Arogansi Bank Asing

Pameo yang dulu mengatakan: bank asing seperti Citibank adalah bank yang paling aman, atau pasti aman, kini tidak berlaku lagi. Merosotnya tingkat kepercayaan publik terhadap bank asing, justeru berasal dari bank selama ini dianggap sebagai bank yang patut dijadikan panutan semua bank nasional.

Bukan hanya itu. Pakar strategi pemasaran FEUI Prof. Dr. Rhenald Kasali setuju dengan penilaian bahwa Citibank kini telah berubah menjadi bank yang angkuh, sombong, justeru disebabkan “strong brand” yang mereka miliki selama ini.

Menurut dia, dalam jangka panjang dampak dari dua skandal yang membelit bank asing itu (kasus Melinda dan tewasnya Irzen Okta) setidaknya akan menimbulkan rasa antipati

terhadap korporasi besar tersebut dari kalangan pendidik dan penggiat civil society, seperti para aktivis HAM, pluralisme, persatuan bangsa, dan para social entrepreneur.

Bila Citibank dulu terkenal peka, kini terkesan lebih sibuk dengan urusan bisnis. Padahal, hampir semua bank sangat aktif mendukung kegiatan sosial yang dilakukan masyarakat. BNI agresif dengan kampanye green-nya, Mandiri mendukung kewirausahaan, serta CIMB-Niaga dan Danamon aktif mendukung pendidikan. Bahkan BCA, BTN, BJB, HSBC dan BTPN terbuka terhadap proyek-proyek sosial dari masyarakat.

Di mata kalangan aktivis sosial dan pendidik, sumbangan Citibank tidak terlihat secara

signifikan seperti bank lainnya. Dalam bidang jasa, apalagi jasa kepercayaan, mustahil strong brand dipertahankan hanya dengan teknologi dan servis. Karena keterlibatan karyawan dan manajemen perusahaan dalam perbuatan sosial signifikan dampaknya keluar dan ke dalam, serta mereduksi arogansi di kalangan internal.

Ketika arogansi membelenggu, strong brand mengabaikan sinyal kecil seperti itu sehingga kesaktiannya memudar. Lihat fakta betapa banyaknya nasabah kartu kredit mengeluh tentang perilaku debt collector yang mengancam hidup mereka melalui surat-surat pembaca di media massa.

Bank asing asal AS yang mulai beroperasi di Indonesia sejak 1968 itu bahkan terkenal dengan julukan “universitas” perbankan. Para bankirnya menjadi bibit unggul di industri perbankan dan mendapat julukan sebagai Citibankers.

Mereka adalah bankir-bankir berkemampuan tinggi seperti Robby Djohan, Roy E. Tirtadji, Abdulgani, Markus Permadi, Edwin Gerungan, Emirsyah Satar, Laksamana Sukardi, Jhon Rahman, Ralie Siregar, Henny Harjanto, Stanley S. Atmadja, dan Jerry Ng. Setelah hengkang dari Citibank, para Citibankers itu kemudian banyak yang menjadi orang penting di institusi papan atas.

Jadi, bukan kita yang mengatakan Citibank memang arogan, dan harus menanggung akibat dari sikap takaburnya itu, tetapi seorang pakar ekonomi sekelas Rhenald Kasali.

Bagaimanapun, manipulasi maupun kejahatan yang dilakukan oleh staf yang bekerja di dalam bank merupakan kejadian yang kerap terjadi di dunia perbankan. Karena secanggih apa pun sistem yang diterapkan oleh bank, tak berarti bank tersebut akan kebal dari kebobolan.

Kasus Citibank menggambarkan pepatah dalam dunia perbankan bahwa there is no control over perfect fraud, yang artinya perbankan tak mampu mencegah terjadinya sebuah upaya manipulasi yang “sempurna” dilakukan oleh orang dalam.

Related posts