Teliti Memilih Buah yang Sudah Masak

Sabtu, 01/09/2012

NERACA

Konsumsi buah bagi sebagian orang sangat penting, bukan hanya enak tetapi banyak manfaat dalam kandungan buah tersebut. Untuk membeli buah memang tidak terlalu sulit. Banyak tempat yang menjual berbagai buah seperti di pasar swalayan dan pasar tradisional. Namun, untuk memilih buah yang matang diperlukan ketelitian tersendiri.

Teliti memilih buah yang sudah masak memang hal yang mudah, namun banyak buah yang tingkat kematangannya berkurang. Supaya tidak menyesal lantaran keliru dalam memilih buah yang memiliki tingkat kematangan sangat baik, tentunya harus bisa memahami beberapa trik untuk mengenal buah itu sendiri.

Salah satu yang harus diperhatikan dari penampilan buah yang matang biasanya akan terlihat dari warna ukuran, tekstur, rasa, serta aromanya.

Untuk beberapa jenis buah (apel, pisang, nanas, ceri dan tomat) perubahan warna merupakan salah satu indikasi tingkat kematangan buah yang baik. Dengan tingkat kematangan yang baik buah yang dihasilkan juga akan baik.

Tetapi ada sebagian buah yang tidak bisa dilihat dari tingkat warna, ini karena warna belum tentu menjadi petunjuk yang bisa diandalkan. Beberapa buah malah berubah menjadi matang dengan tidak menunjukkan perubahan warna sama sekali.

Aroma yang dikeluarkan buah juga bisa menjadi petunjuk tingkat kematangan buah tersebut. Buah yang matang juga memiliki tekstur yang lebih lembut sebagai tanda kematangannya. Remas kulit buah secara lembut untuk buah yang tidak bekulit tebal untuk melihat tingkat kematangannya.

Jika buah yang dibeli belum terlalu matang, sebaiknya gunakan proses pematangan buatan sendiri dengan menghangatkannya didekat ruangan yang banyak cahaya atau disimpan dalam kantong kertas dan ditutup dengan rapat.

Untuk menilai kematangan buah bisa dilihat dari berat buah tersebut. Dikarenakan buah yang sudah matang akan berasa berat berbeda dengan buah yang belum benar-benar matang. Namun, kita juga harus melihat banyak petani buah yang menggunakan pestisida secara berlebihan, ini karenakan untuk mempercepat proses kematangan.

Walaupun penggunaan residu pestisida dalam kadar yang rendah tidak berbahaya bagi anak–anak. Itu sebabnya, penggunaan senyawa pestisida di Indonesia untuk sayuran dan makanan sudah diatur tingkat residunya, sehingga aman bagi konsumen.

Sayangnya, masih banyak petani yang menggunakan pestisida secara irasional, yakni berlebihan dan tidak mengikuti standar, sehingga dikhawatirkan banyak produk pertanian Indonesia yang mengandung residu pestisida di atas ambang maksimum.

Sebaiknya. Kalau ditinjau dari sisi pencemaran zat-zat kimia, tentu bahan pangan organik lebih aman. Tapi harus diingat, bebas bahan kimia belum tentu aman. Misalnya, pemberian pupuk kandang yang disebarkan secara tidak terukur dan tidak terarah, bisa saja mencemari buah-buahan atau sayur-sayuran. Tanaman tersebut bisa kena bakteri E. coli dari pupuk kandang.