Harga Timah Remuk, Puluhan Smelter Ditutup

NERACA

Jakarta – Harga timah di pasar komoditas internasional selama tiga bulan terakhir mengalami penurunan tajam. Hal ini tentu saja mempengaruhi industri timah dalam negeri. Dari penurunan harga komoditas di pasar internasional mengakibatkan industri timah nasional mengurangi produksi hingga 70% menyusul beban pasar yang begitu besar.

Ketua Umum Asosiasi Tambang Timah Indonesia (ATTI), Hidayat Arsani, mengatakan, pengurangan produksi industri timah Indonesia akan berpengaruh terhadap pasokan timah global. Sebab Indonesia merupakan salah satu eksportir timah terbesar di dunia.

Data dari ATTI memperkirakan produsen timah di Provinsi Bangka-Belitung telah menutup 24 dari 28 pabrik peleburan (smelter) timah. Sejumlah tempat peleburan timah di Indonesia, yang memberikan kontribusi 40% bagi ekspor global mulai ditutup bulan ini. Berdasarkan analisa perusahaan Inggris, St.Albans, penutupan dapat mengurangi produksi timah nasional sekitar 14% pada 2012. Para pengamat memperkirakan akan terjadi defisit pasokan timah pada 2013. "Sebagian smelter sudah ditutup," ujar Hidayat, kemarin.

Menurut dia, penutupan ini akibat harga jual timah di pasar internasional akhir-akhir ini tidak mampu menutup biaya produksi. Sebab Idealnya, harga timah per ton antara U$$ 21 ribu atau US$ 22 ribu. Saat ini harga timah di kisaran US$ 18.500 per ton. "Jika produksi dalam jumlah tinggi berlanjut, kami tidak bisa bekerja lagi, selanjutnya harga nikel merosot," lanjut Hidayat.

Penurunan harga timah sejalan dengan menurunnya permintaan komoditas itu sebesar 32%. Penurunan sejalan melemahnya permintaan timah dari Amerika Serikat dan China. Kedua negara itu mengurangi konsumsi timah karena mengurangi produksi kaleng maupun sebagai bahan baku komponen televisi dan telepon pintar.

Penjualan Meningkat

Salah satu produsen timah nasional, PT Timah (Persero) Tbk memproyeksikan penjualannya meningkat 8% menjadi Rp 968,14 miliar tahun ini. Namun pada 2013, penjualan perseroan diperkirakan mengalami penurunan sebesar 12%, sehingga pendapatan bersih menjadi senilai Rp 852,8 miliar. Menurut Direktur Utama PT Timah, Sukrisno, perusahaan akan mengurangi penjualan timah di pasar spot mulai tahun ini.

Sementara itu, Azhar Romli, anggota Komisi II DPR dapil Bangka Belitung (provinsi yang menjadi kedudukan kantor pusat PT Timah) mengungkapkan sejauh ini sebagai perusahaan eksportir komuditas timah terbesar pertama di dunia, PT Timah memiliki 12 jenis produk hilir. Yang menjadi andalannya adalah industri Tin Solder dan Tin Chemical. Jumlah ini masih kecil dibandingkan dengan jumlah produk hilir Cina, sebagai negara penghasil timah terbesar dunia, kurang lebih 40-an jenis. "Satu perusahaan rata-rata mendirikan pabrik di 2-5 negara. Dilingkup ASEAN, mereka mendirikannya di Singapura, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Vietnam," ungkapnya.

Lebih jauh lagi Azhar memaparkan di China, merujuk data Assosiasi Solder Indonesia (2011) ada sekitar 500 lebih pabrik solder yang beroperasi. Baik pabrik skala besar maupun kecil; atau perusahaan solder asing maupun lokal. Di Indonesia, jumlahnya tak sampai 30-an pabrik. Karena itulah, Azhar Romli berharap agar pemerintah pusat dan segenap kelompok masyarakat Bangka Belitung, mendukung PT Timah mengembangkan industri hilir komuditas timah yang sudah ada itu. Bahkan, ia menyarankan agar PT Timah membuka diri untuk sharing gagasan, membangun kemitraan dan investasi dalam mengembangkan industri hilir ini.

Dukungan pemerintah pusat terutama dalam hal perangkat teknologi dan SDM amat penting jika ingin industeri hilir timah Indonesia bergeliat. Sebab, dua hal itulah yang merupakan keterbatasan yang diakui oleh PT Timah dalam mengembangkan industri hilir tersebut. Kebijakan pemerintah pusat dalam memfasilitasi keikutsertaan PT Timah dalam sejumlah even MICE (meetings, incentives, conferences, and exhibitions) skala internasional sebagai ajang promosi sekaligus menjaring pasar strategis, juga tak bisa diabaikan.

"Sebab, menurut saya, percepatan pertumbuhan industri hilir timah di Indonesia, secara trasenden akan dapat dicapai kalau ada kemauan pemerintah dalam mengoptimalkan dan merebut peluang ekonomis industri hilir komuditas timah yang sudah ada ini," papar Azhar.

BERITA TERKAIT

PT Timah Bikin Perusahaan Patungan - Eksplorasi Tambang di Nigeria

NERACA Jakarta – Kembangkan ekspansi bisnis di luar negeri, PT Timah Tbk membentuk perusahaan patungan bersama perusahaan asal Nigeria, Topwide…

Polres Sukabumi Awasi Persediaan dan Harga Pangan

Polres Sukabumi Awasi Persediaan dan Harga Pangan NERACA Sukabumi - Polres Sukabumi, Jawa Barat mengawasi persediaan dan harga pangan di…

BIPI Raup Cuan di Infrastruktur Tambang - Tren Kenaikan Harga Batu Bara

NERACA Jakarta –Keyakinan membaiknya harga batu bara di tahun depan, mendorong PT Benakat Integra Tbk (BIPI) menggenjot pendapatan dari bisnis…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Indonesia-Tanzania Tingkatkan Relasi Perdagangan

NERACA Jakarta – Dubes RI untuk Tanzania Ratlan Pardede melakukan pertemuan dengan Presiden Zanzibar Ali Mohamed Shein pada Jumat (24/11)…

Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok Terus Dijaga

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan berupaya menjaga stabilitas harga dan pasokan barang kebutuhan pokok (Bapok) menghadapi Hari Besar Keagamaam Nasional…

Dunia Usaha - HIMKI Tentang Wacana Dibukanya Kran Ekspor Log dan Bahan Baku Rotan

NERACA Jakarta - Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soenoto mengatakan sampai saat ini masih ada pihak-pihak yang…