Krisis Global Belum Usai

Oleh : Prof. Firmanzah, PhD

Guru Besar FEUI

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Dampak krisis di zona Eropa, Amerika Serikat dan pelemahan ekonomi sejumlah negara penyangga pertumbuhan ekonomi dunia seperti China dan India telah terasa bagi perekonomian Indonesia. Beberapa waktu lalu BPS mempublikasikan defisit neraca pembayaran kuartal II/2012 sebesar US$ 2,8 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan pada kuarta I/2012 US$ 1 miliar.Membaca trend krisis global sekaligus antisipasinya perlu terus dilakukan untuk mitigasi dampaknya kepada perekonomian nasional.

Sepertinya krisis global masih membutuhkan waktu yang lebih lama dari perkiraan awal untuk bisarecovery. Pada 24 Juli 2012, Moody’s memberikannegative outlookbagi sejumlah negara di Eropa seperti Belanda, Jerman dan Luxemburg. Hal ini menambah suram-nya kondisi ekonomi Eropa terkait ketidakpastian penyelesaian krisis Eropa. Perekonomian sejumlah negara Eropa mengalami kontraksi seperti Inggris pada kuartal II 2012 (yoy) sebesar 0,8%, Spanyol 1 % dan Italia tumbuh minus 2,5%. Secara keseluruhan perekonomian Eropa mengalami kontaksi pada kuarta II 2012 sebesar 0,4% (yoy).

IMF menurunkan perkiraan pertumbuhan Amerika Serikat tahun depan menjadi 2%. Pada kuarta II/2012, ekonomi Amerika Serikat melambat menjadi 1,5% dibandingkan kuartal I/2012 sebesar 2,2%. Sementara tingkat pengangguran di Amerika Serikat meningkat menjadi 8,3% (Juli 2012). Kebijakan menerapkan "fiscal cliff" berupa kenaikan pajak dan pemotongan belanja dapat memperdalam kontraksi ekonomi di Amerika Serikat. Krisis yang terjadi baik di Eropa dan Amerika Serikat berdampak pada wilayah lain tidak terkecuali Asia.

Di kawasan Asia, China mengalami perlambatan ekonomi pada kuartal II/2012 (yoy) menjadi 7,6% dan menurun dibandingkan kuartal I/2012 sebesar 8,1%. Jepang mengalami penurunan pertumbuhan pada kuartal II/2012 (yoy) hanya sebesar 0,3% dan lebih rendah dibandingkan kuartal I/2012 sebesar 1,3%. Sementara produksi industri India turun tajam pada Juni 2012 menjadi -1,8% dan penjualan ritel mengalami penurunan secara signifikan.

Aktivitas industri manufaktur India pada Juli 2012 turun pada titik terendah selama tujuh bulan terakhir.RAPBN 2013 menjadi salah satu instrumen untuk mitigasi dampak krisis melalui pengelolaan defisit anggaran terhadap PDB di tingkat aman, optimalisasi pendapatan pajak dan bukan pajak, efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran dan memperlancara penyerapan anggaran untuk memperkuat struktur industri nasional. Selain itu juga, upaya diversifikasi pasar ekspor nasional perlu terus kita lakukan. Investasi (PMA dan PMDN) perlu terus ditingkatkan. Percepatan investasi untuk memproduksi barang modal dan bahan baku penolong dilakukan agar aliran investasi tidak diiringi dengan tingginya impor nasional.

BERITA TERKAIT

BEI Sebut 18 Emiten Belum Free Float Saham

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan, hingga saat ini masih ada 18 emiten yang belum memenuhi aturan…

10 Juta Orang Belum Nikmati Listrik

  NERACA Sulsel - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rida Mulyana…

Investasi EBA-SP Masih Belum Optimal - Minim Edukasi

NERACA Jakarta – Di tengah melesatnya pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), rupanya hal tersebut…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Modal Pemerintah di Koperasi, Mungkinkah?

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Koperasi yang merupakan soko guru perekonomian nasional—sebenarnya mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap…

Keuangan Inklusif yang Ekslusif

  Oleh: Ariyo DP Irhamna Peneliti INDEF   Pada 13 Februari 2018, Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Utusan Khusus…

Penggabungan PGN Ke Pertamina - Oleh : Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for budget Analysis (CBA)

Hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN…