Mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Darmansyah Hadad resmi ditunjuk menjadi Duta Besar…

Tiga Tahun Jokowi Diklaim Berhasil Turunkan Inflasi

      NERACA   Padang - Pejabat Kantor Staf Presiden (KSP) memaparkan dalam tiga tahun perjalanan pemerintahan Presiden Jokowi…