Harga BBM Murah, Energi Alternatif Sulit Bersaing

NERACA

Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan aturan campuran bahan bakar nabati (bioethanol) sebesar 2% dalam bahan bakar minyak (BBM) non subsidi telah ada peraturannya sejak 2008, yaitu dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 32 Tahun 2008.

"Kami tetapkan mulai dengan 2%, walaupun dalam ketentuan proyeksi kami 5%," ujar Dirertur Jenderal Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM, Kardaya Warnika di Jakarta, belum lama ini.

Dia mengatakan, pencampuran bahan bakar nabati (BBN) dalam BBM hanya akan menambah harga jual antara Rp20-80 per liter, namun kenaikan itu dianggap tak berdampak signifikan terhadap harga jual. Kardaya juga mengatakan, memang masih banyak kendala yang mengganjal pengembangan energi alternatif.

"Harga BBM bersubsidi sangat murah membuat harga energi terbarukan sulit bersaing. Tumpang tindih lahan, peraturan perundang-undangan yang belum mendukung, belum jelasnya regulasi cukai, harga jual masih rendah, serta belum adanya dukungan dari industri hulu juga sangat menghambat," paparnya.

Bioethanol dapat diolah dari berbagai jenis tanaman berpati (ubikayu, jagung, sorgum biji, sagu), tanaman bergula (tebu, sorgum manis, bit) serta serat (jerami, tahi gergaji, ampas tebu). Brazil mengandalkan produksi tebu sebagai bahan baku bioethanol. Hal ini dimungkinkan dengan geografis negara Brazil yang lebih banyak daratan sehingga memungkinkan penanaman tebu dalam skala besar dilakukan.

Selain tanaman berpati yang ditanam di daratan, terdapat tanaman berpati yang dapat dibudidayakan di lautan yaitu rumput laut. Bioethanol dari rumput laut telah terbukti lebih murah biaya dan menguntungkan dibanding dari tebu dan kayu karena pertumbuhannya lebih cepat sehingga memungkinkan panen sampai enam kali dalam setahun.

Biaya Produksi Murah

Apalagi rumput laut tumbuh subur di berbagai lokasi perairan Indonesia. Biaya produksi bioethanol dari rumput laut lebih murah dibanding dari kayu karena rumput laut tidak mengandung lignin sehingga proses pengolahannya tidak direpoti penanganan pendahuluan.

Menurut Kabid Teknologi etanol dan derivat, Balai Besar Teknologi Pati Dr. Ir. M.Arif Yudiarto M.Eng, tanaman berpati dan bergula memiliki produktifitas rata-rata bioethanol 5.000 liter per hektar setiap tahun. Jika konsumsi seluruh bensin di Indonesia sebesar 16 juta kilo per tahun, dengan asumsi kebutuhan bensin sebesar 40% dari total prediksi BBM Indonesia sebesar 40 juta kilo liter, dapat diproduksi dengan budidaya bahan baku seluas 3,2 juta hektar. Maka luas lahan buddiaya bahan baku bioethanol di Indonesia hanya membutuhkan 1,7% dari luas daratan Indonesia atau 0,064% luas lautan Indonesia saja.

Memang terjadi pro dan kontra terhadap upaya pengembangan bioethanol sebagai biofuel. Komoditas tebu yang digunakan sebagai bahan baku bioethanol di Brazil lebih banyak digunakan sebagai bahan gula di Indonesia. Selain itu terjadi kekhawatiran adanya persaingan bahan baku makanan dengan bahan baku bio etanol. Produksi bioethanol besar-besaran juga berpotensi menyebabkan penurunana keanekaragaman hayati melalui monokultur bahan baku.

Namun kebutuhan bahan baku dalam jumlah besar memberikan peluang kesejahteraan bagi masyarakat untuk ikut membudidayakan bahan baku bioethanol. Lahan-lahan yang sebelumnya belum termanfaatkan. Terutama pada bahan baku dari rumput laut dimana perairan laut Indonesia yang sedemikian luas, menjadi potensi sumber penghasilan masyarakat Indonesia. Teknik budidaya rumput laut yang mudah dan biaya produksi yang murah serta kemampuan panen hingga 6 kali setiap tahunnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Indonesia melalui penyediaan bahan baku rumput laut untuk bioethanol.

Untuk merubah bensin murni menjadi kombinasi dengan bietanol membutuhkan komitmen kuat Pemerintah dalam pengembangannya. Tidak hanya dihadapkan pada ancaman krisis bahan bakar minyak (BBM) dari fosil, negara juga terus berkutat dengan besaran subsidi BBM yang terus membengkak dari waktu ke waktu. Pemerintah pun masih bergumul mencari skema terbaik dalam mengurangi beban anggaran subsidi.

Sayangnya, upaya yang menonjol masih sebatas utak-atik pos anggaran dan mengimbau rakyat untuk menghemat penggunaan BBM. Padahal, Indonesia memiliki sumber daya alam sangat melimpah yang bisa dikembangkan menjadi energi alternatif. Sebenarnya bioethanol juga bukan hal yang baru di Indonesia, penggunaan bioethanol ini dapat menekan ketergantungan terhadap harga BBM yang terus melambung.

BERITA TERKAIT

Pertamina Konsisten Kembangkan Energi Terbarukan

      NERACA   Jakarta - PT Pertamina (Persero) secara konsisten mengembangkan energi baru dan terbarukan bagi masyarakat Indonesia…

Kemenperin Dorong PGN Amankan Kebutuhan Energi - Topang Pertumbuhan Industri 2018

Kemenperin Dorong PGN Amankan Kebutuhan Energi Topang Pertumbuhan Industri 2018 NERACA Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong badan usaha di…

BUMN Migas Vs BUK Migas, Mana Lebih Efisien? - PENGELOLAAN SEKTOR ENERGI

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Satya Widya Yudha berharap pemerintah tidak buru-buru merealisasikan pembentukan induk usaha…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Pacu Daya Saing IKM Lewat Platform Digital E-Smart

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar memacu pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) nasional agar memanfaatkan platform digital e-Smart…

Akuakultur - KKP Realisasikan Asuransi Untuk Pembudidaya Ikan Kecil

NERACA Jakarta- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merealisasikan program Asuransi Perikanan bagi pembudidaya ikan kecil. Program tersebut merupakan kerjasama antara…

Proyeksi Kebutuhan Gula Industri 3,6 Juta Ton di 2018

NERACA Jakarta - Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto memperkirakan konsumsi gula mentah untuk kebutuhan industri mencapai 3,6 juta…