Minim IPO, BUMN Ngotot Leading Market di Bursa

NERACA

Jakarta – Meskipun memasuki semester II-2012, belum ada satupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Namun pemerintah tetap yakin hampir seperempat kapitalisasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sumbangan dari perusahaan-perusahaan pelat merah, kendati BUMN yang tercatat di BEI hanya berjumlah 18 saja.

Deputi Menteri BUMN Bidang Privatisasi dan Perencanaan Strategi Pandu Djajanto mengatakan, sudah ada 18 BUMN yang IPO saat ini, dan BUMN masih merupakan leading market,, “Emiten BUMN masih menjadi leading market kapitalisasi pasar modal,”katanya di Jakarta, Kamis (23/8).

Kemudian menyinggung, BUMN yang masih minim IPO, menurut Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartanto karena BUMN dianggap takut dengan transparansi terutama dalam hal laporan keuangan.

Terlebih, kata Airlangga Hartanto hingga saat ini di sektor perkebunan belum ada satupun BUMN perkebunan yang melantai di Bursa. Padahal, seperti diketahui Indonesia merupakan rajanya perusahaan perkebunan. "Yang menjadi pernyataan, apakah pemerintah tidak transparan, atau menteri BUMN nya yang takut dengan Bapepam-LK," tegasnya.

Dia menambahkan, selama ini baru satu BUMN yang diajukan ke DPR untuk bisa IPO, yakni Semen Baturaja. Sementara untuk BUMN konstruksi seperti Waskita Karya harus restrukturisasi dan lain-lain. "Intinya, kalau hanya satu yang diajukan, kami (DPR) tidak bisa meloloskan beberapa perusahaan lainnya," tandasnya.

Tidak Mudah IPO

Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah mengatakan, tidak mudah memang melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) untuk BUMN karena banyak sekali hambatannya, “Banyak sekali hambatan BUMN dan semuanya terkait dengan perizinan, khususnya dari DPR,” katanya.

Meski sulit untuk mendapatkan perizinan, namun Dahlan tetap optimis dapat memperbanyak perusahaan BUMN untuk melakukan IPO di BEI. Saat ini, pihaknya masih memiliki rencana memperbanyak IPO di kalangan BUMN. Selain memudahkan untuk mendapatkan sumber pendanaan yang lebih murah, juga menghindari intervensi dari pihak luar dan mengembangkan pasar modal Indonesia.”Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak turun ke pasar modal. Khusus untuk Semen Baturaja dizinkan atau tidak, terserah saja,” tukas Dahlan.

Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito mengatakan hingga saat ini relatif masih sedikit perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mencatatkan saham (listing) di pasar modal atau go public. "Harapan saya seluruh perusahaan BUMN listed di bursa," tuturnya.

Menurut Ito di Malaysia saja seluruh perusahaan negara seluruhnya wajib masuk ke pasar modal. Tidak dipersoalkan apakah perusahaan itu sedang sakit atau tidak. Di Indonesia jumlah privatisasi yang dilakukan sejumlah perusahaan plat merah selama 18 tahun terakhir masih minim, yakni tak lebih dari 18 BUMN."Dengan banyak BUMN yang melantai di bursa dapat menambah kapitalisasi pasar dan memperbanyak pilihan-pilihan berinvestasi untuk investor, dengan menjadi perusahaan publik maka di samping perusahaan semakin transparan, asetnya juga meningkat tajam,” jelas Ito.

Seperti diketahui, perusahaan BUMN yang saat ini tercatat di BEI adalah PT Indofarma Tbk (INAF), dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dari sektor farmasi. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) dari sektor energi. PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dari sektor industri logam. PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), dan PT Wijaya Karya (WIKA) dari sektor konstruksi.

Kemudian PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dari sektor perbankan. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Timah Tbk (TINS) dari sektor tambang. PT Semen Gresik Tbk (SMGR) dari sektor industri semen. PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dari sektor sarana dan prasarana angkutan. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dari sektor telekomunikasi. (didi)

BERITA TERKAIT

BEI Masih Tagih Freeport Listing di Bursa

Meskipun isu divestasi saham PT Freeport Indonesia saat ini meredup dan tidak lagi menguak di pasar, namun hal tersebut tidak…

Sriboga Raturaya Bidik Dana US$ 150 Juta - Gelar IPO di Semester Satu 2018

NERACA Jakarta - Minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal cukup besar, kali ini datang dari pengelola jaringan resto…

Pasar IPO Tahun Depan Penuh Tantangan - Dihantui Pengetatan Likuiditas

NERACA Jakarta – Mendorong pertumbuhan kapitalisasi di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mengandalkan pertumbuhan jumlah emiten di…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

MCAS Bukukan Penjualan Rp 1,1 Triliun

PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) sepanjang sebelas bulan pertama tahun ini mengantongi angka penjualan sebesar Rp1,1 triliun atau meningkat…

Generali Meriahkan Insurance Festival 2017

Sebagai wujud dukungan terhadap program pemerintah dalam meningkatkan literasi dan inkluasi keuangan, Generali Indonesia turut meramaikan Insurance Festival 2017 yang…

WTON Targetkan Pendapatan Tumbuh 20%

Optimisme tahun depan akan jauh lebih baik kondisi perekonomian dalam negeri, memacu PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) menargetkan pertumbuhan…