Tingkatkan Penjualan, Bukit Asam Alihkan Ekspor Ke India - Dampak Penurunan Harga Batu Bara

NERACA

Jakarta – Melorotnya kinerja perusahaan pertambangan yang dipicu krisis Eropa dan perlambatan ekonomi Cina memberikan imbas pula bagi PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Pasalnya, lantaran permintaan ekspor batu bara berkurang dari Cina akan mengalihkan pasarnya ke India.

Direktur Utama PTBA Milawarma mengatakan, perseroan berencana mengalihkan ekspor batu bara dari China ke India. Langkah ini dilakukan menyusul adanya permintaan yang cukup besar dari negeri Hindustan, “Saat ini penjualan batu bara ke lokal masih mayoritas 65%, sedangkan ekspor hanya 35%," katanya di Jakarta, Senin(27/8).

Menurutnya, dampak dari perlambatan ekonomi Cina menyebabkan permintaan batu bara dari negara tirai bambu tersebut menurun, walaupun masih menyisakan ruang adanya permintaan. Saat ini, perseroan mengoptimalkan produksi dan penjualan batu baranya sesuai dengan kebutuhan pasar.

Dia memaparkan, penjualan batu bara perseroan berdasarkan kontrak saat ini mencapai 80%, dengan komposisi 60% dalam negeri dikuasai oleh PT PLN Persero dan 15% untuk ekspor ke Jepang, serta 15% tiga bulanan, "Kita lebih ke spot. Kita tidak 100% kontrak karena kita menjaga fluktuasi harga batu bara," ungkapnya.

Selain itu, Milawarman menyampaikan optimistis harga batu bara akan menguat pada semester kedua tahun ini. Hal ini menyusul adanya permintaan yang signifikan dari India, sehingga dapat menopang harga batu bara.

Menyoal target volume penjualan batubara sebanyak 16 juta ton sepanjang tahun ini, dia mengakui tergantung dari persiapan angkutan kereta api (KA). Untuk itu, perseroan berencana menggenjot angkutan KA dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar saat ini. "Sekarang kan sedang 'swing' dari China Selatan ke India. Kita upayakan supaya target tetap bisa tercapai. Caranya dengan mendekati pasar, meningkatkan angkutan KA bekerja sama dengan KAI,”paparnya.

Asal tahu saja, sepanjang semester pertama 2012, PTBA mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,56 triliun, turun 3% dari periode yang sama tahun lalu Rp1,61 triliun. Volume penjualan naik 14% dari 6,19 juta ton menjadi 7,08 juta ton. Harga rata-rata penjualan naik 0,5% menjadi Rp785,040 per ton, dari periode yang sama tahun lalu Rp781,220 per ton.

Saham Tambang Redup

Sebelumnya, Managing Research dari Indosurya Asset Management Reza Priyambada pernah bilang, saham pertambangan diawal September diprediksi belum menunjukkan pemulihan. Pasalnya, turunnya harga komoditas masih menjadi faktor utama, “Harga jual batubara belum juga menunjukkan perbaikan. “Kemungkinan masih akan tertekan kinerja mereka,” ujarnya.

Menurutnya, dari sisi teknikal pergerakan indeks pertambangan hingga awal priode September sudah memasuki area oversold sehingga tinggal menunggu potensi rebound aja. Namun demikian, katanya, tekanan atau aksi lepas saham pertambangan masih akan terus terjadi, kecuali untuk beberapa saham yang dinilai masih lebih baik seperti ITMG dan PTBA.

Sampai dengan awal September, lanjutnya, kemungkinan pergerakan dari saham-saham pertambangan tidak akan jauh berbeda dibanding dengan sekarang, dimana masih bergerak variatif.

Kata Reza, saham-saham yang relatif masih kuat hingga awal September nanti adalah ITMG dan PTBA. “Kalau yang sensitif banget seperti BORN, BRMS, BUMI, ADRO. Kecuali kalau asumsinya periode kuartal ke-3 (Juli-Agustus) mereka bisa lebih meningkatkan volume penjualan mungkin bisa mengimbangi penurunan dari sisi harga jual baubara,” tandasnya.

Sementara itu, analis pasar modal dari Universal Broker Satrio Utomo mengatakan, sejauh ini memang harga batu bara sedang mengalami rebound. Tapi menurutnya hal itu belum menjadi sinyal positif. "Arah dari harga komoditas masih belum jelas dan belum ada trigger yang membuat fundamental saham komoditas khususnya tambang akan menarik hingga awal September nanti,"paparnya. (bani)

BERITA TERKAIT

BI Pertahankan Bunga Acuan 4,25% - DAMPAK KENAIKAN SUKU BUNGA THE FED

Jakarta-Meski Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya 0,25%, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan "7-Day Reverse…

Sinergi Indonesia-Korea Tingkatkan Inovasi UKM

Sinergi Indonesia-Korea Tingkatkan Inovasi UKM NERACA Jakarta - Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Ekonomi Makro Hasan Jauhari mengungkapkan…

BIPI Raup Cuan di Infrastruktur Tambang - Tren Kenaikan Harga Batu Bara

NERACA Jakarta –Keyakinan membaiknya harga batu bara di tahun depan, mendorong PT Benakat Integra Tbk (BIPI) menggenjot pendapatan dari bisnis…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

Link Net Targetkan 150 Ribu Pelanggan

Kebutuhan jaringan internet di Indonesia memacu PT Link Net Tbk (LINK) gencar ekspansi jaringan. LINK optimistis bisa memenuhi target 2,8…