Tiga Negara Turunkan Pasokan Karet Dunia Hingga 15% - Kendalikan Harga

NERACA

Jakarta - Manajemen pasokan untuk kondisi perekonomian dunia sekarang ini sangat penting. Mengingat penyakit sebagai produsen karet terbesar adalah menjadi tidak kompak, dengan melakukan produksi besar-besaran di saat harga sedang tinggi, namun tidak mengantisipasi kondisi permintaan pasar dunia yang sedang menurun. Sehingga suplai yang berlebihan dapat mengakibatkan harga karet menjadi turun dari US$3,8-US$4 per kg menjadi US$2,6-US$2,8 per kg.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menjelaskan, tiga negara produsen karet alam dunia yang tergabung dalam kerja sama International Tripartite Rubber Council (ITRC), yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand akan mengendalikan ekspor dengan menurunkan pasokan yang besarnya kurang lebih sebesar angka penurunan permintaan, yaitu 5% hingga 15%.

“Turunnya permintaan kendaraan di China dan Eropa berimbas terhadap permintaan karet turun sekitar 7% hingga 11%. Kita turunkan pasokannya 5% hingga 15% dibandingkan dengan kondisi normal,” ujarnya di Kementerian Pedagangan, akhir pekan kemarin.

Dia mengilustrasikan, bahwa situasi ini tidak semudah membuka pintu terkunci dengan menggunakan kunci, dengan kemudian langsung terbuka pintunya. “Ini harus pandai-pandai mendapatkan supply dan demand yang pas. Kita akan terus memantau perkembangangnya, kalau permintaan sudah naik kembali, tentunya pasokan akan ditingkatkan lagi,” terangnya.

Selain itu, Bayu juga mengatakan, agar petani karet tidak perlu khawatir dengan kebijakan menurunkan pasokan yang artinya akan menurunkan produksi karet. Karena, hal ini merupakan upaya untuk menolong mereka. “Jadi petani karet kita perkirakan aktifitasnya tidak terganggu, mereka tetap bisa melakukan kegiatan penyadapan pohon karet seperti biasa, yang akan dikendalikan adalah dieskpornya. Jadi para industri masih akan tetap membeli dari petani, mungkin tidak berlebih, tapi normal saja,” lanjutnya.

Sesuaikan Pasokan

Di samping itu, pihaknya bersama dengan asosiasi akan menyesuaikan pasokan karet olahan yang terdiri dari crumb rubber dan rubber smoked sheet. Selama ini jenis crumb rubber jumlahnya mencapai 80% dari industri, sementara smoke sheet hanya 20%-nya. “Setelah diolah menjadi smoke sheet dan crumb rubber, maka bisa tahan 9 hingga 12 bulan di gudang. Itu mekanisme kita untuk meredam dan mengendalikan pasokan karet,” jelas Bayu.

Maka crumb yang disimpan ini, lanjut dia, akan dikeluarkan sesuai dengan permintaan. Jika kondisi seperri sekarang, crumb tersebut akan disimpan. Tapi sebaliknya, jika tinggi akan dikeluarkan. ”Kita akan sesuaikan dengan permintaan,” tukasnya. Menurut dia, harga karet alam dunia saat ini bagi Indonesia belum mengalami kerugian, selama harga tidak menyentuh di US$1 per kg.

“Harga karet alam saat ini US$3,5-US$4 per kg, tapi masih untung dibanding biaya yang US$1,7-US$2,5 per kg. Jadi kalau pun masih dibeli dengan harga itu, ya masih untung tipis lah. Kalalu di bawah itu ya, jangan sampai,” kata Bayu. Dia mengatakan anjloknya harga karet alam juga bukan pertama kalinya, tetapi sudah pernah terjadi sekitar tahun 2008 yang lalu. ITRC cukup berhasil menahan laju penurunan harga dengan mekanisme yang sama pada saat itu.

Tetapi sekarang, masing-masing anggota ITRC punya rumusan yang sedikit berbeda satu sama lainnya. Dikarenakan pada tahun ini bukan saja komoditas yang mengalami penurunan permintaaan, namun industri juga mengalaminya. “Kondisi shock seperti sekarang ini, kita punya pilihan penetapan harga periode tiga bulan atau enam bulan. Kita bersiap dengan keadaan darurat. Mudah-mudahan, tahun depan ekonomi bisa membaik,” jelas Bayu.

Diharapkan dengan mekanisme pasar yang sudah dirumuskan terkait dengan penurunan harga karet, Indonesia berusaha agar tidak terjadi praktik kartelisasi. Karena kalau mekanisme pasar menjadi liar, dan direspon pihak swasta, praktik kartel mungkin terjadi.

BERITA TERKAIT

MLJ Tawarkan Kupon Bunga Hingga 9% - Rilis Project Bond Rp 1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Dana pengembangan bisnis dan termasuk pelunasan investasi kredit, PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) melalui anak perusahaan,…

Bank Dunia Ingatkan Soal Investasi SDM

  NERACA Jakarta - Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim mengingatkan pentingnya investasi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mendukung…

2020, Tak Ada Lagi Mata Pelajaran Matematika Di Negara Ini

      Matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang menakutkan bagi siswa di Indonesia. Tinta merah acap kali tersemat…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Perdagangan Internasional - Kinerja Ekspor Non Migas Terkoreksi 6,09 Persen di September

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan kinerja ekspor Indonesia pada September 2017 sebesar 4,51 persen dari…

Kemudahan Impor Tujuan Ekspor - Kemenperin Beri Masukan Kebijakan KITE Bagi IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengusulkan beberapa langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan…

Tingkatkan Daya Saing - Standar Keamanan Produk Perluas Ekspor Mamin

NERACA Jakarta – Pengembangan inovasi dan penerapan standar keamanan produk mampu memacu daya saing industri makanan dan minuman (mamin) nasional…