Awal Pekan, IHSG Masih Dizona Merah

NERACA

Jakarta – Pada akhir pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 17,260 poin (0,41%) ke level 4.145,399. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 4,861 poin (0,68%) ke level 713,2,57.

Menurut Managing Research PT Indosurya Securities Reza Priyambada, pelemahan indeks dipengaruhi perlambatan ekonomi yang masih menjadi katalis utama terhadap kondisi pasar global, “Kabar terakhir disebutkan bahwa negara-negara pengekspor Asia yang terkena dampak besar, hal itu ditandai dengan penurunan tingkat Ekspor, dan perlambatan pertumbuhan manufaktur, terutama pada China serta Jepang,”katanya di Jakarta akhir pekan lalu.

Terlebih lagi, lanjut dia, pihak AS juga harus lebih mencermati keputusan moneternya agar dapat lebih berpengaruh terhadap perkembangan ekonominya, dibandingkan stimulus-stimulus sebelumnya.

Berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan akan bergerak dengan kecenderungan melemah. Indeks diproyeksikan bergerak di level 4.130-4.140. Sebagaimana diketahui, saham-saham unggulan berbasis komoditas yang kemarin sempat naik terdorong naiknya harga-harga komoditas kini mulai terkena aksi jual. Aksi beli selektif justru merambah saham-saham lapis dua.

Aksi beli ini juga yang berhasil mengurangi koreksi indeks. Namun sayangnya, indeks tetap gagal kembali ke teritori positif. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 78.669 kali pada volume 1,93 miliar lembar saham senilai Rp 3,141 triliun. Sebanyak 91 saham naik, sisanya 126 saham turun, dan 95 saham stagnan.

Bursa-bursa di regional menutup akhir pekan dengan suram, semuanya kompak terjebak di zona merah. Sentimen ini juga menyeret IHSG ke teritori negatif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Delta Jakarta (DLTA) naik Rp 15.000 ke Rp 225.000, Mayora (MYOR) naik Rp 700 ke Rp 20.700, Lion Metal (LION) naik Rp 500 ke Rp 10.000, dan Indomobil (IMAS) naik Rp 450 ke Rp 5.700.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain United Tractor (UNTR) turun Rp 900 ke Rp 21.400, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 900 ke Rp 36.900, HM Sampoerna (HSMP) turun Rp 800 ke Rp 51.200, dan Indocement (INTP) turun Rp 400 ke Rp 20.600.

Perdagangan sesi I, indeks BEI juga ditutup melemah 11,341 poin (0,27%) ke level 4.151,318. Sementara Indeks LQ45 turun 2,340 poin (0,33%) ke level 715,778. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 37.402 kali pada volume 1,157 miliar lembar saham senilai Rp 1,575 triliun. Sebanyak 62 saham naik, sisanya 120 saham turun, dan 84 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Unilever (UNVR) naik Rp 650 ke Rp 26.150, Mayora (MYOR) naik Rp 600 ke Rp 20.600, Sarana Menara (TOWR) naik Rp 500 ke Rp 20.500, dan Indomobil (IMAS) naik Rp 250 ke Rp 5.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 950 ke Rp 36.850, United Tractor (UNTR) turun Rp 350 ke Rp 21.950, Semen Gresik (SMGR) turun Rp 300 ke Rp 12.950, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 250 ke Rp 21.750.

Sementara diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 16,22 poin atau 0,39% ke posisi 4.146,44. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 4,13 poin (0,57%) ke level 713,99, “Bursa Asia dibuka melemah termasuk IHSG BEI seiring koreksi di bursa global," ujar analis Samuel Sekuritas Adrianus Bias.

Dia mengatakan, sentimen negatif diperkuat dengan pernyataan Perdana Menteri Jerman bahwa Uni Eropa sedang berada dalam masa resesi saat ini. Dimana pemerintah Jerman enggan memberikan kelonggaran bail-out bagi Yunani dan kembali surutnya spekulasi The Fed akan memberikan stimulus.

Dia menambahkan, sentimen negatif juga berasal dari data manufaktur China di bulan Agustus yang diperkirakan kembali turun. Oleh karena itu, sejak diawal dia memproyeksikan beberapa sektor yang belum terkoreksi,diperkirakan melemah seperti saham sektor semen, minyak sawit mentah (CPO) dan perbankan.

Sementara analis Sinarmas Sekuritas James Wahjudi menambahkan, pada perdagangan hari Jumat, secara teknikal indeks BEI diperkirakan bergerak "mixed" di kisaran 4.120-4.190 poin.

Dia mengatakan, pertemuan yang dilakukan oleh Jerman, Perancis dan Yunani untuk membahas seputar likuiditas pembayaran utang oleh Yunani terhadap krediturnya dan dirilisnya data-data ekonomi AS terutama data klaim pengangguran dan data penjualan rumah baru bulan Juli akan memberikan sentimen terhadap pergerakan indeks.

Selain itu, lanjut dia, antisipasi terhadap dirilisnya data produk domestik bruto (GDP) Inggris kuartal dua 2012 dan data "durable goods orders" AS bulan Juli juga akan memberikan sentimen terhadap pergerakan indeks.

Tercatat bursa regional diantaranya indeks Hang Seng melemah 217,76 poin (1,08%) ke level 19.914,48, indeks Nikkei-225 turun 103,95 poin (1,13%) ke level 9.073,93 dan Straits Times melemah 14,86 poin (0,48%) ke level 3.041,17. (bani)

BERITA TERKAIT

Penjatahan Saham Efektif Berlaku Awal 2018

NERACA Jakarta –Wacana penjatahan saham IPO bagi investor ritel dan istitusi tengah di kodok PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama…

Lagi, IHSG Catatkan Rekor Baru 6.113 Poin

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (14/12), indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mencatatkan…

Investasi Sulsel Masih Terpusat di Makassar

NERACA Makassar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua) mengungkapkan, investasi saham untuk wilayah Sulawesi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

Link Net Targetkan 150 Ribu Pelanggan

Kebutuhan jaringan internet di Indonesia memacu PT Link Net Tbk (LINK) gencar ekspansi jaringan. LINK optimistis bisa memenuhi target 2,8…