Tak Semua Reksa Dana Cepat Berkembang

NERACA

Investasi reksa dana untuk sebagian orang memang sangat bagus, namun begitu banyak jenis reksa dana yang ditawarkan oleh para penggusaha, ini yang membuat persaingan dalam produk reksa dana sendiri cukup kompeten.

Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), Abiprayadi mencatat, dana kelolaan reksa dana syariah menyusut 1,67% dari Rp3,76 triliun per akhir Agustus 2010 menjadi Rp3,701 triliun per Agustus 2011. Masih minimnya instrumen investasi yang menggunakan sistem syariah, sehingga membuat pertumbuhan industri reksa dana syariah sepanjang tahun ini menjadi negatif.

“Kendala utama di industri (reksa dana) syariah sedari dulu ya masalah instrumen investasi. Kami cukup sulit untuk mengelola karena pilihan instrumennya cukup sedikit, baik itu terkait saham maupun Sukuk. Pilihannya relatif itu-itu saja,” tuturnya.

Ia berharap untuk tahun 2012 akan ditingkatkan jumlah instrumen investasi syariah agar dapat bertambah sehingga memberi ruang yang cukup bagi perusahaan pengelola reksa dana untuk mengembangkan produk reksa dananya. Agar tidak kalah bersaing dengan prosuk reksa dana lainnya, ungkapnya.

Dengan pertumbuhannya yang minus tersebut, menurut Abiprayadi, kontribusi produk reksa dana syariah terhadap perkembangan industri reksa dana masih belum cukup signifikan. Banyak yang harus diperbaiki dalam produk reksa dana, agar bisa menarik masyarakat untuk berinvestasi di produk reksa dana.

Banyak faktor yang membuat penjualan reksa dana berkurang, mulai dari nilai dana kelola reksa dana syariah yang masih di level Rp3,7 triliun terbilang sangat kecil dibandingkan dengan kontribusi jenis reksa dana lainnya, seperti reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana terproteksi ataupun reksa dana pendapatan tetap.

“Saat ini kontribusi terbesar masih sama, yaitu reksa dana saham dengan nilai dana kelola mencapai Rp58,281 triliun. Di bawahnya baru reksa dana terproteksi dan lalu reksa dana pendapatan tetap,” tutur Abiprayadi.

Besarnya kontribusi reksa dana saham, lanjut Abiprayadi, tak lepas dari cenderung kondusifnya pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam satu tahun terakhir. Bukan hanya itu banyak investasi asing yang masuk ke pasar modal Indonesia. Dengan pertumbuhan ekonomi yang masih stabil Indonesia menjadi sasaran untuk orang asing yang ingin berinvestasi.

Begitu banyak jenis reksa dana yang di tawarkan. Namun, tidak semua jenis reksa dana menjadi pilihan bagi investasi. Banyak faktor yang dilihat mulai dari segi keuntungan dan jenis investasi dalam jangka panjang.

Sementara reksa dana terproteksi dan reksa dana pendapatan tetap disukai karena memang cenderung sesuai dengan karakteristik investor lokal yang cenderung moderat dalam memandang portofolio investasi. Mereka tidak perlu return yang sangat tinggi, tapi yang penting aman,” tegas Abiprayadi.

BERITA TERKAIT

Wakaf Asuransi Syariah Punya Potensi Berkembang

    NERACA   Jakarta - Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) menilai wakaf asuransi syariah mempunyai potensi yang besar untuk…

Indonesia Masih Butuh Sistem Birokrasi Lebih Cepat

  NERACA   Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan dalam menghadapi dunia persaingan dewasa ini, Indonesia membutuhkan sistem birokrasi…

Empat Dana Abadi akan Tersaji di 2020

  NERACA   Jakarta - Kantor Staf Kepresidenan menyebutkan Indonesia akan memiliki empat jenis dana abadi untuk berbagai kebutuhan mulai…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…