Saham Perbankan, Konsumer dan Perdagangan Layak Dikoleksi - Investasi di Semester II

NERACA

Jakarta – Ditengah melorotnya kinerja saham sektor pertambangan hingga diproyeksikan masih akan berlanjut hingga semester kedua tahun ini, saatnya investor mengalih portofolio investasi saham pada sektor lain.

Menurut Managing Research PT Indosurya Aset Management Reza Priyambada mengatakan, di sisa paruh kedua tahun ini saham sektor perbankan, konsumer, infrastruktur, perdagangan dan otomotif masih akan menarik perhatian pelaku pasar. “Kembali lagi kepada persepsi dan mood pelaku pasar dalam merespon berita dan sentimen yang beredar, “katanya kepada Neraca di Jakarta kemarin.

Namun demikian menurutnya, tidak ada sektor yang benar-benar kuat dalam menghadapi sentimen yang ada. Pasalnya, pergerakan saham tidak luput dari pengaruh global sehingga jika ingin masuk ke sektor tersebut harus memperhaikan level harga bawah dari masing-masing saham.

Oleh karena itu, lanjut Reza kuat atau tidaknya saham tergantung dari sentimen yang ada. Tetapi jika di tengah mendungnya kondisi pertambangan, saham-saham di sektor perbankan, konsumer, perdagangan, infrastruktur dan otomotif bisa menjadi alternatif.

Sektor Konsumer

Reza merekomendasikan, sektor konsumer yang layak untuk dikoleksi adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

Alasannya, sektor saham konsumer didukung dari penjualan makanan dan minuman. Ditambah

peningkatan pendapatan masyarakat akan meningkatkan kemampuan daya beli untuk mengkonsumsi makanan dan minuman. “Dari peningkatan permintaan makanan dan minuman ini juga dapat mempengaruhi sektor lain seperti industri pakan ternak,”ujarnya.

Reza memprediksi support dan resistance tiga emiten tersebut. Untuk INDF support di level Rp4.900-Rp5.100 dan resistance di level Rp5.550-Rp5700. ICBP support di level Rp6.250-Rp6.400 dan resistance Rp6.900-Rp7.100. CPIN support di level Rp2.500-Rp2.750 dan resistance di level Rp3.175-Rp3.400

Sektor Infrastruktur

Dari sektor infrastruktur yang terdiri dari sub sektor telekomunikasi dan jalan tol, emiten yang direkomendasikan oleh Reza adalah PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Semen Gresik (SMGR), PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM), dan PT XL Axiata (EXCL). Menurutnya peningkatan daya beli masyarakat juga ikut berpengaruh pada kemampuan daya beli pada sektor otomotif sehingga penjualan kendaraan meningkat dan dibutuhkan pembangunan jalan tol. “Peningkatan lalu lintas yang melintas di jalan tol akan menikmati peningkatan pendapatan," tuturnya.

Lebih lanjut Reza menuturkan, meski sektor telekomunikasi dianggap sudah jenuh namun jika dilihat kebutuhan masyarakat akan gadget yang besar maka akan membuat perusahaan telekomunikasi mendapatkan keuntungan Secara year to date, sektor infrastruktur naik 24,81%.

Reza memprediksi support dan resistance dari empat emiten tersebut. JSMR support di level Rp5.400-Rp5.750 dan resistance di level Rp5.950-Rp6.100. SMGR support di level Rp11.750-Rp12.400 dan resistance di level Rp13.600-Rp14.150. TLKM support di level Rp8.250-Rp8.850 dan resistance di level Rp9.950-Rp10.450. EXCL support di level Rp5.700-Rp6.000 dan resistance di level Rp7.300-Rp7.750.

Sektor Perdagangan

Kemudian dari sektor perdagangan yang terdiri dari sub sektor ritel, media, dan perdagangan besar barang produksi, Reza merekomendasikan saham emiten PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Global Mediacom Tbk (BMTR), dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN). "Ritel sama seperti industri konsumer dan infrastruktur yang terpengaruh dari kemampuan daya beli masyarakat. Untuk media ikut terkena imbasnya dengan beriklan di perusahaan-perusahaan media. Selain itu, di subsektor perdagangan besar barang prduksi ada alat berat dan distribusi BBM," jelasnya.

Menurut Reza, memang alat berat sedang kurang baik dengan penurunan sektor pertambangan. Namun Reza memperkirakan, asumsi perekonomian semester kedua akan membaik maka penjualan alat berat dapat lebih baik. Secara year to date, sektor saham perdagangan naik 20,94%.

Reza memprediksi support dan resistance dari emiten-emiten tersebut. MAPI support di level Rp6.350-Rp6.550 dan resistance Rp7.250-Rp7.750. AKRA support di level Rp3.175-Rp3.450 dan resistance di level Rp3.875-Rp4.050. UNTR support di level Rp18.900-Rp20.250 dan resistance di level Rp22.550-Rp23.700. BMTR support di level Rp1.650-Rp1.710 dan resistance di level Rp1.820-Rp1.870. MNCN support di level Rp1.975-Rp2.075 dan resistance di level Rp2.300-Rp2.450.

Pada sektor otomotif yang terdiri dari sub sektor otomotif, Reza merekomendasikan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) dan PT Astra Internasional (ASII). Sektor ini, kata dia, masih didukung dari perekonomian Indonesia yang masih cukup baik ditunjang dari peningkatan konsumsi masyarakat.

Reza memprediksi support dan resistance dari dua emiten tersebut. IMAS support di level Rp4.400-Rp5.050 dan resistance di Rp6.350-Rp7.050. Kemudian ASII support di level Rp6.550-Rp6.800 dan resistance di Rp7.350-Rp7.650.

Sektor Perbankan

Terakhir, di sektor saham keuangan khususnya perbankan, Reza merekomendasikan saham emiten Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan Bank Central Asia Tbk (BBCA). Secara year to date, sektor saham keuangan naik 8,63%. "Hal ini berhubungan dengan segala aktifitas transaksi masyarakat. Semakin banyak masyarakat menabung, memanfaatkan layanan perbankan, dan aplikasi kredit dapat meningkatkan kinerja perbankan," paparnya.

Reza memprediksi support dan resistance dari empat emiten tersebut. BBRI support di level Rp6.450-Rp6.850 dan resistance di level Rp7.650-Rp7.950. BMRI support di level Rp7.450-Rp7.800 dan resistance di level Rp8.550-Rp8.950. BBNI support di level Rp3.550-Rp3.700 dan resistance di level Rp4.000-Rp4.150. BBCA support di level Rp7.450-Rp7.600 dan resistance di level Rp8.000-Rp8.250.

Sementara itu, Kepala Riset PT Henan Putihrai Felix Sindhunata menuturkan,sektor saham properti dan konstruksi dapat menjadi pilihan pelaku pasar saham pada semester kedua 2012. "Di tengah ketidakpastian pelaku pasar mencari perusahaan yang memiliki karakter income generation dan dividen baik, properti dan konstruksi dapat jadi pilihan," tandasnya. (didi)

BERITA TERKAIT

Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi - Penanaman Modal di Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

Pemerintah Gencarkan Implementasi Program e-Smart IKM - Industri Kecil dan Menengah

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) kembali menggelar Workshop e-Smart IKM…

Dari Semarang Ke Banjarmasin dan Palembang - Citilink Buka Rute Penerbangan

NERACA Jakarta -Maskapai berbiaya murah (LCC) Citilink Indonesia kembali membuka dua rute penerbangan langsung Semarang - Palembang dan Semarang -…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sidang Dugaan Monopoli Aqua - Saksi Ahli : Praktik Monopoli Mutlak Dilarang

Dari sidang lanjutan atas dugaan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang dilakukan PT Tirta Investama dan PT Balina …

Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun - KAI Tawarkan Kupon Bunga Hingga 8%

NERACA Jakarta – Danai pengembangan ekspansi bisnisnya dan termasuk peremajaan armada, PT Kereta Api Indonesia (Persero) berencana menerbitkan obligasi I…

Laba Bersih Hartadinata Tumbuh 28,4%

NERACA Jakarta – Sepanjang kuartal tiga 2017, PT Hartadinata Abadi Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp 95 miliar atau naik…