Pertumbuhan Kredit Perlu “Direm”

NERACA

Jakarta-- Bank Indonesia berupaya menghambat tingginya pertumbuhan kredit yang pada semester pertama 2012 mencapai 25,8 %. "Kredit kita ini pertumbuhannya sudah tinggi sekali, walaupun saya bilang rasionya masih tergolong rendah," kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta, Senin,27/8

Menurut mantan Dirjen Pajak ini, selama tiga tahun terakhir pertumbuhan kredit selalu di atas 23 %. "Bahkan tahun ini bisa berkisar 25-26 % pertumbuhannya," tegasnya

Lebih jauh kata Darmin, tingginya pertumbuhan kredit tersebut masih dapat dibilang aman jika untuk investasi produksi barang ekspor, namun kenyataannya kredit yang masuk tersebut justru digunakan untuk investasi produksi barang konsumsi domestik, termasuk sektor "real estate". "Makanya kita agak rem sedikit di real estate dengan pemberlakuan "loan to value" (LTV), walaupun dampaknya tidak terlalu banyak," tambahnya

Diakui Darmin, pertumbuhan sektor real estate yang sangat pesat itu dikhawatirkan dapat menyebabkan "overheating" ekonomi, seiring dengan defisit yang juga cukup besar. "Jadi atau tidaknya "overheat" sangat tergantung pada dua hal yaitu apakah kita bisa mendorong FDI atau penyaluran kredit yang ditujukan untuk investasi produksi barang ekspor," ujarnya

Bank Indonesia telah menerapkan aturan pembayaran uang muka (DP) untuk perumahan minimal sebesar 30 % bagi konsumen yang akan membeli rumah secara kredit dengan rumah tipe di atas 70 yang efektif berlaku sejak 15 Juni 2012, bersama dengan DP minimal Kredit Kendaraan Bermotor sebesar 25 % untuk roda dua dan 30 % untuk roda empat.

Ditempat terpisah, Kepala Bank Indonesia perwakilan Kalimantan Barat, Hilman Tisnawan mengatakan tingkat resiko kredit yang disalurkan oleh perbankan Kalimantan Barat terbilang relatif terkendali.

Hal ini tercermin dari membaiknya kualitas kredit yang disalurkan yang diindikasikan oleh menurunnya rasio kredit non lancar terhadap total kredit yang disalurkan (Non Performing Loans/NPLs) pada triwulan II 2012, menjadi sebesar 0,96 %. "Selain itu, tingkat NPLs tersebut masih terjaga jauh di bawah 5 %," kata Hilman di Pontianak, Senin.

Namun demikian, lanjut Hilman, secara nominal, NPLs mengalami peningkatan sebesar 7,45 % persemester menjadi sebesar Rp210,68 Miliar. Berdasarkan jenis penggunaan, penurunan %tase NPLs hanya terjadi pada kredit dengan tujuan modal kerja sebesar 0,16 % persemester menjadi 1,32 %, walaupun secara nominal NPLs meningkat 1,21 % persemester menjadi sebesar Rp102,97 Miliar.

Sementara persentase NPL kredit dengan tujuan investasi dan konsumsi mengalami peningkatan masing-masing menjadi sebesar 0,84 % dan 0,72 %. Mempertimbangkan jangka waktu yang lebih panjang dibandingkan jenis kredit lainnya, kredit investasi memiliki resiko kredit yang relatif tinggi.

Menurunnya risiko kredit yang ditandai dengan menurunnya %tase NPLs juga dialami oleh sektor-sektor usaha utama yang menyerap kredit terbesar di Kalimantan Barat, yaitu sektor usaha Pertanian, Perburuan dan Kehutanan (PPK) yang menurun 0,03 % per semester menjadi 0,45 %. **ria

BERITA TERKAIT

Bank Perlu Diarahkan Pembiayaan Pangan Berkelanjutan

    NERACA   Jakarta - Perbankan di Indonesia perlu didorong memahami pentingnya penyaluran pembiayaan untuk pembangunan berkelanjutan karena bermanfaat…

BEI Dorong Perusahaan di Babel Go Public - Optimalkan Pertumbuhan Ekonomi

NERACA Pangkalpinang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Kepulauan Bangka Belitung mendorong perusahaan di daerah menawarkan sebagian saham kepada…

Pemkab Lebak Mampu Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk

Pemkab Lebak Mampu Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk NERACA Lebak - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Provinsi Banten, mampu mengendalikan laju pertumbuhan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

CIMB Group Jaring Talenta Bidang Digital

  NERACA   Jakarta - CIMB Group Holdings Berhad (CIMB Group) menyelenggarakan CIMB 3D Conquest, kompetisi yang bertujuan mendapatkan dan…

Persiapan Pertemuan IMF – World Bank Hampir Matang

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhur Binsar Pandjaitan mengatakan persiapan penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF-World…

Mandiri Utama Finance Luncurkan Produk Syariah

      NERACA   Jakarta – Melihat potensi pasar yang besar, PT Mandiri Utama Finance (MUF) meluncurkan produk pembiayaan…