Kemenperin Minta Pengusaha Patuhi Regulasi Konverter Kit - Perkembangan Program Konversi BBM ke BBG

NERACA

Jakarta – Untuk menunjang program konversi dari Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG), saat ini pemerintah telah mengeluarkan aturan tentang pemberlakuan persyaratan teknis rangkaian komponen konverter kit bagi kendaraan bermotor. Kementerian Perindustrian meminta pelaku usaha mematuhi aturan tersebut.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan, tujuan dari aturan tersebut agar mutu dan kulaitas konverter kit dengan bahan bakar Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquefied Gas for Vehicle (LGV) bisa terjaga dengan baik. Rangkaian konverter kit menurut Hidayat, adalah rangkaian komponen khusus untuk mengkonversi atau mengubah pemakaian bahan bakar bensin ke bahan bakar gas yang diinjeksikan ke dalam ruang bahan bakar pada silinder mesin kendaraan bermotor.

“Dalam peraturan yang ditandatangani pada 23 Juli 2012 tersebut, pelaku usaha dalam negeri dan luar negeri harus mematuhi persyaratan yang telah ditetapkan terkait dengan keselamatan, kesehatan, keamanan, dan perlindungan lingkungan hidup. Dalam pasal 2 ayat 2 dijelaskan persyaratan teknis konverter kit berbahan bakar CNG dan LGV,” paparnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Rangkaian konverter kit, lanjut Hidayat, berbahan bakar CNG dan memiliki pipa penyaluran, pengatur (regulator), pencampur (mixer/injector), katup silinder, katup isolasi, pengisi katup non-balik, sambungan pengisian, alat pemutus otomatis, peralatan kontrol tekanan gas, indikator volume bahan bakar gas, alat kontrol elektronik, dan perkabelan untuk rangkaian komponen konversi gas.

“Adapun rangkaian konverter kit berbahan bakar LGV sekurang-kurangnya terdiri atas pipa penyaluran, pengatur, injektor, penyaring LGV, change over switch, indikator volume, sambungan pengisian bahan bakar, unit kontrol elektronik, dan katup penutup,” ujarnya.

Hidayat menambahkan, tabung CNG merupakan tabung yang memiliki tekanan kerja 200 bar dan digunakan pada kendaraan bermotor sebagai tempat bahan bakar CNG. “Tabung LGV yang dilengkapi dengan katup banyak merupakan tabung yang memiliki tekanan kerja sebesar 20 bar. Dengan aturan tersebut, pemerintah berharap produsen konverter kit dapat membuat produk sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tandasnya.

Tahap Tender

Di tempat berbeda, Dirjen Minyak dan Gas Bumi Evita Herawati Legowo, mengungkapkan untuk mempercepat program Konversi dari Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG), rencananya, November ini sebanyak 14.000 konverter kit sudah terpasang di angkutan kota.

Lebih jauh Evita mengatakan saat ini konverter kita belum dibagikan lantaran proses pengadaan konverter kit masih dalam tahap tender. Adapun pengadaan konverter kit ini menggunakan anggaran APBN. Diharapkan pada November 2012 sudah ada pemasangan konverter kit di angkutan kota yang ada di Jakarta dan Jawa Timur. "Harapan kami November tahun ini sudah ada pemasangan konverter kit khususnya di Jawa Timur dan Jakarta,” kata Evita.

Seperti diketahui, 2012, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyediakan sekitar 15.000 konverter kit, yakni 14.000 untuk angkutan umum dan 1000 untuk percontohan, seperti instansi pemerintah. Sementara tahun depan, program dilanjutkan oleh Kementerian Perindustrian. Adapun anggaran yang akan dianggarkan untuk menyediakan konverter kit dari anggaran Kementerian Perindustrian sekitar Rp 500 miliar-Rp 600 miliar.

Terkait pembangunan SPBG, pemerintah sudah merencanakan akan membangun sebanyak 33 SPBG. Diharapkan dalam waktu dekat sudah ada beberapa SPBG yang terbangun baik dengan cara commissioning (tahap uji coba) dan sebagainya. “Diharapkan sih dapat beroperasi Maret 2013,” lanjutnya.

Jika baru beroperasi Maret, artinya target ini mundur dari yang dikatakan oleh Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini. Rudi mengatakan menyatakan bahwa infrastruktur program Konversi BBM ke BBG unutk transportasi akan siap pada 10 Desember 2012, termasuk beroperasinya satu SPBG online.

“Tunggu sampai 10 Desember. Sekarang yang ditunggu adalah tender konverter kit yang ada di Bu Evita (Dirjen Migas). Itu saja yang paling krusial,” ujar Rudi.

Menurut Rudi, sampai dengan akhir tahun, Pertamina akan menyelesaikan pembangunan 4 SPBG online baik dari dana sendiri maupun APBN, berlokasi di DKI Jakarta . Selain itu, PT Pertamina Gas (Pertagas, anak perusahaan Pertamina) juga akan menuntaskan satu pilot project infrastruktur (mother daughter system) di Bitung, Bekasi.

“Pertamina sudah menyanggupi 1 SPBG online jadi pada 10 Desember dan berlokasi di Jakarta. Selain di Jakarta nantinya akan di bangun di Palembang dan Surabaya, namun pertama akan dibangun di Jakarta,” kata Rudi.

BERITA TERKAIT

Iriawan Minta Kabupaten/Kota di Jabar Optimalkan Ekspor IKM

Iriawan Minta Kabupaten/Kota di Jabar Optimalkan Ekspor IKM NERACA Bandung - Penjabat Gubernur Jawa Barat Mochamad Iriawan mendorong Kabupaten dan…

BI Minta Bank Tidak Naikkan Bunga

    NERACA Jakarta - Bank Indonesia menyatakan perbankan tidak memiliki alasan menaikkan bunga kredit dan simpanan dalam waktu dekat…

Produsen Otomotif Sambut Regulasi

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut positif regulasi mengenai penarikan kendaraan untuk reparasi (recall) yang telah diatur berdasarkan Peraturan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Sawit RI-India Jalin Kerjasama Produksi

NERACA Jakarta – Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), The Solvent Extractors' Association (SEA) India, dan Solidaridad Network Asia Limited (SNAL) menandatangani…

Strategi Niaga - Pemerintah Perlu Lobi Amerika Terkait Ancaman Pencabutan GSP

NERACA Jakarta – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, pemerintah perlu melobi pemerintah Amerika Serikat terkait potensi pencabutan fasilitas…

BPPSDMP Kementan Terus Ikhtiar Cetak Wirausaha Pertanian

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mengambil langkah strategis dengan penyediaan sumber daya…