Besaran LTV Bank Syariah Belum Ditetapkan

NERACA

Jakarta – Dalam waktu dekat Bank Indonesia akan menerapkan aturan Loan to Value (LTV) terhadap perbankan syariah. Namun masalah besaran LTV tersebut belum jelas. ”Kita akan menetapkan LTV untuk bank syariah, namun mengenai besarannya akan kita teliti lagi. Kita harus diskusi dulu,” kata Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasan Perbankan, Halim Alamsyah di Jakarta (27/8).

Lebih Halim menambahkan BI sudah mengundang para pelaku industri perbankan syariah guna membahas mengenai LTV ini. Namun Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI memang belum memutuskan soal ini.

Peraturan LTV ini, menurut Halim, tidak bisa diterapkan kepada semua produk kredit yang dikeluarkan bank syariah. Karena sifat produk yang dikeluarkan oleh bank syariah dan bank konvensional itu berbeda. ”Ada beberapa produk yang tidak bisa kita gunakan dengan DP yang sama. Kita harus lihat dulu. Misalnya KPR yang sifatnya berbeda karena menggunakan akad MMQ (musyarakah mutanaqisah),” ujarnya.

Walau begitu, lanjut Halim, para bankir syariah secara umum sudah menyetujui akan adanya peraturan. ”(Semua) bankir syariah tidak masalah,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Muamalat, Arviyan Arifin mengaku sepakat dengan peraturan LTV ini, jika nantinya akan diterapkan BI kepada bank-bank syariah. ”Sejauh ini kan LTV syariah belum ada kepastian. Tapi menurut saya bagus-bagus saja kalau itu ditetapkan (terhadap bank syariah),” terangnya

Peraturan ini, menurut Arviyan, akan membuat Bank Muamalat menjadi lebih berhati-hati dan konservatif, terutama dalam menghadapi kredit macet. Karena peningkatan LTV ini juga bisa menyeleksi nasabah mana yang sangat berkualitas dan tidak. ”Kita lebih hati-hati dan konservatif. Ini untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kredit macet dari sektor kredit konsumsi ataupun kredit ekspor-impor. Jadi dengan LTV yang ditingkatkan itu, nasabahnya kan sudah mulai terseleksi. Kalau LTV-nya terlalu rendah nanti akhirnya semuanya akan layak dibiayai, tapi kalau LTV-nya sudah ditinggikan, pasti benar-benar yang bankable yang kita bisa biayai,” jelasnya.

Soal besarannya, ia tidak masalah jika jumlahnya sama dengan bank konvensional. ”Kita ikut ketentuan BI saja. Kita ga ada masalah kalau sama dengan bank konvensional, karena pasarnya kan masih luas,” tuturnya.

Sementara itu, Yuslam Fauzi, Direktur Utama Bank Syariah Mandiri (BSM), mengatakan bahwa pada dua minggu lalu pihaknya memang sudah diundang BI untuk mendapatkan penjelasan tentang kemungkinan adanya pengaturan ulang dalam LTV syariah.

”Ada dua aspek besar yang mempengaruhi (pengaturan ulang) ini. Pertama pertimbangan aspek makro moneter bahwa perlu ada pengaturan yang dilakukan BI supaya mencegah terjadinya overheating di pembiayaan konsumer. Kedua, yaitu aspek mikro yaitu untuk meningkatkan risk management perbankan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Yuslam menegaskan BSM lebih memilih mendukung perubahan peraturan LTV itu. ”Ya, kita akan siap menerima aturan apa saja yang memang untuk kepentingan kita bersama. Kita bukan tipe bank syariah yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, misalnya ketika LTV perbankan syariah diturunkan, maka bank-bank syariah lain mau jor-joran di situ,” jelasnya.

Ketika ditanya mengenai berapa persen besaran LTV yang mereka inginkan, ia bilang itu urusan BI, termasuk jika ingin disamakan dengan besaran LTV bank konvensional. ”Soal berapa persennya, apakah akan sama persis dengan perbankan konvensional atau ada perbedaan sedikit, kita belum tahu. Itu domainnya BI. Kita ikut saja, fair treatment juga tidak apa-apa,” paparnya.

Yuslam mengatakan tidak ada potensi penurunan jika peraturan ini diberlakukan, namun pasti ada sedikit koreksi. ”Kalau potensi penurunan (sepertinya) tidak, tapi pengereman mungkin akan terjadi. Kalau turun dengan mengerem kan beda. Ya, mungkin pertumbuhannya akan terkoreksi sedikit,” tutupnya. **ria

BERITA TERKAIT

Belum Seutuhnya Merdeka

Oleh: Dhenny Yuartha Junifta Peneliti INDEF Sudah 72 tahun Republik ini memproklamasikan diri sebagai negara merdeka. Namun, seiring nafas perubahan…

Bank Banten Luncurkan 'Kredit Usaha Bangun Banten'

Bank Banten Luncurkan 'Kredit Usaha Bangun Banten' NERACA Serang - Bank Pembangunan Daerah Banten (Bank Banten) selaku Bank milik pemerintah…

Indonesia Defisit 2.500 Tenaga Pialang - Bursa Berjangka Belum Optimal

NERACA Palembang – Mendorong Indonesia menjadi tuan di rumah sendiri dalam acuan harga komoditas dunia dan mensejahterakan para petani, merupakan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Ancaman Serangan Siber ke Industri Keuangan Meningkat

    NERACA   Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengingatkan ancaman serangan siber terhadap sistem…

BTN Siapkan 2.000 Unit Apartemen di Kawasan Undip

      NERACA   Semarang - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menggelar kemitraan dengan Ikatan Keluarga Alumni Universitas…

Bank Mandiri Incar Fintech Potensial

      NERACA   Jakarta - Bank Mandiri berkomitmen untuk terus mengembangan industri kreatif di tanah air untuk menciptakan…