Genjot Investasi Demi Hemat Cadangan Devisa

NERACA

Jakarta---Pemerintah terus berkoordinasi dan menggenjot investasi guna menekan penurunan cadangan devisa. Hal ini dilakukan setelah berdiskusi dengan Bank Indonesia (BI). "BI menyampaikan bahwa penurunan dari devisa harus kita hentikan, untuk itu impor bahan baku bisa dikurangi, dan jawabannya adalah investasi besar-besaran pada 2013, minimal 18 miliar dolar AS pada tahun depan," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Senin.

Menurut Menperin, Hidayat, di tengah terjadinya gejolak global di Amerika Serikat dan Eropa, sudah terdapat titik cerah dari beberapa perusahaan yang ingin menginvestasikan dananya di Indonesia. "Foxconn akan berinvestasi tahun depan itu lima miliar dolar AS, kemudian tahun depan juga Honam rencananya akan berinvestasi lima miliar dolar AS," tambahnya

Selain itu, dari industri refinary (pengilangan) juga akan masuk investasi di kilang Tuban dan Balongan sebesar masing-masing 10 miliar dolar. "Untuk refinary sebetulnya agak susah, karena profit marginnya tidak besar, mereka syaratnya mampu memproduksi 300ribu barel minyak mentah per tahun, saat ini baru Arab Saudi dan Iran yang mampu, dan keduanya sudah pipeline (berjalan) di Kementerian Keuangan untuk tax insentif," terangnya

Namun Hidayat yakin pemerintah mempu menghimpun investasi minimal 18 miliar dolar bila serius serius mengejar bola dengan menggunakan strategi-strategi di sektor-sektor penting. Cadangan devisa Bank Indonesia (BI) berkurang menjadi 111,53 miliar dolar AS pada akhir Mei 2012, dari posisi sebelumnya 116,41 miliar dolar pada akhir April.

Adanya perlambatan pada perekonomian global, akibat krisis utang zona euro, telah mendorong investor menarik dana yang ada, setelah beberapa tahun aliran dana tersebut masuk.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan defisit transaksi berjalan sebesar 3,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dapat ditekan melalui "foreign direct investment" (FDI). "Sebenarnya defisit transaksi berjalan tidak terlalu masalah kalau diimbangi dengan 'FDI', kalau defisit bisa ditutup oleh investasi langsung itu maka dianggap aman," kata Darmin usai acara halal bi halal di Bank Indonesia, Jakarta, Senin.

Menurut Darmin, rasio defisit transaksi berjalan yang terjadi akibat pelemahan ekspor komoditas itu diharapkan akan membaik jadi 2,2 - 2,3 persen terhadap PDB pada akhir tahun. "Kita sudah bertemu dnegan pemerintah dan menteri terkait untuk fokus memperbaiki 'foreign direct investment', yang juga berarti harus ada prioritas sektor pengembangan MP3EI yang mana untuk menyerap investasi asing yang lebih besar," ucapnya.

Darmin mengatakan sejak dulu kelemahan ekonomi Indonesia adalah kurangnya produksi barang modal dan bahan baku, sehingga pertumbuhan ekonomi harus ditopang impor yang besar dari luar. "Selain itu, kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi banyak ditopang oleh 'real estate', kan itu tidak diekspor, ditambah banyaknya impor untuk industri transportasi seperti pesawat," tukasnya

Lebih jauh Darmin menjelaskan defisit transaksi berjalan disebabkan karena struktur industri di Indonesia selalu tergantung dengan bahan baku impor, bahkan sejak jaman orde baru dulu. "Situasi defisit transaksi berjalan seperti ini sebernarnya sudah pernah terjadi pada 2005, cuma waktu itu satu kuartal langsung naik yang diiringi naiknya harga bbm, pada 2008 juga sempat terjadi agak panjang selama tiga kuartal, tapi juga ditolong dengan naiknya harga BBM saat itu," tuturnya. **bari/iwan

BERITA TERKAIT

Begini Jurus Kemenperin Demi Wujudkan Indonesia Kuat

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berperan aktif mewujudkan “Indonesia Kuat” melalui peningkatan produktivitas dan daya saing industri potensial di…

Jasa Armada Investasi Kapal Rp 223,85 Miliar - Pacu Pertumbuhan Bisnis Pelayaran

NERACA Jakarta – Geliatnya industri pelayaran seiring dengan boomingnya harga batubara saat ini dan tren meningkatnya kegiatan ekspor dan impor,…

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Taiwan Tawarkan Produk Kesehatan ke Pasar Indonesia

      NERACA   Jakarta - Indonesia merupakan negara yang berada di urutan ke-4 dengan prevalensi diabetes tertinggi di…

Teluk Bintuni akan Gunakan Skema KPBU

      NERACA   Jakarta - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian memilih skema Kerja sama Pemerintah dan Badan…

Usaha Kuliner Lebih Mudah - Diplomat Success Challenge 2018

    NERACA   Jakarta - Peluang untuk menjadi wirausaha muda Indonesia dengan mendapatkan total modal usaha Rp 2 miliar…