Terbebani Utang dan Rugi, Grup Bakrie Diujung Tanduk

NERACA

Jakarta – Merosotnya kinerja emiten sektor tambang lantaran krisis Eropa, juga memukul bisnis kelompok usaha Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Perseroan mencatatkan rugi bersih US$ 334,111 juta atau setara Rp 3,14 Triliun sepanjang semester I-2012. Penyebab utamanya, karena dua hal yakni rugi kurs dan transaksi derivatif.

Menurut pengamat pasar modal dari FE Univ.Pancasila, Agus Irfani, akibat kerugian yang diderita BUMI sekitar US$ 300 juta merupakan indikasi bisnis Grup Bakrie telah mengalami kemerosotan.

Menurut dia, fakta dalam dunia bisnis memang diindikasikan bisnis Bakrie mengalami kesulitan tetapi belum tentu dalam kondisi internal bisnis Grup Bakrie. “Bappepam-LK harus melakukan kebijakan mengaudit dan kemudian akan bisa diketahui apakah kinerja pasar dan internalnya bermasalah apa tidak,” katanya kepada Neraca di Jakarta, Minggu (26/8).

Sementara Kepala Riset dari PT Universal Broker Satrio Utomo mengungkapkan, turunnya kinerja BUMI juga ada rumor mengenai utang jatuh tempo yang nilainya besar. “Jadi di saat sedang mengalami utang yang begitu besar, kemudian dihajar lagi dengan harga batubara yang turun, ya jadilah keadaannya seperti itu,”ujarnya.

Asal tahu saja, mengutip lapora keuangan BUMI 2011, perseroan mencatatkan utang jatuh tempo tahun 2012 mencapai US$638 juta (Rp6,38 triliun). Sementara di tahun 2013 sebesar US$1,1 miliar, 2014 sebesar US$635 juta, 2015 sebesar US$313 juta, 2016 sebesar US$450 juta dan di 2017 sebesar US$700 juta. Maka jika disederhanakan, hingga 2014 BUMI harus melunasi utang jatuh tempo sebesar US$3 miliar (Rp30 triliun).

Selama ini aksi korporasi yang dilakukan BUMI atau emiten Grup Bakrie, lanjut Satrio belum memberikan keuntungan riil, khususnya kepada pemegang saham. Meski dalam setiap aksi korporasi merinci seluruh potensi keuntungan, namun keuntungan itu belum dipegang perusahaan.

Seperti contohnya pada BUMI. Satrio menilai BUMI terlalu sering melakukan aksi korporasi, padahal cost of fund-nya sangat tinggi sekali, sedangkan pendapatannya hanya pendapatan normal dan akhirnya mencari utang dan timbullah gali lubang tutup lubang.

Kemudian dia juga mempertanyakan niat PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menjual Bakrie Toll Road. Dia menilai, aset jalan tol milik Bakrieland mulai menguntungkan, “Sepertinya penjualan aset itu hanya upaya ELTY membayar utang saja, seperti aksi grup Bakrie lain. Hal seperti itu merupakan khas dari perusahaan Bakrie. Langkah-langkah yang dilakukan seolah-olah hanya untuk terlihat melakukan aksi korporasi di mata investor,"ungkapnya.

Lindungi Investor

Terkait nasib para investornya, menurut Satrio, adalah tugas dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) untuk melindungi investor. “Mereka itu terkesan hanya mengeluarkan peraturan saja tapi tidak ada tindakan jelas kepada emiten nakal seperti grup Bakrie ini. Kan kasihan itu investor yang sudah terlanjur nyangkut, terutama permodal ritel yang terjebak dalam permainan ini,” jelasnya.

Dia menegaskan Bursa dan Bapepam-LK harus aware dengan hal ini agar jangan sampai nanti ada suatu titik dimana Bursa akan jatuh akibat adanya gerak gerik yang tidak baik dari perusahaan seperti Grup Bakrie ini, “Kalau saya sih lebih cinta dengan pasar modal kita daripada memelihara perusahaan yang seperti itu karena memang perusahaan seperti itu lebih banyak mudharatnya. Karena ibarat orang sudah jatuh sekali kan harusnya kapok, nah perusahaan ini malah mengulang kembali,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan managing research Indosurya Asset Management Reza Priyambada, imbas rugi perusahaan Bakrie tentu akan berimbas bagi investor. Nasib investor, menurutnya, akan tidak baik jika kinerja perusahaan Bakrie ini tidak juga membaik. "Investor akan apes. Mungkin mereka akan memilih saham lain yang jauh lebih safety daripada bertahan di saham Bumi. Misalnya saham perusahaan tambang lain, seperti PTBA, atau seperti pilihan teman-teman analis, yaitu (saham) properti dan konsumer," tuturnya

Sebelumnya, analis BNI Securities Viviet S. Putri pernah bilang, aksi korporasi yang dilakukan kelompok usaha grup Bakrie akan terbebani utang. Beban itu tidak hanya kepada entitas usahanya, namun juga pada entitas lain dalam kelompok perusahaan Bakrie. "Jadi pendapatan dan labanya dikonversi untuk membayar utang,”ujarnya.

Sebagai informasi, mesin uang bisnis Bakrie sedang meredup, terlihat dari kepemilikan perseroan di PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) tergerus, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebagai soko guru PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) juga merugi.

Laporan keuangan BNBR audit 2011 menyebutkan, total utang perseroan mencapai Rp5,4 triliun. Dari total utang itu, sebesar Rp295 miliar jatuh tempo tahun ini yang berasal dari transaksi repo. Selain itu, perusahaan investasi juga harus melunasi utang US$437 juta (Rp4,3 triliun) dari 20 kreditur internasional yang digalang Credit Suisse, menyusul harga saham Bumi Plc turun dari yang disepakati.

Mengacu data Horizon Research, per Desember 2011, kepemilikan BNBR di BUMI mencapai 29,8%. Berdasarkan laporan keuangan 2011, BUMI memperoleh pendapatan US$4 miliar (Rp40 triliun), laba usaha US$1,12 miliar dan laba bersih US$221 juta. Dengan porsi kepemilikan tersebut, maka sumbangan pendapatan BUMI kepada BNBR mencapai US$1,17 miliar. Sementara laba usaha dan laba bersih menyumbang masing-masing US$330 juta dan US$60 juta.

Sementara motor uang grup Bakrie yang lain seperti ELTY atau UNSP sudah tidak bisa diharapkan. Di ELTY, kepemilikan Grup Bakrie sudah tidak mayoritas pasca masuknya Limitless Limitless World International Services Ltd. Kini, saham Bakrie di perusahaan properti itu hanya tersisa 8%. didi/mohar/ ria/ bani

BERITA TERKAIT

Kemenkop dan OASE Berdayakan Masyarakat di Malaka

Kemenkop dan OASE Berdayakan Masyarakat di Malaka NERACA  Malaka - Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE Kabinet Kerja) bersama…

BEI Pastikan Kondisi Pasar Aman dan Baik - Ditutup Berada di Zona Hijau

NERACA Jakarta – Kembali menyakinkan investor pasar modal untuk tidak melakukan aksi panik jual, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melihat…

Rupiah Belum Stabil, Utang Luar Negeri Naik 4,8%

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan utang luar negeri Indonesia mencapai US$358 miliar atau setara Rp5.191 triliun (kurs…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

YLKI: Putusan MA Soal Taksi Daring Langkah Mundur

NERACA Jakarta - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai putusan Mahkamah Agung (MA) yang membatalkan…

PEMERINTAH SIAPKAN ATURAN KHUSUS (PP) - Eksportir Wajib Konversikan 50% DHE

Jakarta-Pemerintah akhirnya siap menerbitkan aturan yang mewajibkan eksportir mengkonversi devisa hasil ekspor (DHE) yang semula berbentuk mata uang asing ke rupiah.…

BUMN Harus Mampu Sebagai Jangkar Kinerja Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan kontribusi ekspor BUMN mencapai sekitar lima miliar dolar AS tahun ini. PT…