Dua BUMN Siap Produksi Konverter Kit

NERACA

Jakarta - Dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT Pindad dan PT Wika sudah bisa dipastikan siap memproduksi alat konverter kit untuk mendukung program konversi bahan bakar minyak (BBM) dan mengurangi penggunaan BBM bersubsidi.

“Pindad dan Wika telah memiliki pengalaman untuk memasok komponen roda empat. Untuk tahap pertama, diperkirakan 200.000 unit konverter kit siap dipasok bagi wilayah Jabodetabek,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Unggul Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Budi Darmadi di Jakarta, Senin (27/8).

Produksi converter kit ini dalam skala ekonomi menurut Budi, diproyeksikan 50.000 sampai dengan 60.000 unit per tahun.“Produksinya sangat bergantung pada kebutuhan pasar di dalam negeri. Jika programnya sudah berjalan, kebutuhannya bisa mencapai ribuan unit,” paparnya.

Tidak semua komponen dari converter lanjut Budi, dibuat di Indonesia. Saat ini, proses perakitan akan dilakukan di dalam negeri dengan 3-4 komponen diproduksi di dalam negeri. “Komponen yang paling diproduksi itu adalah electronic control unit karena ada rahasia programming di dalamnya. Setiap mobil dan jenisnya berbeda penggunaan programnya,” tuturnya.

Budi menambahkan, produk converter kit masih di impor dari beberapa negara sebelum diproduksi di Indonesia. “Konverter kit masih ada yang di impor dari Italia dan pemerintah berusaha memaksimalkan produsen dalam negeri untuk membuat produk yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan,” tandasnya.

Sebelumnya,Menteri BUMN Dahlan Iskan memaparkan, PT Dirgantara Indonesia (DI) yang biasa memproduksi pesawat terbang, juga siap melebarkan sayap bisnisnya untuk memproduksi converter kit. Dahlan mengatakan, dirinya akan segera meminta informasi terkait kesiapan PT DI dalam proses produksi converter kit. “Kalau memang tidak mengganggu program pembuatan pesawat, saya mendukung PT DI untuk masuk (memproduksi converter kit),” ujarnya.

Menurut Dahlan, jika memang PT DI sanggup memproduksi converter kit dan ternyata desain serta pembuatannya tidak terlalu sulit, maka BUMN lain seperti PT Boma Bisma Indra pun bisa ikut memproduksi converter kit. “Kalau memang bisa diproduksi di dalam negeri, lebih baik dihindarkan dari impor,” katanya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah berencana menggulirkan program pengalihan konsumsi BBM ke BBG, seiring dengan rencana pemberlakuan pembatasan konsumsi BBM subsidi mulai 1 April nanti.

Dalam roadmap pemerintah, selain untuk kendaraan angkutan umum, converter kit juga akan didorong agar digunakan oleh pemilik mobil pribadi. Untuk tahap awal, diperkirakan akabn dibutuhkan sekitar 2,5 juta converter kit. Berhubung produksi dalam negeri belum siap, Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengungkapkan ada rencana impor converter kit sebanyak 250.000 unit dari Eropa pada Februari nanti.

Pertamina Siap

Jika PT DI siap memproduksi converter kit, Pertamina sebagai BUMN sektor energi siap menyatakan siap menyediakan BBG untuk angkutan umum maupun mobil pribadi. VP Komunikasi PT Pertamina, Ali Mudakir mengatakan, Pertamina siap menjadi lead atau memimpin program penggunaan BBG di Indonesia. “Kalau ditunjuk sebagai leader, kami akan all out,” ujarnya.

Harun mengakui, selama ini jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) sempat mencapai 33 buah. Namun, karena minimnya konsumsi BBG, 27 diantaranya terpaksa tidak beroperasi, sehingga kini hanya tersisa 6 SPBG. “Kalau pemerintah ingin menggulirkan BBG seiring dengan program pembatasan BBM, maka akan sangat pas,” katanya.

Menurut Harun, saat ini Pertamina sudah memiliki strategi baru dalam penyediaan BBG. Sebelumnya, penyediaan BBG membutuhkan infrastruktur pipa untuk penyalurannya. Tapi, kini Pertamina sudah mengembangkan konsep mother daughter dengan cara pengangkutan melalui tanki. “Nantinya, tanki BBG tinggal ditempatkan di SPBU dan ditambah dispenser saja, jadi tidak terlalu sulit,” terangnya.

Namun, Harun mengakui, sukses tidaknya BBG memang akan sangat tergantung pada ketersediaan converter kit, dan hal itu berada di luar jangkauan Pertamina yang tuganya memang hanya menyediakan BBG. “Karena itu, kalau pemerintah ingin memberi insentif, itu bisa dalam bentuk converter kit, agar produknya mudah didapat dan harganya terjangkau,” jelasnya.

BERITA TERKAIT

Askrindo Syariah Siap Lebarkan Sayap

Askrindo Syariah Siap Lebarkan Sayap NERACA Jakarta - Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPS LB)  PT Jaminan…

OCBC NISP Yakin Pertumbuhan Kredit Dua Digit

  NERACA   Jakarta - PT OCBC NISP Tbk meyakini penyaluran kredit akan membaik pada triwulan IV/2017 sehingga mampu mencapai…

Produksi Lele Bioflok Sokong Suplai Pangan Berbasis Ikan

NERACA Sleman- Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Penanaman Modal di Sektor Riil - Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

Mencari Alternatif Langkah Penyelamatan Perusahaan Negara

NERACA Jakarta - Rencana pemerintah membentuk induk perusahaan (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus mendapat kritik dari sejumlah akademisi…

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Gencarkan Implementasi Program e-Smart IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) kembali menggelar Workshop e-Smart IKM…