Realisasi Pasokan Listrik 300 MW Diharapkan Tepat Waktu - Program Listrik 10.000 MW

NERACA

Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pasokan listrik untuk program 10.000 MW tahap kedua, dari total 10.047 MW, sekitar 66% merupakan pembangkit yang menggunakan energi baru terbarukan (EBT) yaitu PLTP 4.900 MW dan PLTA 1.753 MW.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman mengatakan, pada tahap kedua ini sekitar 300 megawatt akan masuk paling lama sekitar awal semester II-2013. Dia menjelaskan, rencananya, setelah 3-6 bulan, pembangkit sudah bisa beroperasi. “Target 300 MW pada 2013 ini diharapkan tidak sampai mundur, karena beberapa pembangkit kecil sudah tersedia di luar Pulau Jawa,” jelas Jaman, pekan lalu.

Meskipun demikian, Jarman mengatakan, bisa dipastikan hanya dapat beroperasi jika sudah commisioning dan lulus SLU. Saat ini sudah ada pembangkit yang prosesnya sudah mencapai tahap konstruksi akhir, setelah itu masuk commisioning.

Dari informasi yang diperoleh, terkait program percepatan10.000 MW tahap kedua ini, terdiri dari proyek PLN dan IPP. IPP yang ada di program 10.000 MW tahap kedua, mulai 2013 mulai masuk ke sistem atau COD sebesar 60 MW. Kemudian akan dilakukan secara bertahap dan mencapai puncaknya pada tahun 2015.

Berdasarkan COD estimasi program percepatan 10.000 MW tahap kedua proyek PLN statusnya per 27 Juli 2012, untuk tahun depan sekitar 274 MW atau hampir 300 MW. Kemudian pada 2014 249 MW, pada 2015 953 MW, pada 2016 184 MW, lalu 2017 sekitar 1.115 MW dan 2018 mencapai puncaknya, 10.000 MW.

Pasokan listrik direncanakan akan masuk secara bertahap tersebut, antara lain dari PLTP Patuha 60 MW, PLTG Bangkanai 140 MW, PLTU Lombok 2x25 MW, PLTU Bau-Bau 2x10 MW, PLTU Ketapang 10 MW, dan PLTU Melak 2x7 MW.

Jaman menambahkan, untuk tahun depan pembangkit listrik yang dikelola IPP (Independent Power Producer) adalah PLTP Patuha. Hal ini dilakukan dalam wilayah kerja panas bumi (WKP) Patuha di Kampung Kendeng/Babakan, Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Sebelumnya, Direktur Utama PLN (Persero) Nur Pramudji pernah menyampaikan, untuk tahap kedua ini PLN memegang 26 proyek dengan kapasitas 3.757 MW, sedangkan 72 proyek dengan kapasitas 6.290 MW dikelola oleh IPP. Menurut dia, sampai dengan akhir tahun 2012 realisasi proyek 10.000 mega watt (MW) tahap pertama akan mencapai 64%, atau 6.338 MW. "Sampai dengan akhir tahun 2012 program 10.000 MW tahap pertama akan tercapai 6.338 MW, atau 64%," jelasnya.

Dia mengakui proyek tersebut memang terhambat pembangunannya karena beberapa persoalan teknis seperti peralatan yang rusak sebelum digunakan dan lain-lain. Dijelaskannya, beberapa kendala menyertai proyek itu. “Makanya kita akan evaluasi pada proyek 10.000 MW tahap kedua," tandasnya.

Di pihak lain, guna menekan anggaran subsidi secara cepat dan signifikan, pemerintah bakal mengajukan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan harga BBM subsidi tahun depan, setelah tahun ini gagal karena tidak disetujui DPR. Karena itu pemerintah berharap, tahun depan DPR bakal memuluskan rencana kenaikan harga BBM subsidi dan TDL tersebut.

Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, memang yang paling cepat menurunkan subsidi memang kenaikan TDL dan BBM, tapi ini harus dengan DPR. “Jadi kalau ini disadari penting untuk menurunkan subsidi, maka kalau DPR dan pemerintah sepakat selesai masalahnya," ujarnya.

Dia menjelaskan, rencana kenaikan TDL dan BBM akan diajukan pada Rancangan APBN (RAPBN) 2013. Skema yang digunakan adalah kenaikan secara bertahap sehingga tidak memberatkan masyarakat. Menurut Jero, dengan rencana kenaikan TDL dan BBM tersebut, setidaknya anggaran subsidi energi dapat ditekan menjadi Rp 200 triliun. Namun belum disebut berapa kenaikan BBM subsidi dan TDL tahun depan.

Pemerintah menetapkan besaran subsidi energi tahun 2013 sebesar Rp274,74 triliun. Dari anggaran tersebut, subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) mencapai Rp193,8 triliun dan subsidi listrik Rp80,937 triliun. Bila tarif dasar listrik (TDL) dan harga BBM dapat dinaikkan, maka subsidi energi dalam APBN 2013 bisa ditekan pada angka Rp200 triliun.

BERITA TERKAIT

Bikin Program Pendidikan, Bank Mandiri Gaet UGM

      NERACA   Jakarta - Bank Mandiri menjalin kerjasama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam peningkatan kemampuan perbankan…

Genjot DPK, BTN Gelar Program “Super Untung Jaman Now”

      NERACA   Jakarta - Berhasil meraih pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 20,45% di atas rata-rata industri…

UU Kewirausahaan Diharapkan Berikan Perlindungan Usaha Mikro

UU Kewirausahaan Diharapkan Berikan Perlindungan Usaha Mikro NERACA Bantul - Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan Undang-undang (UU) Kewirausahaan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Impor Ponsel Turun Drastis - Produksi Nasional Disebut Tembus 60 Juta Unit

NERACA Jakarta – Industri telepon seluler (ponsel) di dalam negeri mengalami pertumbuhan jumlah produksi yang cukup pesat selama lima tahun…

Tekan Produk Ilegal - Sistem Validasi IMEI Ponsel Ditargetkan Beroperasi April 2018

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika serta operator telepon seluler (ponsel) akan melakukan langkah sinergi untuk…

KKP Fasilitasi Pembudidayan Ikan Berbasis Kemitraan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan mengapresiasi peran BUMN dalam mendorong pemberdayaan pembudidaya ikan melalui implementasi program CSR dan…